Bab 55 - Kabar buruk

107 11 0
                                        

Dalam setiap kekuatan, ada kelemahan.
Dalam setiap ketakutan, ada keberanian.
Dalam setiap kebaikan, ada keburukan.
Dan dalam setiap cahaya, ada bayangan.

 Dan dalam setiap cahaya, ada bayangan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹

Suasana siang ini sama sekali tidak seperti biasanya. Udara yang biasanya diisi oleh aroma kopi dan menu makan siang, kini masih menyisakan bau asap dan debu yang menyengat. Di seberang jalan, sebuah bangunan yang beberapa jam lalu luluh lantah akibat ledakan hebat kini menjadi pusat perhatian. Reruntuhannya bagai raksasa yang terbaring tak berdaya, memuntahkan kisah pilu lewat setiap besi yang melintir dan beton yang remuk.

Lokasi yang biasanya sepi kini berubah menjadi arena keramaian yang hiruk-pikuk. Suara gemuruh telah berganti menjadi dengung suara manusia yang penasaran. Puluhan warga dari sekitar lokasi memadati tepi garis polisi yang membatasi area bencana. Mereka berkerumun, berdiri berjejal, dengan mata yang sama-sama menerawang penuh tanda tanya. Ada yang hanya bisa menggeleng pelan, berbisik-bisik dengan tetangganya, mencocok-cocokkan ingatan tentang bagaimana bangunan itu berdiri gagah kemarin sore. Seorang ibu dengan wajah lengkap dengan kekhawatiran memeluk erat bahu anaknya yang masih kecil, sambil menjelaskan dengan suara lirih tentang "suara petir yang sangat keras".

Tidak ketinggalan, para wartawan dengan jaket bertuliskan nama media besar dan kecil sibuk berlalu-lalang. Mereka bagai pemburu yang gesit, mencari angle terbaik. Sorotan lampu kamera TV tiba-tiba menyala, menerangi wajah seorang petugas polisi yang sedang memberi pengarahan, sementara reporter dengan mikrofon di tangan melaporkan langsung dengan suara tegas dan berintonasi, mencoba menerjemahkan chaos ini menjadi kalimat yang mudah dicerna para pemirsa di rumah. Jari-jari reporter lain sibuk menari di atas layar ponsel, mengirim update berita terbaru atau siaran langsung untuk media online.

"Melaporkan dari tempat kejadian perkara, sebuah gedung rumah sakit yang sudah tidak digunakan kurang lebih 15 tahun di wilayah pesisir kota habis dilahap si jago merah. Diduga penyebabnya dari ledakan bom waktu yang sengaja pelaku letakan untuk menjebak korban. Lima unit pemadam kebakaran sudah dikerahkan, hingga hampir enam jam api baru berhasil dipadamkan. Saat ini polisi sudah mengantongi bukti serpihan barang-barang milik diduga korban bernama Satria Adi Widiantoro berupa jaket kulit berwarna hitam serta sebuah ponsel, korban merupakan putra tinggal dari pemilik W&K Group yaitu Haris Setiawan Widiantoro dan salah satu murid SMA Wiramandala," papar seorang wartawan yang menyampaikan berita di depan juru kamera yang menayangkan hasil rekamannya pada siaran langsung di sebuah stasiun televisi nasional.

Bukan hanya satu, bahkan lebih dari sepuluh wartawan stasiun televisi yang berbeda berada di depan halaman gedung rumah sakit yang telah terbakar itu. Mereka berbondong-bondong menghampiri tempat itu demi mencari sebuah informasi yang sangat penting, tentang sebuah kejahatan yang menyebabkan hilangnya nyawa seseorang, terlebih putra dari seorang pengusaha ternama yang pastinya sering muncul di layar kaca.

ANTITESIS [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang