Dalam setiap kekuatan, ada kelemahan.
Dalam setiap ketakutan, ada keberanian.
Dalam setiap kebaikan, ada keburukan.
Dan dalam setiap cahaya, ada bayangan.

🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Di sebuah kafe bernuansa Eropa yang terletak di sebelah kanan persimpangan jalanan ibu kota, tujuh remaja duduk melingkar di sudut ruangan. Lampu temaram menggantung di atas meja kayu bundar, memberikan kesan hangat dan teduh setelah malam penuh adrenalin.
Edo tampak menderita. Ia duduk dengan tubuh condong ke depan, tangan sibuk memijat-mijat pinggang. "Musti dicek nih. Takutnya ada yang patah," keluhnya.
"Kalau patah ganti pake tulang sapi. Tulang sapi kuat tuh," balas Juan ngasal. Dengan teliti ia mengoles salep pereda gatal di kakinya yang masih memerah karena gigitan semut api.
"Ngaco!" omel Edo.
Sementara itu, Riko bersandar di kursi dengan wajah lesu, satu tangan memegang gelas berisi air es yang tinggal setengah. Ia baru saja meneguk dalam-dalam dan menghela napas. "Dipikir-pikir ini lebih seru dibanding tawuran. Main detektif-detektifan kayak gini lebih memacu adrenalin. Gue ngerasa kayak James Bond yang menyusup ke rumah penjahat yang meresahkan dunia, dan gue berhasil menaklukkan penjahat itu dengan cara berkamuflase sehingga bisa menipu semua penjahat tanpa melukai tubuh gue sedikit pun," cakapnya sambil tersenyum kecil.
Meski ketiga pria itu mengeluh, namun ada raut lega di wajah mereka. Misi gila itu berhasil. Mereka mungkin memar, pegal, dan sedikit trauma dengan semut, tapi yang paling penting alat sudah terpasang, dan tidak ada yang tertangkap.
Sedangkan Kia, Kiran, dan Satria mengerubungi Rey yang tengah menatap laptopnya dengan intens. Layar laptop itu memancarkan cahaya kebiruan yang memantul di wajah mereka, menampilkan citra hitam-putih dari berbagai sudut ruangan di rumah megah milik Vanya.
"Tapi gue masih gak nyangka, guys," ucap Riko yang menatap Satria dan Kia, hingga membuat kedua orang itu menoleh ke arahnya dengan alis yang terangkat.
"Kenapa?" tanya Juan dan Edo bersamaan.
"Gue gak nyangka kita bakal satu tim sama dua anak konglomerat," lanjut Riko. Ia menyilangkan tangan pada dada sambil menggelengkan kepala pelan, "udah ada satu anak dari Bapak Widiantoro, sekarang nambah satu anak dari Bapak Bagaskara. Apa gak makin gendut tuh si Edo bisa makan sepuasnya tanpa kaget sama jumlah tagihan kalau kita lagi makan gini."
"Nah itu, makanya gue betah banget tinggal di Indonesia." Edo menggelengkan kepala dengan tatapan yang jatuh ke bawah.
"Karena lo temenan sama Satria?" tebak Juan.
"Karena mau ke luar negeri gak ada duitnya..." Tawa Edo pecah, spontan ia menepuk bahu Juan hingga hampir tersungkur.
Sorot mata Satria menajam ke arah tiga orang itu. "Kalian pikir, kalian bisa seenaknya morotin duit Kia sama kayak kalian sering habisin duit gue? Awas aja kalau kalian berani."
KAMU SEDANG MEMBACA
ANTITESIS [TAMAT]
Ficção AdolescenteDalam setiap kekuatan, ada kelemahan. Dalam setiap ketakutan, ada keberanian. Dalam setiap kebaikan, ada keburukan. Dan dalam setiap cahaya, ada bayangan. ****** Tekad Kia untuk mengungkap kematian ayahnya yang terasa janggal semakin kuat. Saat i...
![ANTITESIS [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/343815248-64-k36320.jpg)