Bab 3 - cowok sinting

286 74 144
                                        

Dalam setiap kekuatan, ada kelemahan.
Dalam setiap ketakutan, ada keberanian.
Dalam setiap kebaikan, ada keburukan.
Dan dalam setiap cahaya, ada bayangan.

 Dan dalam setiap cahaya, ada bayangan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹

Di kamar yang remang dengan lampu belajar menyala temaram, Kia duduk tenang di kursinya. Meja belajarnya dipenuhi buku pelajaran, pulpen warna-warni, dan secangkir cokelat panas yang uapnya mulai menipis. Tapi di antara semua itu, satu hal yang mencolok adalah novel tebal yang tengah terbuka di tangannya. Jari-jarinya menelusuri tiap baris huruf, matanya menyapu halaman demi halaman dengan antusias. Sesekali ia tersenyum kecil, kadang alisnya mengernyit, tenggelam dalam emosi yang dibawa cerita. Dunia di sekelilingnya seolah menghilang. Suara televisi dari ruang tengah, hujan gerimis di luar, bahkan gelegar petir tak menarik perhatiannya.

Novel itu membawanya ke dunia lain. Di kepala Kia, ia ikut berlari menembus kabut, merasakan ketakutan dan keberanian sang tokoh utama. Ia lupa waktu. Dan bahkan cokelat panas di sampingnya pun kini sudah dingin.

Tepat ketika Kia membalik halaman berikutnya, ponselnya berdering, dengan lampu indikator berwarna merah yang berkedip di atas layar. Hal itu menarik perhatian Kia untuk segera mengambilnya agar mengetahui notifikasi apa yang masuk pada saat itu.

Notifikasi pesan masuk itu ternyata dari sebuah grup Whatsapp kelasnya. Tentunya ini sebuah pesan baru untuknya karna Kiara baru saja bergabung pada grup tersebut setelah dimasukkan oleh Kiran ketika tadi siang merek saling bertukar nomor ponsel saat hendak berpisah dari gedung sekolah.

Matanya menatap fokus pada layar ponsel lalu meletakkan buku cerita fiksi kembali pada tempat semula. Ia membaca sebuah pesan yang di kirim oleh Aldo yang merupakan ketua kelas XI-MIPA I.

Himbauan untuk kalian semua agar besok ketika berangkat dan pulang sekolah harus berhati-hati, jangan sampai jalan sendirian dengan menggunakan atribut sekolah. Gue dapat info tadi sore anak Wirawamandala tawuran sama anak Pancadarma. Dan katanya ada satu korban yang sekarang lagi koma di rumah sakit dari anak Pancadarma. Gue yakin pasti dalam waktu dekat mereka bakal nyamperin Wiramandala untuk balas dendam. Mereka gak peduli siapa yang akan menjadi sasaran mereka yang penting balas dendam mereka terbayarkan ke anak Wiramandala. Jadi gue peringati sekali lagi buat kalian untuk selalu hati-hati.”

“Ya ampun.... Baru juga join jadi member Wiramandala udah dapat ancaman aja.” Kia menghela napas panjang dengan mata yang tetap tertuju pada pesan tersebut.

Kegiatan membaca novel ia hentikan. Ia beralih mengunjungi situs media sosialnya yang jarang sekali ia gunakan. Gadis itu mencari akun sekolah yang tidak terlalu sulit untuk menemukannya. Dan benar saja, ia langsung menemukan sesuatu yang sedang ia cari.

Pria itu...

Pria yang tadi siang berpapasan dengannya pada koridor sekolah menuju toilet, yang memberikan senyuman indah terlukis pada paras tampannya. Ia menemukan foto pria itu pada postingan teratas yang disematkan.

ANTITESIS [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang