Dalam setiap kekuatan, ada kelemahan.
Dalam setiap ketakutan, ada keberanian.
Dalam setiap kebaikan, ada keburukan.
Dan dalam setiap cahaya, ada bayangan.
******
Tekad Kia untuk mengungkap kematian ayahnya yang terasa janggal semakin kuat. Saat i...
Dalam setiap kekuatan, ada kelemahan. Dalam setiap ketakutan, ada keberanian. Dalam setiap kebaikan, ada keburukan. Dan dalam setiap cahaya, ada bayangan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Suasana di laboratorium komputer cukup tenang, hanya terdengar suara ketikan keyboard dan dengungan kipas dari CPU yang berkeker di bawah meja. Cahaya dari jendela beradu dengan cahaya layar monitor, menciptakan bayangan lembut di wajah para murid.
Kia duduk di kursinya, membuka tugas yang baru saja diberikan Pak Karyo. Jari-jarinya mulai mengetik perlahan namun pandangannya tak sengaja melirik ke arah kanan. Kiran tampak menatap layar monitor sambil menyunggingkan senyum aneh.
“Kamu teh kenapa sih? Perasaan dari tadi senyum-senyum mulu deh,” tanya Kia. Alisnya mengernyit. Bukan karena penasaran berlebihan, tapi ekspresi Kiran terlalu mencolok. Ia tidak terlihat seperti orang yang sedang mengerjakan tugas. Lebih mirip seseorang yang baru saja melihat meme lucu, atau mungkin membayangkan orang yang spesial. “Lima belas menit lagi jam pelajarannya habis, aku yakin tugas bikin desain poster iklan kamu belum apa-apa, kan?”
Kiran menghela napas pelan, dengan anggun dia berbalik ke arah temannya yang sedari tadi hanya mengomentari tingkahnya. “Tugas gue sebentar lagi selesai kok, Kia... But please from now, jangan gangguin gue yang lagi haluin Kak Satria sama Kak Rey, oke!” kata Kiran. Ia menempelkan jadi telunjuk dengan jari jempol membentuk huruf “O”.
“Dih, serakah banget. Sebenarnya kamu itu suka sama siapa, sih? Satria Atau Rey?”
“Kak Satria or Kak Rey? Keduanya juga boleh. Kak Satria itu maco, Kak Rey cool. Dan dua-duanya sama-sama ganteng, itu pilihan yang sangat sulit, Kiara!” balas Kiran. Ia mendekatkan wajah pada Kia secara tiba-tiba.
Kia mendecih, “percuma kasih tahu kamu soal hal buruk tentang mereka juga. Pasti kamu akan tutup mata, kamu gak liat muka mereka tadi pada bonyok? Itu pasti karena kemarin tawuran, kan?”
“I see... tapi mereka itu keren, tau! Gak kebayang kalau gue jadi cewek mereka, pasti keamanan gue terjamin.” Kiran kembali menyenderkan tubuh pada sandaran kursi sambil menatap ke atas, ia berkhayal.
“Anak berandalan gitu di bilang keren? Yang keren itu, yang punya bakat dan bikin bangga sekolah, bukan bikin malu sekolah.”
“Ets... jangan salah! Alaska bukan cuma kumpulan anak geng motor aja loh, mereka itu tim basket terbaik SMA Wiramandala selama tiga tahun berturut-turut ini.” Kiran kembali menatap Kia dengan tatapan meyakinkan.
Kia menyipitkan mata, “Masa, sih?”
“Kalau lo gak percaya, nanti jam istirahat ikut gue ke lapangan, gue dapat info Alaska mau sparing sama anak basket kelas 11.”
Tanpa memberi penolakan ataupun penyetujuan, Kia hanya memalingkan wajah dan kembali meneruskan tugas membuat desain poster pada layar monitornya. Sepertinya ia juga merasa penasaran dengan bakat yang dimiliki para pria menyebalkan itu, walaupun ia masih belum meyakini bahwa ucapan temannya itu benar.