Dalam setiap kekuatan, ada kelemahan.
Dalam setiap ketakutan, ada keberanian.
Dalam setiap kebaikan, ada keburukan.
Dan dalam setiap cahaya, ada bayangan.
******
Tekad Kia untuk mengungkap kematian ayahnya yang terasa janggal semakin kuat. Saat i...
Dalam setiap kekuatan, ada kelemahan. Dalam setiap ketakutan, ada keberanian. Dalam setiap kebaikan, ada keburukan. Dan dalam setiap cahaya, ada bayangan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Di pojok warung kopi, empat orang siswa tengah berkumpul sambil menikmati kopi serta gorengan hangat yang tersaji pada sebuah nampan berukuran cukup besar. Mereka adalah anggota geng Alaska yang sedang menunggu kedatangan Satria yang dikabarkan akan bersekolah hari ini namun akan tiba pada waktu yang sedikit terlambat.
“Satria masih lama? Kayaknya bel masuk udah bunyi, deh,” ujar Rey sambil melirik pada arloji yang melingkar di lengannya.
“Santai aja, bro. Hari ini Pak Wawan gak masuk. Bisa dipastikan jam pertama free class, jadi kita bisa habisin kopi dan gorengan ini tanpa harus buru-buru. Soalnya masih panas banget... buset,” ucap Edo dengan satu tangan memegang gorengan, tangan lainnya memegang lontong, sedangkan mulutnya penuh dengan gorengan yang ia lahap dua biji sekaligus.
“Ngomong lo tuh, ‘ngang ngong ngang ngong’. Telen dulu, baru ngomong!” Juan menyuapkan satu biji gorengan lagi ke dalam mulut Edo secara paksa.
"Buset... Gak ada sopan-sopannya ya lo sama wakil ketua Alaska, biarin aja kagak gue bayarin sarapan lo hari ini." Ucap Edo yang suaranya semakin samar terdengar karena jumlah kunyahan dalam mulutnya semakin banyak.
"Yaelah, sok tajir bener lo." Cibir Riko, "lo masuk minimarket aja ada tulisan dipintu tarik malah lu dorong, naik tangga eskalator aja ngejengkang mulu kan lo?" Tawa Riko pecah disambut oleh Juan yang memang sama-sama sangat hobi dalam mencibir Edo.
Tak lama berselang, Satria muncul dengan motor sport yang terlihat tidak mengkilat dari biasanya, ada beberapa kotoran tanah yang menempel pada badan motor itu serta sedikit goresan pada bagian depannya.
Rey langsung bergerak menemui Satria, disusul Juan dan Riko di belakang, sedangkan Edo masih kerepotan menyelesaikan kunyahannya lalu langsung meneguk air minum hingga satu gelas penuh.
“Muka lo kenapa Sat?” tanya Rey cemas.
“Jangan bilang kemarin lo di serang Bruiser?” tebak Juan.
“Lo kenapa gak kabarin kita sih, Sat? Mereka mau balas dendam soal Vano yang masih kritis di rumah sakit?” cakap Riko yang tak kalah merasa khawatir.
“Gak apa-apa. Gak ada hubungannya sama waktu itu,” papar Satria. Ia melengos, duduk di sebelah Edo.
Setelah menelan kunyahan, Edo menyapa, “pagi, bos!”
“Kebetulan gue belum sarapan.” Satria mengambil satu buah gorengan dan langsung menyantapnya, “kopi item satu lagi, Bu,” teriaknya pada pemilik warung kopi itu.