Bab 39 - patah hati

90 15 0
                                        

Dalam setiap kekuatan, ada kelemahan.
Dalam setiap ketakutan, ada keberanian.
Dalam setiap kebaikan, ada keburukan.
Dan dalam setiap cahaya, ada bayangan.

 Dan dalam setiap cahaya, ada bayangan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹

Bel pertanda berakhirnya kelas berbunyi nyaring, seluruh murid di masing-masing kelas berhamburan keluar setelah selesai merapikan alat tulisnya. Ada yang langsung berlari sambil saling melontarkan candaan bersama temannya, ada juga yang memilih santai dan tidak terlalu terburu-buru agar tidak berdesakan dengan yang lainnya.

Begitu pula dengan kelima anggota geng Alaska, seperti biasa hanya Satria dan Rey yang berjalan perlahan untuk menikmati momen. Sedangkan Juan dan Riko tak pernah merasa bosan dalam hal menjahili Edo sampai terus menerus menepuk-nepuk hingga mencubit perut buncitnya.

"Kata gue mah, Do. Mending lu kurang-kurangin deh porsi makan lu, makin hari makin buncit aja, berat badan lo tiap bulan juga pasti naik lima kilo, kan? Kalau gini caranya, gimana Feli mau naksir sama lo," celetuk Juan usil, lengannya mengait pada leher Edo.

"Lo tahu gak? Kalau lo berdiri deket Feli, yang ada orang pada ngira kartun Marsha and the Bear keluar dari layar TV. Lo tahu kan si Feli badannya mungil banget? Eh elo malah kayak gentong peninggalan engkong gue bentukannya," ucap Riko menambahi.

"Justru cowok kayak gue langka, Men." Edo membusungkan dada dengan meletakkan tangan pada pinggang, "di Wiramandala cowok imut kayak gue limited edition, kagak ada dua-tiganya. Soalnya itu mah pantun Jarjit."

"Sadar boy sadar. Cewek modelan Feli itu nyarinya cowok yang sempurna, sedangkan elo? Leher aja kagak punya, lambung rusak, vertigo, darah rendah, mata kabur, usus buntu, sesak napas, nyawa aja tinggal separuh. Apa yang Feli harepin dari elu, Kasno!" Juan berucap sambil menghitung jarinya saat menyebutkan segala macam penyakit itu.

"Sialan lo!" Edo berhasil menyiku perut Juan dengan cukup keras, "emangnya gue lagi sekarat, apa!"

"Buset, jahat bener lo. Lambung gue udah kayak rumah kosong udah dua tahun gak ada yang nempatin malah lo pukul," kata Juan meringis.

Saat ketiga pria itu terus saja berisik akan candaannya, Rey hanya tersenyum tipis sambil menggelengkan kepala pelan. Sedangkan Satria tetap fokus berjalan dengan pandangan lurus ke arah depan.

Namun pada saat mereka keluar dari gedung sekolah dan hendak berjalan menuju tempat parkir kendaraan, tiba-tiba saja langkah Satria terhenti saat ia melihat Kiara yang kembali tengah berbincang dengan Dewa dekat pintu gerbang. Dari gelagatnya, Satria berkesimpulan bahwa Dewa sedang menawarkan tumpangan agar Kia dapat pergi bersamanya, karena sebetulnya memang ini juga salah satu rencana dari mereka yang mengharuskan Kia pergi bersama Dewa. Karena alasan itu pula membuat hari ini Kia sengaja tidak membawa kendaraan motornya ke sekolah dan menaiki kendaraan umum saat berangkat tadi pagi.

ANTITESIS [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang