Dalam setiap kekuatan, ada kelemahan.
Dalam setiap ketakutan, ada keberanian.
Dalam setiap kebaikan, ada keburukan.
Dan dalam setiap cahaya, ada bayangan.
******
Tekad Kia untuk mengungkap kematian ayahnya yang terasa janggal semakin kuat. Saat i...
Dalam setiap kekuatan, ada kelemahan. Dalam setiap ketakutan, ada keberanian. Dalam setiap kebaikan, ada keburukan. Dan dalam setiap cahaya, ada bayangan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Di sebuah kafe yang terletak di tengah-tengah kota, Satria dan Kiara duduk pada sebuah kursi yang terletak di posisi paling belakang. Mereka memilih tempat yang tidak terlalu mencolok dari publik agar tidak ada orang lain yang melihat kebersamaan keduanya, terlebih salah satu siswa Wiramandala.
Aroma sedap yang menyeruak dari secangkir kopi americano yang masih mengepulkan asap, serta satu gelas es cappucino segar ditemani dua porsi roti panggang dengan selai coklat dan vanila cukup menemani kedua remaja itu dalam berfikir serta berbicara dengan serius mengenai hal yang saat ingin sedang mereka bahas.
"Jadi, apa yang lo denger dari omongan Tante Vanya?" Satria membuka suara, dalam penyelidikan ini.
Kia mulai memainkan ponselnya, ia memilih salah satu rekaman yang sengaja ia pisahkan karena menurutnya percakapan yang tertangkap sangat penting.
"ini, Kakak dengerin aja sendiri." Gadis itu memakaikan headset pada telinga Satria.
"Selamat malam, Mister Loki," sapa seseorang yang terdengar dari headset itu. "Saya mau mengabarkan bahwa termin lima sudah saya transfer, satu miliyar rupiah. Dan semua pembayaran dari orderan pertama saya sudah selesai. Saya minta pelaku pembunuhan suami saya sementara ini diasingkan, serta satu lagi yang berada di rumah sakit. Keduanya harus ditempatkan pada sebuah tempat yang jauh dari jangkauan siapa pun, karena saya dengar anak dari istri kedua suami saya sudah berani menemui dia di kantor polisi. Atur rencana seolah-olah mereka dipindahkan lapasnya supaya tidak ada yang curiga."
"Selanjutnya saya akan transfer lagi setelah kesepakatan orderan kedua saya, saya mau rencana ini kembali selesai serapi mungkin tanpa meninggalkan jejak."
"Baik, Terima kasih. Senang bekerja sama dengan Anda."
Satria melepaskan headset itu lalu melirik ke arah Kia dengan tatapan yang dalam, "Mister Loki?"
"Iya, Kak. kayaknya orang itu yang udah bantu Tante Vanya untuk menjalankan misi pembunuhan Ayah. Kurang lebihnya dia yang suruh kedua penjahat itu, tapi aku masih bingung dia siapa? Dan apa yang dia lakukan pada pekerjaannya sampai dia dibayar satu miliar sebanyak lima kali. Pantes aja penjahat itu nolak Ayah beri uang satu miliar, ternyata mereka dibayar lebih besar sama Tante Vanya."
"Tapi yang bunuh Om Anton itu anak buah Ramon. Apa mungkin di atas Ramon masih ada yang berkuasa? Setahu gue cuma dia leader-nya."
"Mungkin Mister Loki itu teh bukan anggota gengster, tapi dia ada di balik layar pembunuhan itu. Bisa di bilang dia cuma kasih perintah dan anak buah Ramon yang eksekusi, sisanya dia yang beresin semua sampai mereka tidak diberatkan oleh hukuman pidana."