Dalam setiap kekuatan, ada kelemahan.
Dalam setiap ketakutan, ada keberanian.
Dalam setiap kebaikan, ada keburukan.
Dan dalam setiap cahaya, ada bayangan.
******
Tekad Kia untuk mengungkap kematian ayahnya yang terasa janggal semakin kuat. Saat i...
Dalam setiap kekuatan, ada kelemahan. Dalam setiap ketakutan, ada keberanian. Dalam setiap kebaikan, ada keburukan. Dan dalam setiap cahaya, ada bayangan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Dengan langkah yang tergesa-gesa, Haris menelusuri lorong rumah sakit. Situasi yang pelik membuatnya amat panik. Pria paruh baya itu mencari sebuah ruangan yang sudah diberi tahu oleh Satria melalui sambungan telepon. Langkahnya yang cepat akibat sebuah kekhawatiran setelah mendapat kabar bahwa istrinya kembali meluapkan amarah, namun juga perasaan itu diiringi dengan bahagia karena ia mengetahui sebuah fakta bahwa ingatan Rena kembali pulih dan sikapnya kembali menjadi orang normal tanpa gangguan kejiwaan.
“Satria... Mama di mana?” tanya Haris saat ia menghampiri Satria dan Kia yang sedang duduk di ruang tunggu keluarga pasien.
“Mama masih di ruang observasi, Pa. Dokter melakukan pemeriksaan lanjut karena perubahan sikap mama,” jelas Satria dengan gemetar.
Untuk menenangkan Satria, Kia menggenggam tangan sejawatnya itu dengan erat. “Sore, Om,” sapa Kia takzim seraya memamerkan susunan gigi. Gadis itu menganggukkan kepala pelan lalu meraih tangan Haris dan mencium punggung tangannya.
“Sore, Kiara.” Haris tersenyum tipis ke arah gadis itu.
“Apa yang terjadi Satria? Apa yang bikin ingatan mama kamu kembali lagi? Dan Mama bersikap normal bahkan sudah bisa membuat sketsa wajah dengan sempurna?”
“Mama udah ingat aku, Pa. Dia udah sadar kalau selama ini aku yang selalu datang mengunjungi Mama, tapi Mama selalu ketakutan kalau lihat aku.”
Dahi Haris berkerut. Belum bisa mencerna kalimat anak semata wayangnya itu. “Kenapa tiba-tiba?”
Satria terdiam, lalu ia melirik ke arah Kia perlahan sebagai isyarat jawaban dari pertanyaan dari papanya.
Pandangan Haris turut bergerak mengikuti arahan Satria. Ia sadar betul hal ini pasti atas upaya yang dilakukan oleh putri mendiang sahabatnya itu. Tidak salah selama ini ia memang amat menantikan pertemuan kedua anak remaja itu agar segera mengakrabkan diri, namun sayangnya hal ini terjadi setelah sang sahabat telah pergi tanpa menyaksikan sebuah momen yang selama ini mereka rencanakan demi masa depan anak-anak mereka.
“Terima kasih ya, Kia,” ucap Haris.
Kia mengerjap, lalu pandangannya bergerak bergantian ke arah Satria lalu Haris, “ini bukan karena aku kok, Om, aku gak berbuat apa-apa.”
Netra Haris tak sengaja melirik pada foto di belakang punggung Satria. Perlahan senyumnya bermekar. Tangannya terjulur, segera mengambilnya perlahan lalu mengusap lembut pada kaca bingkai itu.
“Bahkan Om dan Satria aja selama ini gak sampai mikir ke situ. Ternyata dengan Tante Rena kembali ingat Satria, semua ingatannya langsung pulih lagi. Sekali lagi, terima kasih ya, Kiara.”