Dalam setiap kekuatan, ada kelemahan.
Dalam setiap ketakutan, ada keberanian.
Dalam setiap kebaikan, ada keburukan.
Dan dalam setiap cahaya, ada bayangan.
******
Tekad Kia untuk mengungkap kematian ayahnya yang terasa janggal semakin kuat. Saat i...
Dalam setiap kekuatan, ada kelemahan. Dalam setiap ketakutan, ada keberanian. Dalam setiap kebaikan, ada keburukan. Dan dalam setiap cahaya, ada bayangan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Mereka akhirnya berhenti di depan sebuah bangunan bercat putih dengan papan nama bertuliskan "nama percetakan" yang catnya sudah sedikit pudar. Aroma khas tinta cetak tercium samar, keluar bersama hembusan udara dari pintu yang terbuka. Di dalam, terdengar suara mesin printer yang berdengung, sesekali diselingi bunyi kertas yang terlipat rapi. Satria melirik sekeliling, sedikit mengernyit, sementara Kia mematikan mesin motornya dan bersiap turun.
"Tempat percetakan?" Satria mengangkat satu alisnya sambil menatap heran.
"Iya," sahut Kia menyeringai, "sini, mana foto keluarga Kakak." Gadis itu mengulurkan telapak tangan depan wajah Satria.
"Jangan bilang lo mau cetak foto keluarga gue?" Satria menyerahkan ponsel miliknya perlahan hingga berpindah ke tangan Kia.
"Teu kudu bilang oge, Kakak udah tahu kan?"
Kia berbalik, ia berjalan masuk dan menghampiri seorang pria yang merupakan karyawan toko itu untuk meminta bantuan agar mencetak gambar dari foto yang ada dalam ponsel Satria.
Tanpa banyak bertanya, pria itu hanya mengamati sambil perlahan berjalan menghampiri Kia. Hingga apa yang Kia inginkan sudah berada ditangannya, dan gadis itu segera mengembalikan ponsel pada Satria. Kia langsung memasangkan selembar foto berukuran 25x30 sentimeter itu pada sebuah bingkai berwarna putih polos yang menurutnya memiliki arti, atau bisa menjadi harapan tentang sebuah kedamaian yang akan kembali dirasakan oleh keluarga ini.
"Bagus, kan?" Kia menunjukkan foto itu tepat di depan wajah Satria sambil menampilkan senyuman yang lebar.
"Ya, emang bagus. Tapi buat apa? Foto keluarga di rumah gue ada. Lebih gede lima kali lipat dari ini," terang Satria heran.
"Emang ini bukan buat dipajang di rumah kak Satria kok."
"Terus?" Pria itu mengangkat satu alisnya.
"Ikut aku." Kia berlalu melawati tubuh Satria dan kembali menunggangi kendaraan motor miliknya.
"Mau ke mana lagi?"
"Ikut aja."
Sekali lagi Satria hanya menurut, entah mengapa kini ia merasa nyaman, atau lebih tepatnya senang mengikuti perintah dari gadis ini. Apa karena akhirnya kini mereka kembali memiliki waktu berdua setelah beberapa hari ini Kia selalu bersama Dewa? Atau karena mereka saat ini sedang tidak bersama dengan kelompok tim investigasinya yang membuat Satria sedikit tidak nyaman jika harus bersikap terlalu ramah pada Kia?
Beberapa saat berlalu. Akhirnya mereka tiba di sebuah tempat yang tampak tidak asing bagi Satria. Ini adalah rumah sakit jiwa tempat di mana mamanya tinggal sementara untuk mendapat perawatan khusus agar kesehatan mentalnya segera pulih.