Bab 58 - Monster

25 2 0
                                        

Dalam setiap kekuatan, ada kelemahan.
Dalam setiap ketakutan, ada keberanian.
Dalam setiap kebaikan, ada keburukan.
Dan dalam setiap cahaya, ada bayangan.

 Dan dalam setiap cahaya, ada bayangan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹

"Kita bertemu kembali, Tuan Widiantoro," sapa Dewa dengan suara yang rendah namun penuh tekanan, matanya sedikit menyipit dengan garis bibir kanan yang sedikit terangkat. Ia mencondongkan kepala ke depan, netranya terbuka lebar tersorot ancaman yang nyata, bukan penyesalan.

Ruangan itu sempit dan pengap, terperangkap dalam bau anyir pembersih lantai yang murah. Dinding beton berwarna hijau keruh itu kosong, kecuali sebuah cermin dua arah yang memantulkan bayangan dua lelaki yang terkunci dalam sebuah drama yang mematikan.

Di satu sisi meja logam yang dingin, tempat Dewa duduk. Tangannya terborgol, namun matanya yang menghitam adalah senjata yang jauh lebih berbahaya. Sorotannya penuh dengan racun dendam yang telah disimpannya selama bertahun-tahun, membara seperti bara dalam sekam.

Berseberangan dengannya, Haris Setiawan Widiantoro, seorang lelaki berusia empat puluh tahun dengan kemeja yang mulai lembab oleh keringat serta noda hitam yang berasal dari asap sisa kebakaran gedung rumah sakit. Wajahnya memerah oleh campuran amarah dan kesedihan yang tak tertahankan, namun juga disertai kebingungan atas tuduhan yang dinyatakan oleh pria muda di hadapannya, "jadi kamu belum menyerah? Kamu masih anggap saya pembunuh kedua orang tua kamu?"

"Anda pikir saya akan menyerah? Anda pikir karena uang dan kuasa, Anda bisa seenaknya lepasin tanggung jawab? Tidak semudah itu!" sengit Dewa, suaranya parau dan rendah, lebih mirip dengkuran anjing penjaga daripada ucapan manusia. "Sekarang kedudukan kita sama, kekuasaan kita setara, dan saya lebih memilih menukar dua nyawa keluarga yang Anda cintai dengan kedua nyawa orang tua saya, dibanding harus menyeret Anda ke hukum, karena hukuman tahanan tidak akan cukup untuk memuaskan saya. Jadi, sekarang kita impas."

Haris menatap tajam dengan kepala yang dimiringkan, "apa maksud kamu?!"

"Bayi yang ada di kandungan istri Anda tidak selamat, itu karena campur tangan saya dengan nyonya Vanya Aurelia. Kami menunjuk salah satu pesuruh untuk menyamar sebagai dokter kandungan untuk memberikan obat penghancur kandungan."

Tangan Haris mengepal kuat, lalu ia membanting tangannya di atas meja. "Kurang ajar!"

"Calm down, Mister Widiantoro..." Dewa menyunggingkan senyum sinis yang membuat ruangan terasa semakin dingin. "Jadi sekarang sudah impas, bukan? Silakan Anda sakiti saya, di sana ada anggota polisi yang mengamati, dan mungkin setelah ini bukan hanya saya yang ditunjuk sebagai pelaku kejahatan. Lagi pula jika saya mati pun, saya akan mati dengan tenang. Karena saya sudah berhasil menghilangkan dua nyawa putra anda sebagaimana Anda menghilangkan nyawa kedua orang tua saya."

"Kamu sudah gila! Gila!" teriak Haris. Ia bangkit dari kursinya sebelum seorang polisi di sudut ruangan memberi isyarat agar dia duduk. "Sudah saya katakan berulang kali, saya tidak pernah menabrak orang tua kamu, bahkan di hari kejadian saya sedang berada di luar kota."

ANTITESIS [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang