Dalam setiap kekuatan, ada kelemahan.
Dalam setiap ketakutan, ada keberanian.
Dalam setiap kebaikan, ada keburukan.
Dan dalam setiap cahaya, ada bayangan.
******
Tekad Kia untuk mengungkap kematian ayahnya yang terasa janggal semakin kuat. Saat i...
Dalam setiap kekuatan, ada kelemahan. Dalam setiap ketakutan, ada keberanian. Dalam setiap kebaikan, ada keburukan. Dan dalam setiap cahaya, ada bayangan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Resah dan gelisah. Dua kata yang saat ini mampu mengganggu sistem kerja otak Kia melebihi rumitnya rumus kalkulus apalagi rumus fisika kuantum. Karena saat ini Kia terpaksa harus mengerjakan sebuah tugas dari kelompok investigasinya untuk menyelidiki Dewangga dengan cara menjalin hubungan lebih dekat agar tidak menimbulkan sebuah kecurigaan.
Namun, apa salahnya? Harusnya hal itu bukan menjadi masalah besar bagi Kia, karena memang selama ini ia memiliki ketertarikan terhadap pria itu, sehingga jika hubungan mereka semakin dekat pun seharusnya membuatnya menjadi senang. Tetapi entah kenapa rasanya malah kebalikannya. Kini, ia justru merasa keberatan dan enggan.
Bukan karena ia sudah tidak merasa tertarik lagi, melainkan tiba-tiba saja ia terus memikirkan Satria, tapi ia sendiri tidak tahu mengapa hal itu harus dirasakannya? Apa mungkin ia merasa tidak enak hati pada Satria? Atau mungkin dia malah sudah mulai merasa tertarik pada Satria?
"Kia!" seru Kiran sambil menepuk lengan Kia, gadis itu langsung mengerjap dari tatapan kosongnya.
"Kok lo malah bengong sih?"
"Eh, iya maaf."
"Kemungkinan, sebentar lagi Kak Dewa ke sini buat makan siang, nanti lo langsung sapa dia dan ajak makan bareng kita, pokoknya sekarang lo harus terus deketin dia dan sebisa mungkin yakinin dia bahwa lo bener-bener suka sama dia," suruh Kiran sambil mengacungkan telunjuk dekat wajah Kia.
"Iya," balas Kia pendek. Ia langsung memalingkan wajah ke arah lain, lalu ia menghembuskan napas kasar dengan cukup keras.
Sejenak dahi Kiran mengerut, "ngape lo? Berat amat napas lo. Lo keberatan? Bukannya selama ini lo suka sama Kak Dewa? Atau... lo takut Kak Satria cemburu, ya?"
Kia menoleh ke arahnya sambil memelotot, "eh, enggak gitu ya. Jangan suka ngomong aneh deh!"
"Ya lagian... aneh banget sih lo." Kiran memutar bola matanya malas, "cuma sementara dan pura-pura aja kok, Kia. Tenang aja. Kita juga gak mau kali lo ada hubungan spesial sama orang licik kayak gitu. Cuma sampai masalah ini selesa aja. Lo tenang aja, Kak Satria juga pasti ngerti kok."
"Apa sih, siapa juga yang mikirin Kak Satria," tandas Kia.
Saat Kia menyeruput es teh manisnya menggunakan sedotan, tiba-tiba saja atensinya teralih ke arah Dewa yang baru saja memasuki ruangan kantin, pria itu nampak celingukan seperti sedang mencari seseorang. Beruntung Kiran ikut melihat keberadaannya, sehingga ia langsung mengangkat tangan sambil melambaikannya, karena ia sedikit geram melihat sikap temannya yang malah diam saja, tidak seperti apa yang sudah ia perintah.