Bab 59 - keluarga

28 2 0
                                        

Dalam setiap kekuatan, ada kelemahan.
Dalam setiap ketakutan, ada keberanian.
Dalam setiap kebaikan, ada keburukan.
Dan dalam setiap cahaya, ada bayangan.

 Dan dalam setiap cahaya, ada bayangan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹

"Non Lea! Mau Ke mana? Jangan keluar, para wartawan itu..." suruh seorang pelayan yang berjaga di pintu kamar pribadi Lea, ia terkejut kala gadis itu tiba-tiba mendekat dengan langkah yang cepat dan penuh amarah.

Lea tidak menghiraukan. Ia terus berjalan ke arah luar.

Pelayan lain, yang lebih tua, mencoba menghalangi di pintu. "Non, tunggu! Bapak Pengacara bilang jangan..."

Lea mendorong lengannya dengan tak sabar. "Jangan halangi gue!" raungnya, suaranya parau dan penuh keputusasaan. Kedua pelayan itu terempas oleh energi marahnya yang meledak. Mereka tidak berani melawan. Mereka hanya bisa menatap, kasihan, ketakutan.

Lea berlari. Melalui koridor panjang, melewati setiap sudut rumah yang dulu penuh tawa dan sekarang hanya berisi kepahitan. Tujuannya hanya satu: garasi.

Pintu garasi berat, tapi dengan sisa tenaga terakhirnya, ia mendorongnya terbuka. Di sana, mobil sport berwarna merah miliknya, hadiah ulang tahun dari papinya yang kini tak lagi ada, terparkir menyendiri. Seolah menunggu untuk membawanya kabur.

Buru-buru ia membuka pintu, mendaratkan bokong di atas jok kulit yang dingin. Kunci sudah ada di tempatnya, lalu diputar. Pedal gas diinjak membuat mesin menderu dengan ganas, bak menyuarakan amarah yang masih membara dalam dada.

Dengan manuver kasar, ia memacu mobil keluar dari garasi. Pintu besi garasi yang masih setengah terbuka nyaris tersapu spion mobilnya. Ia tidak peduli.

Saat mobil merahnya menyembur keluar dari jalanan samping rumah dan muncul ke depan halaman, kerumunan wartawan yang tadi seperti kawanan lalat langsung terkejut. Kamera-kamera yang tadinya mengarah ke rumah, berputar dengan cepat.

Blim! Blim! Blim!

Kilatan lampu flash menyambar-nyambar seperti halilintar, mencoba menangkap setiap detil wajahnya yang dipenuhi air mata dan amarah.

Tapi Lea tidak mengangkat tangannya atau menunduk. Matanya membelalak, menatap lurus ke depan melalui kaca depan. Kaki kanannya menekan pedal gas dalam-dalam.

Ban mobil menjerit, mengeluarkan asap dan bau karet terbakar. Mobil itu melesat seperti anak panah, menerobos kerumunan yang terpecah ketakutan. Para wartawan pontang-panting berhamburan menyelamatkan diri, teriakan-teriakan takut terdengar dari belakang.

Dia meninggalkan mereka semua. Rumah megah yang jadi penjara. Para pelayan yang hanya bisa memandang. Para wartawan yang haus berita. Dan bayangan mamanya di layar televisi.

Ia hanya terus berkendara. Jalanan di depannya buram oleh air mata yang akhirnya tumpah. Laju mobilnya kencang, menghapus jarak, berusaha melarikan diri dari rasa sakit yang seakan tak pernah bisa ia tinggalkan.

ANTITESIS [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang