Bab 24 - Sisi lain Satria

103 31 0
                                        

Dalam setiap kekuatan, ada kelemahan.
Dalam setiap ketakutan, ada keberanian.
Dalam setiap kebaikan, ada keburukan.
Dan dalam setiap cahaya, ada bayangan.

 Dan dalam setiap cahaya, ada bayangan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹

"Kia! Lo gak lagi halu, kan? Sistem otak lo gak lagi eror, kan?" bentak Satria yang merasa tidak terima dengan ide yang diutarakan oleh Kia. Menurutnya ide seperti itu sangat konyol dan sangat gila.

"Aku serius, Kak!" ucap Kia dengan tatapan mantap.

"Maaf Kia, tapi kenapa kamu sampai memiliki ide ini?" kata Haris menengahi.

"Jadi, sejak kasus pembunuhan Ayah ramai di kalangan media, setiap hari banyak wartawan yang datangi rumah Ayah dan Tante Vanya, ada juga yang datangi hotel pas jam kerja Tante Vanya. Tapi tante Vanya selalu tutup mulut dan nggak pernah beri komentar apa pun dengan alasan tidak ingin terlalu larut dalam kesedihan,” papar Kia

Satria dan Haris menyimak dengan seksama.

“Sampai sistem keamanan rumahnya semakin ketat dan sangat tertutup, Tante Vanya membatasi pertemuan selain pertemuan bisnis penting. Dengan kata lain, saat ini tidak ada sembarangan orang yang boleh masuk ke rumah itu, termasuk aku dan Ibu. Sudah sangat pasti kita akan di usir secara tidak terhormat. Aku minta Om deketin Tante Vanya untuk cari tahu apa pun yang berhubungan dengan misteri pembunuhan Ayah. Tante Vanya pasti bisa goyah dan mungkin tanpa sengaja membocorkan sebuah rahasia yang memudahkan kita mengungkap kejahatannya."

Haris termenung, kepalanya mencerna penuturan Kia. Wajahnya terlihat gusar. Lalu ia berkata, "Kiara, semua itu tidak semudah yang kamu bayangkan. Vanya itu wanita cerdas dan gak akan sembarangan berbicara suatu hal yang menurutnya harus dirahasiakan. Om khawatir semua ini tidak akan sesuai dengan ekspektasi kamu."

Sejenak Kia terdiam seraya berpikir. Setelah membenahi kacamata, ia menarik garis bibirnya dan tersenyum penuh percaya diri. "Aku punya rencana, Om,” katanya. “Om tidak harus mengorek informasi mengenai Ayah yang membuat tante Vanya curiga. Om cukup lakukan ini dan selanjutnya kita akan tunggu hasilnya."

"Apa itu?" tanya Haris sambil mengerutkan dahi. Nampak jelas pada matanya terpancar rasa penasaran yang tinggi mengenai rencana yang dimiliki oleh gadis lugu ini. Dan Satria pun tak kalah penasaran dengan ide yang sedang Kia rencanakan itu. Apakah ini akan berjalan baik, atau sebaliknya?

🌹🌹🌹

Haris mulai merapikan jas sambil melihat arloji pada pergelangan tangannya, kemudian ia memasukkan kembali ponsel ke dalam jas yang sebelumnya tergeletak di atas meja, "Oke, sepertinya Papa harus pergi sekarang karena ada meeting dengan klien. Kamu langsung pulang ke rumah kan, Satria?" ujar Haris.

ANTITESIS [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang