Dalam setiap kekuatan, ada kelemahan.
Dalam setiap ketakutan, ada keberanian.
Dalam setiap kebaikan, ada keburukan.
Dan dalam setiap cahaya, ada bayangan.

🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Di kamar yang masih diselimuti cahaya pagi, Kia berdiri di depan cermin. Jemarinya merapikan poni yang membandel, seolah setiap helai rambut harus tunduk pada keanggunan yang ia inginkan. Matanya menatap bayangan diri, seorang gadis remaja dengan pakaian trendi, bibir mungil yang ia lengkungkan menjadi senyum tipis, dan pipi yang bersemu oleh cahaya matahari yang menyelinap lewat jendela. Seperti gadis pada umumnya, Kia ingin memastikan hari ini ia siap sebelum beraktivitas di luar rumah.
Cermin itu seakan menjadi saksi bisu: di balik rias sederhana, tersimpan segenggam mimpi dan rahasia remaja yang tak terucap.
Namun sebelum ia benar-benar selesai merias diri, denting notifikasi dari ponsel di meja belajarnya membuat langkahnya terhenti. Kia meraih benda mungil itu, layar yang menyala memantulkan cahaya lembut di wajahnya.
"Hari ini ada acara book launch salah satu penulis novel favorit kamu, kamu mau ikut hadir kan? Kebetulan aku juga mau ke sana. Acaranya jam 10, aku jemput kamu sekitar 30 menit lagi, ya."
Sebuah pesan masuk dari Dewangga membuka pagi hari Kia dengan senyuman hangat. Bukan senang karena Dewa sang pemberi pesan, melainkan karena kabar yang diberitahunya.
Gadis itu segera membalas pesan tersebut dengan menyetujuinya karena memang acara seperti itu sangat ia ingin hadiri, namun terkadang ia tidak bisa pergi karena sedikit tidak nyaman jika pergi seorang diri.
Setelah selesai berdandan, ia mengambil sebuah tas selempang kecil untuk ia pakai, kemudian sepatu flat berwarna hitam yang selalu menjadi andalannya saat bepergian dengan suasana santai.
"Udah rapi aja, mau ke mana?" tanya Rossa saat melihat putrinya menuruni anak tangga, dan berjalan ke arahnya yang sedang menyiapkan menu sarapan pagi di dapur.
"Hadir acara book launch penulis novel idola aku, Bu."
"Sama siapa?"
"Kak Dewa."
Gadis belia itu langsung duduk dengan raut wajah ceria dan penuh kebahagiaan, jelas hal itu membuat Rossa sedikit bertanya-tanya akan tingkah menggemaskan putrinya, "kamu teh suka ya sama cowok itu?"
"Hah?" Spontan Kia mendongakkan wajah, "enggak, Bu."
"Terus kenapa kalian hampir tiap hari jalan bareng? Kamu udah gak temenan lagi sama Satria?"
"Emm..." Kia memalingkan pandangan ke arah lain, "masih kok, Bu."
"Kenapa dia udah gak pernah ke sini lagi?"
"Ya... gak apa-apa. Lagian mau ngapain juga aku ajak Kak Satria kesini? Kerja kelompok gak mungkin, kan?"
"Iya juga sih."
KAMU SEDANG MEMBACA
ANTITESIS [TAMAT]
Fiksi RemajaDalam setiap kekuatan, ada kelemahan. Dalam setiap ketakutan, ada keberanian. Dalam setiap kebaikan, ada keburukan. Dan dalam setiap cahaya, ada bayangan. ****** Tekad Kia untuk mengungkap kematian ayahnya yang terasa janggal semakin kuat. Saat i...
![ANTITESIS [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/343815248-64-k36320.jpg)