Dalam setiap kekuatan, ada kelemahan.
Dalam setiap ketakutan, ada keberanian.
Dalam setiap kebaikan, ada keburukan.
Dan dalam setiap cahaya, ada bayangan.
******
Tekad Kia untuk mengungkap kematian ayahnya yang terasa janggal semakin kuat. Saat i...
Dalam setiap kekuatan, ada kelemahan. Dalam setiap ketakutan, ada keberanian. Dalam setiap kebaikan, ada keburukan. Dan dalam setiap cahaya, ada bayangan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Di tepi jalan yang mulai sepi menjelang senja, Satria duduk di atas motor sport-nya yang gagah. Helmnya sudah dilepas dan digantung di spion, membiarkan angin sore meniup rambutnya yang sedikit berantakan. Matanya terus menatap layar ponsel yang digenggam erat, menunggu sebuah nama muncul, atau setidaknya bunyi dering balasan.
Namun tak ada. Hanya ada layar hitam yang kembali gelap dan refleksi dirinya sendiri yang memantul di permukaan.
“Kiara... Lo masih di mana sih lama banget!” ucap Satria dengan nada rendah. Ada rasa gelisah juga.
Ia menekan ulang nomor yang sama. Suara nada sambung terdengar, lalu berhenti. Tak diangkat.
“Angkat buruan! Pokoknya, dalam hitungan ketiga lo harus udah muncul depannya gue...” Satria berdialog dengan Kia dalam bentuk imajinasi. “Satu, dua, tig-”
“Kak Satria!” teriak Kia sambil berlari hingga sebelum kata terakhir Satria terucap sempurna, gadis itu langsung menyenderkan tangan pada kepala motor Satria.
Gadis itu menunduk sambil mengatur napas yang masih terasa sesak, terlihat ia sangat kelelahan setelah berlari dari atas gedung lantai dua menuju gerbang dengan jarak 100 meter, dan dilanjutkan berlari menuju sebuah gang kecil tempat Satria kini menunggu dengan jarak 100 meter pula dari gerbang.
“Lama banget sih, lo!” ketus Satria yang sebetulnya ingin sekali menertawakan namun ia tahan karena tetap ingin menjaga image-nya sebagai “Ice Prince”.
“Bel sekolah bunyi aja baru tiga menit lalu, lagian saya juga harus ngalihin perhatian Kiran dulu supaya gak curiga kalau hari ini saya gak bawa motor dan malah nyamperin Kakak ke sini.” Kia dapat berbicara normal setelah pernapasannya sedikit stabil.
“Kiran? Emangnya kenapa?”
“Atuh kan si Kiran teh suka sama Kak Satria, kalau dia tahu bahwa saya mau di boncengin Kak Satria lagi, yang ada nanti Kiran marah lagi sama saya.”
“Oh...” Satria mengangguk pelan dengan satu alis yang terangkat tinggi. “Eh, lo jangan ngomong pake kata ‘saya' kek, berasa terhormat banget gue... Ya, emang sih gue dihormati anak-anak buah gue, tapi panggilan itu berasa hormat ke orang tua, tau!”
“Terus harus pake kata apa?” Kia menatap dengan penuh kebingungan.
“Ya... ‘lo-gue'? Biar keren.” Satria menggerakkan kedua alisnya berulang-ulang.
Kia menatap heran, dahinya mengerut dan kepalanya sedikit memundur. “Ih, gak mau, gak nyaman. Soalnya belum pernah.”
Satria menghela napas kasar, lalu menghempaskan tangan di udara, “bodo ah, terserah lo!” Pria itu langsung mengenakan pelindung kepalanya. “Buruan naik!”