Bab 60 - Saudari

40 2 0
                                        

Dalam setiap kekuatan, ada kelemahan.
Dalam setiap ketakutan, ada keberanian.
Dalam setiap kebaikan, ada keburukan.
Dan dalam setiap cahaya, ada bayangan.

 Dan dalam setiap cahaya, ada bayangan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹

Sebuah mobil mewah berhenti di depan pagar rumah Rossa. Walaupun mobil itu milik Lea, namun Rossa tidak membiarkan gadis itu mengemudi, karena kondisi mentalnya yang sedang tidak baik, tubuhnya pun terlihat tidak berstamina setelah hampir satu jam berdiam diri di tengah hujan saat di pemakaman.

Rossa mengambil alih kemudi, Lea duduk di kursi depan sebelah kiri, sedangkan Kia duduk sendiri di belakang. Walaupun Lea sudah mulai luluh akan bujukan Rossa untuk pergi ke rumahnya agar dapat beristirahat, namun ia belum sepenuhnya menerima Kia sebagai adiknya. Bahkan sepanjang perjalanan tak ada perbincangan yang terjalin antara kedua saudari itu, hanya saja Lea sesekali menyahuti pertanyaan Rossa dengan singkat, dan Kia tidak ikut campur karena khawatir Lea merasa tidak nyaman.

Seorang wanita paruh baya muncul, dia adalah asisten rumah tangga Rossa, ia membuka gerbang saat klakson mobil itu berbunyi nyaring. Ia tersenyum sambil membungkuk kala melihat sangat majikan muncul dibalik kaca mobil yang terbuka.

Kaki Lea terasa berat bagai dijejali batu ketika melangkah keluar dari mobil mewahnya. Ketiga wanita itu keluar dari mobil secara bersamaan dengan Lea yang dibantu berjalan oleh Rossa. Ia memandang rumah di hadapannya dengan perasaan campur aduk. Rumah itu... tidak seperti yang ia bayangkan.

Selama ini, dalam benaknya, rumah itu pasti adalah tempat yang norak, penuh hiasan berlebihan, mencerminkan sosok yang ia anggap telah merenggut kemewahan harta papinya. Tapi kenyataannya tidak. Rumah itu besar dan mewah, terlihat dari luasnya dan material yang digunakan, namun kesannya sangat sederhana dan hangat. Catnya bernuansa bumi yang lembut, dikelilingi taman asri yang ditata rapi, bukan pagar tinggi yang terkesan angkuh. Sangat berbeda dengan rumah megah dan glamor miliknya di pusat kota yang serba marmer, kristal, dan dingin.

Lea menarik napas dalam. Bau lavender dan rumput basah memenuhi hidungnya, aroma yang asing tapi juga menenangkan.

Asisten rumah tangga itu berlari ke pintu utama, ia membuka daun pintu lebar-lebar dan mempersilakan mereka untuk masuk. "Selamat datang di rumah kami," ucap Rossa hangat.

Lea memandang sekali lagi ke dalam rumah yang tampak sederhana namun terasa sangat hidup ini. Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa seperti orang asing di sini. Sebaliknya, ia merasa seperti akhirnya menemukan sebuah pelabuhan yang selama ini ia cari tanpa disadari. Kebenciannya perlahan mencair, digantikan oleh secercah harapan bahwa mungkin, di antara dinding-dinding hangat ini, ia bisa menemukan kembali definisi sebuah keluarga. Dengan langkah yang lebih ringan, ia pun melangkah masuk.

"Kamar tamu baru mau dibersihkan sama Bi Min, sekarang Kak Lea mandi dulu di kamar mandi aku aja, aku bisa mandi di kamar mandi bawah kok," ujar Kia agak segan. Saat ia hendak berjalan melewati tubuh Lea menuju dapur, namun tiba-tiba saja Lea meraih tangannya dengan cepat.

ANTITESIS [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang