Bab 32 - Mr. Lok1? (bagian 2)

69 17 0
                                        

Dalam setiap kekuatan, ada kelemahan.
Dalam setiap ketakutan, ada keberanian.
Dalam setiap kebaikan, ada keburukan.
Dan dalam setiap cahaya, ada bayangan.

 Dan dalam setiap cahaya, ada bayangan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹

Sore hari tiba, membawa suasana hangat dan nyaman. Cahaya matahari yang masuk  melalui jendela kafe mulai memudar, digantikan oleh cahaya lembut dari lampu-lampu yang mulai dinyalakan. Pelanggan yang datang mulai berkurang, meninggalkan beberapa orang yang masih menikmati waktu atau bahkan menghabiskan waktu pada tempat itu.

Begitu pula dengan ketiga remaja Wiramandala yang sedang berdiskusi mengenai kasus penyelidikan bersifat rahasia itu. Mereka bersiap merapikan bawaan masing-masing, setelah menghabiskan hidangan yang telah mereka pesan.

Rey menutup laptopnya, lalu memasukkan ke tas. "Kalau gitu gue cabut duluan ya, Sat. Gue mau coba cari tahu soal mister Loki itu di komputer gue, soalnya kalau di laptop biasa agak susah. Mudah-mudahan gue bisa nemuin sedikit jejak tentang dia, syukur-syukur ada banyak."

"Oke, aman. Thanks ya, lo mau bantuin kita." Satria menjawab dengan tersenyum tipis.

"Iya, sama-sama. Gue malah seneng bisa bantuin lo, pokoknya kalau lo butuh bantuan lain jangan sungkan hubungi gue," Rey menyodorkan kepalan tangan, sebelum ia berlalu. Dan Satria membalas kepalannya.

"Emm... Kak Rey!" seru Kia ragu-ragu, setelah terdiam beberapa saat karena memikirkan sesuatu yang cukup berat.

"Iya?" Rey menoleh. Alisnya terangkat.

"Aku boleh minta tolong buat rahasiain pertemuan kita dan kedekatan aku sama Kak Satria dari siapa pun, termasuk tiga anggota geng kalian? Lagian aku sama Kak Satria juga gak ada hubungan apa-apa kok, kita cuma kebetulan selidiki kasus yang sama aja," pinta gadis itu sedikit ragu, juga nampak raut wajah ketakutan terpancar olehnya.

"Lo tenang aja, gue paling jago buat jaga rahasia," ucap Rey singkat, namun mampu membuat Kia tersenyum lega.

"Makasih, Kak."

🌹🌹🌹

Malam ini Satria tiba di rumah lebih cepat dari biasanya, karena setelah selesai mengantarkan Kia, ia langsung berpamitan pergi dengan alasan ada kepentingan yang harus ia urus. Dan hal itu adalah menemui sang papa di rumah karena ia yakin beliau sudah pulang setelah bekerja.

Langkahnya sedikit terasa berat kala memasuki ruang tengah pada situasi papanya masih berada di sana, karena biasanya ia tiba di rumah setelah semua penghuni rumah sudah tertidur. Karena ini baru pukul tujuh malam menjadi alasan Haris masih terjaga, bahkan ia belum sempat pergi membersihkan diri karena masih harus menyelesaikan beberapa pekerjaan kantor yang sengaja ia bawa ke rumah.

Saat pria paruh baya itu fokus pada lembaran dokumen penting beserta bolpoin pada sela-sela jarinya, tiba-tiba saja ia mendengar langkah kaki seseorang yang hendak masuk ke dalam rumah ini, suara yang dihasilkan sepatu kets yang mengalun pelan. Di kepalanya langsung muncul praduga bahwa itu adalah putranya.

ANTITESIS [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang