Dalam setiap kekuatan, ada kelemahan.
Dalam setiap ketakutan, ada keberanian.
Dalam setiap kebaikan, ada keburukan.
Dan dalam setiap cahaya, ada bayangan.
******
Tekad Kia untuk mengungkap kematian ayahnya yang terasa janggal semakin kuat. Saat i...
Dalam setiap kekuatan, ada kelemahan. Dalam setiap ketakutan, ada keberanian. Dalam setiap kebaikan, ada keburukan. Dan dalam setiap cahaya, ada bayangan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
“Kalian gak capek, apa? Tawuran lagi tawuran lagi... udah tahu risikonya fatal sekali, tapi kalian masih aja suka berantem gak jelas begitu,” ucap Bu Neti selaku guru BK yang tengah bertugas menghukum Satria dan kawan-kawannya berdiri di tengah lapangan sambil menghadap dan hormat ke atas tiang bendera merah-putih.
“Coba lihat ini muka kamu....bonyok semua gini. Ya ampun... mana ini ga langsung di obati lagi.” Bu Neti menghampiri Satria sambil mencubit pipinya yang penuh lebam.
“Aww... sakit Bu.” Satria meringis.
“Nah itu cuma Ibu cubit sedikit aja kamu kesakitan, kemarin di luar sana kamu baku hantam gak ngerasa sakit, kan?”
“Ya, mungkin kekuatan tangan ibu lebih besar dari tangan musuh,” sahut Satria bernada meledek, dan di sambut tawa teman-teman.
“Heh kalian diam!” Suara Bu Neti melengking keras hingga membuat kelima pria itu spontan terdiam.
“Ibu itu udah bosan sekali. Yang Ibu hukum itu kalian lagi, kalian lagi. Apa kalian gak bosan kena hukuman terus?”
“Enggak, Bu. Malah kami kangen ketemu kayak gini sama Ibu,” sahut Edo yang merupakan salah satu sahabat Satria yang memiliki postur tubuh sedikit mengembang.
“Kamu ini... ngeledek Ibu, ya!” Tangan Bu Neti tanpa ragu memelintir pada telinga Edo.
“Buset! Sakit Bu.” Edo meringis sambil menahan tangan guru itu agar segera melepaskannya.
“Jangan mentang-mentang kamu putra dari donatur terbesar disekolah ini, kamu jadi bertindak seenaknya ya, Satria. Ibu udah pusing banget berurusan sama pihak kepolisian. Walaupun papa kamu yang langsung ngatasinnya, tapi tetap aja pihak sekolah merasa bersalah dan malu pada keluarga korban.”
Kelima pria itu sedikit tertunduk, sepertinya mereka mulai mencerna omelan yang dilontarkan Bu Neti yang suaranya mulai bergetar seolah menahan amarah sekaligus kesedihan mendalam.
“Ini peringatan terakhir untuk kalian, sekali lagi ada kasus tawuran kayak gini, saat itu juga Ibu akan panggil orangtua kalian, dan Ibu akan skors kalian selama satu bulan. Tentunya itu akan memengaruhi nilai akhir semester dan akan menjadi faktor untuk kalian tidak lulus sekolah tahun ini.”
“Yah, Bu... masa tahun depan kami sekelas sama adik kelas sih? Bikin malu aja,” keluh Juan yang menunjukkan raut wajah memelas.
“Iya nih, Ibu tega banget sama kami.” Riko ikut menambahi.
Komplotan Satria memang doyan ngoceh. Tapi ada satu kawannya selalu merapatkan birbir, lebih dikenal irit dalam berbicara karna ia lebih cuek dan banyak diam, tanpa menebar pesona seperti keempat kawan Satria pada semua gadis Wiramandala. Kendati demikian, ia tetap memiliki penggemar. Karena tubuhnya yang tegap dengan memiliki bahu yang lebar membuatnya terlihat lebih berkarismatik dibanding ketua gengnya.