Dalam setiap kekuatan, ada kelemahan.
Dalam setiap ketakutan, ada keberanian.
Dalam setiap kebaikan, ada keburukan.
Dan dalam setiap cahaya, ada bayangan.
******
Tekad Kia untuk mengungkap kematian ayahnya yang terasa janggal semakin kuat. Saat i...
Dalam setiap kekuatan, ada kelemahan. Dalam setiap ketakutan, ada keberanian. Dalam setiap kebaikan, ada keburukan. Dan dalam setiap cahaya, ada bayangan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Matahari terus bergerak ke arah barat, menandakan bahwa siang sudah mulai bergeser ke arah sore. Cahayanya yang hangat dan lembut menyinari bumi, menciptakan bayangan yang panjang dan menarik.
Di depan apotek yang terletak di dekat sebidang taman, Kia tengah duduk di bangku panjang bersama Satria yang sedang menahan sakit akibat luka lebam yang sedang diobati. Kia membersihkan sisa darah menggunakan kapas yang dicelupkan pada air hangat, lalu mengoleskan salep pereda nyeri setelah mengeringkannya. Dengan penuh hati-hati Kia memberikan pengobatan tersebut agar luka pada wajah Satria segera memudar dan tak menghilangkan bekas.
Sesekali Satria menggerakkan kepala dan memalingkan wajah saat merasa perih, namun Kia tetap meneruskan kegiatan tersebut hingga tuntas agar ia dapat memastikan luka pada wajah Satria telah sembuh.
"Tahan aja, sedikit lagi beres, kok," kata Kia, dengan mata yang tetap fokus pada luka Satria, sedangkan pria itu balik menatap Kia dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Lo kok bisa disekap sama mereka di sana?"
Kia menghela napas panjang, kemudian ia merapikan beberapa obat tersebut dan memasukkannya ke dalam plastik kecil yang sebelumnya diberikan oleh apoteker.
"Tadi teh aku lihat ada pengemis, aku kasih aja dia uang, abis itu dia minta antar pulang karena kakinya sakit, pas aku di ajak masuk ke gang sempit itu tiba-tiba aku dipukul dari belakang terus jatuh, pas aku bangun dan mau coba kabur teman-teman dia datang dan seret aku masuk ke dalam sampai ngikat aku di kursi itu," ungkap Kia.
"Mereka ada ngomong sesuatu sama lo? Alasan mereka dengan sengaja culik lo? " tanya Satria dengan tatapan penuh selidik.
Sesaat Kia terdiam, matanya bergerak ke arah kanan dan kiri, menampakkan sebuah rasa kecemasan.
"Apa ini gara-gara Lea?" Mata Satria menyipit, memastikan bahwa dugaannya tidak salah.
"Kak Satria teh kenal mereka? Kok bisa tahu?"
"Mereka musuh terbesar Alaska. Kita sering tawuran dan tentunya kita selalu menang. Karena hal itu bikin mereka gak pernah kapok dan terus nyerang sampai kita kalah. Dan Ramon, orang yang lo pukul itu, dia ketuanya. Dia suka sama Lea, sedangkan lo pasti udah tahu kalau Lea suka sama gue. Karena alasan itu bikin Ramon makin benci sama gue dan selamanya punya niatan buat hancurin gue. Gue nebak ini ulah Lea karena dia gak berani sentuh lo langsung setelah gue tegur kemarin, jadi dia manfaatin Ramon dan geng Bruiser buat balas dendam ke elo."
Kia kembali menghela napas panjang, pandangannya menunduk seperti kehilangan semangat, "iya, Kak. Tadi mereka bilang supaya aku jangan usik Kak Lea."