Bab 23 - Ide gila 2

101 31 0
                                        

Dalam setiap kekuatan, ada kelemahan.
Dalam setiap ketakutan, ada keberanian.
Dalam setiap kebaikan, ada keburukan.
Dan dalam setiap cahaya, ada bayangan.

 Dan dalam setiap cahaya, ada bayangan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹

Kia menatap mata Haris dalam-dalam, setelah ia memberi kesempatan pria itu menjelaskan sebuah kebenaran yang terjadi agar hubungannya dengan sang putra kembali membaik. Juga karena ia menginginkan informasi lebih mendalam mengenai hubungan pria itu dengan mendiang ayahnya, karena kemungkinan informasi itu akan sangat membantunya dalam memecahkan kasus yang tengah ia selidiki.

"Papa memang dekat dengan Tante Vanya, itu karena kami sering mengadakan pertemuan penting, entah itu masalah pekerjaan, atau mungkin obrolan santai tentang keluarga. Mama kamu pernah ikut sekali, dan kebetulan pada saat itu Vanya tidak ikut hadir. Jadi, mama kamu belum kenal dekat dengan Vanya. Dan pertemuan selanjutnya malah mama kamu yang tidak bisa hadir karena sibuk urus nenek kamu yang waktu itu sakit sebelum beliau wafat,” ungkap Haris dengan suara tenang.

Satria terdiam, matanya bertaut dengan cangkir kopinya yang kosong.

“Dan semua foto yang kamu punya itu terjadi ketika pertemuan penting soal proyek pembangunan cabang mall kita yang di Palembang, karena saat itu Anton menjadi salah satu investornya. Saat itu Anton tidak bisa hadir karena ada urusan lain yang sama pentingnya, awalnya Papa memberi saran untuk menunda pertemuan kami ini. Tapi tiba-tiba saja Vanya memaksa untuk tetap melaksanakan pertemuan itu walaupun tanpa kehadiran Anton. Dan saat itu mama kamu tiba-tiba datang sambil marah-marah, dia nuduh Papa selingkuh di hadapan semua orang yang ada di restoran itu. Saat itu Papa marah sama Mama bukan karena benci, tapi Papa malu karena tingkah mama kamu yang berlebihan di depan banyak orang di sana yang notabenenya bukan orang sembarangan.”

Berbeda dengan Satria yang acuh tak acuh, Kia begitu antusias mendengar penuturan Haris.

“Papa tahu Mama seperti itu karena faktor hormon kehamilannya. Tapi Papa rasa itu sangat keterlaluan. Dan soal foto-foto itu, Papa juga gak ngerti kenapa angle fotonya terlihat bahwa Papa dan Vanya seperti memiliki hubungan yang sangat dekat. Padahal kejadian dalam foto itu ketika Papa mengadakan pertemuan bertiga, saat itu ada Anton juga, tapi ada kalanya tiba-tiba Anton pergi ke toilet atau pergi keluar untuk menerima telepon dari orang lain. Jadi seakan-akan papa hanya makan siang bersama berdua dengan Vanya."

"Saat Ayah lagi keluar atau ke toilet, apa tingkah Tante Vanya terlihat mencurigakan ke Om?" tanya Kia dengan hati-hati.

"Ya, setiap kali Ayah kamu tidak ada, sikap Vanya tiba-tiba berubah, dia berbicara sedikit manja seolah-olah meminta perhatian lebih dari saya, tapi saya tidak terlalu menanggapi hal itu karena tidak sedikit pun terbesit dalam benak saya untuk bermain api dengan istri sahabat saya sendiri," balas Haris.

Kia menelan ludah sebelum melanjutkan pertanyaan. "Maaf jika pertanyaan aku kali ini kurang sopan, tapi apa Om dan Tante Vanya sering saling berhubungan lewat telepon atau chat pribadi yang membahas hal lain selain bisnis?"

ANTITESIS [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang