Dalam setiap kekuatan, ada kelemahan.
Dalam setiap ketakutan, ada keberanian.
Dalam setiap kebaikan, ada keburukan.
Dan dalam setiap cahaya, ada bayangan.
******
Tekad Kia untuk mengungkap kematian ayahnya yang terasa janggal semakin kuat. Saat i...
Dalam setiap kekuatan, ada kelemahan. Dalam setiap ketakutan, ada keberanian. Dalam setiap kebaikan, ada keburukan. Dan dalam setiap cahaya, ada bayangan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Haris berlari menyusuri koridor rumah sakit dengan tergesa-gesa, ia mencari keberadaan Renata yang ternyata dipindahkan ke ruang observasi karena kondisinya sempat memburuk sejak tadi malam. Ia mendapat kabar dari sang perawat mengenai kondisi terkini dari sang istri. Namun sayangnya, saat itu ia tidak langsung dapat menemuinya karena ia harus mengatur jadwal penerbangan dari Balikpapan menuju Jakarta. Walaupun ia mendapat pelayanan yang cepat, namun tetap saja, jarak yang ditempuh cukup memakan banyak waktu. Hingga ia baru bisa sampai ke rumah sakit itu sekitar pukul sepuluh pagi.
“Bagaimana kondisi istri saya, dok?” tanya Haris dengan napas terengah-engah setelah dengan keras ia membuka pintu ruangan itu.
Seorang wanita paruh baya dengan jas putihnya berbalik badan, ia berjalan mendekat ke arah Haris setelah menyuntikkan obat penenang pada selang infus Renata, “kondisi Bu Renata saat ini sudah lebih baik. Saat ini kami berikat obat penenang agar bisa beristirahat.”
Haris dapat bernapas lega, lalu perlahan ia melangkahkan kakinya agar bisa mendekat pada tempat tidur Renata. Namun sayangnya, langkahnya terhenti saat Satria meneriakinya dari belakang sambil menenteng sebuah paperbag berisi makanan ringan.
“Berhenti!” cegah Satria.
Haris menoleh ke arah putranya, melihat ekspresi yang terlukis pada wajah Satria sangat menjelaskan bahwa pemuda itu sedang dalam amarah yang besar. Namun ia tetap bersikap tenang karena ini sudah menjadi hal yang biasa selama hampir dua tahun ini, sejak Renata mengalami gangguan kejiwaan, dan mendapatkan perawatan khusus pada rumah sakit jiwa ini.
“Ada perlu apa Anda kesini! Mama saya gak butuh kehadiran Anda!”
Haris menghela napas panjang, sebisa mungkin ia harus menghadapi amarah putranya dengan tenang, “Satria cukup! Papa juga khawatir sama kondisi Mama. Kamu jangan pernah berpikir Papa gak pernah peduli sama mama kamu.”
“Khawatir? Anda sadar, Mama kayak gini karena ulah Anda sendiri!” cakap Satria dengan suara yang melengking, sehingga ia mendapat tatapan tajam dari dokter yang masih berada dalam ruangan itu.
“Satria! Jaga ucapan kamu!” Haris tak kalah menggertak hingga suara nyaringnya melebihi Satria.
“Mohon maaf menyela, tapi sebaiknya tidak ada keributan di dalam ruangan ini. Karena khawatir Bu Renata terganggu dan lebih parahnya lagi kesehatan mentalnya kembali kacau karena melihat keributan kalian,” tegur salah seorang dokter.
Kini keduanya terdiam, tangan mereka sama-sama mengepal keras dengan tatapan mata yang menajam. Bagai sepasang ayam jantan yang akan saling beradu kekuatan, keduanya sama-sama menyiapkan ancang-ancang untuk saling menyerang. Jika saja posisi mereka saat ini berada di dalam rumah, tentunya hal buruk itu akan terjadi. Namun ternyata selama ini Satria jarang sekali bertemu dengan papanya di rumah, karena ia selalu menghabiskan waktunya di jalanan sekali pun setelah pulang sekolah, dan ia akan kembali ke rumah ketika tengah malam saat semua orang dalam rumah itu sudah tertidur.