Dalam setiap kekuatan, ada kelemahan.
Dalam setiap ketakutan, ada keberanian.
Dalam setiap kebaikan, ada keburukan.
Dan dalam setiap cahaya, ada bayangan.
******
Tekad Kia untuk mengungkap kematian ayahnya yang terasa janggal semakin kuat. Saat i...
Dalam setiap kekuatan, ada kelemahan. Dalam setiap ketakutan, ada keberanian. Dalam setiap kebaikan, ada keburukan. Dan dalam setiap cahaya, ada bayangan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Pagi itu cahaya matahari sudah menembus tirai, tapi salah satu kamar di rumah itu masih terasa seperti subuh, dingin dan gelap. Empat pemuda di dalamnya masih terlelap, mengarungi mimpi yang indah. Rey, yang tidur di pojokan kasur lipat, mulai membuka mata. Ia mengerjap pelan. Rambutnya berantakan ke segala arah, mirip sapu ijuk yang sudah lelah bekerja semalaman. Dia ganti posisi, duduk di tepian ranjang. Mulutnya terbuka lebar menangkap oksigen sebanyak mungkin. Matanya tersorot layu meratapi jendela bertamu seberkas sinar mentari, ritual wajib versi cowok. Di sebelahnya, Edo masih tengkurap dengan posisi tangan melintang, menindih bantal orang lain. Juan malah tidur telentang, mulut sedikit terbuka, mengeluarkan napas berat yang entah kenapa terdengar seperti motor bebek mogok. Riko? Dia meringkuk di ujung kasur, memeluk guling dengan wajah damai seakan hidup ini bebas dari utang dan deadline.
Rey menghela napas, lalu berdiri pelan-pelan, berusaha tidak membangunkan yang lain. Meski begitu, langkahnya tetap berisik karena menginjak plastik bekas bungkus mi instan di lantai, sisa "pesta" semalam. Pria itu berjalan pelan menuju dapur, mengambil air minum hangat yang muncul dari dispenser air. Tangannya masih mengucek mata yang masih terasa berat untuk terbuka, namun seketika matanya melebar kala melihat hidangan yang lezat tersedia tepat di hadapannya.
Pintu belakang terbuka. Sesosok wanita muncul lalu menyapa ramah, "baru bangun, Mas?"
"Iya, Bi. Semalam baru tidur jam tiga soalnya. Jadi bangun kesiangan," balas Rey.
"Bibi udah masakin nasi goreng sekalian buat sarapan teman-teman Mas Rey juga."
"Oh iya, makasih. Padahal masaknya nanti aja, mereka bangunnya juga masih lama kayaknya." Rey langsung mengambil kursi, ia merapikan posisi duduk sambil menyendoki nasi goreng itu ke dalam piring miliknya.
Seperti biasa, Rey tak banyak bicara. Ia menikmati hidangannya dengan tatapan kosong ke arah depan. Selain karena "nyawanya yang belum sepenuhnya kembali", ia juga masih merasa tidurnya belum puas namun perut dilanda kelaparan.
Saat ia asyik dengan makanan dan lamunannya, tiba-tiba saja suara deru motor yang berhenti di halaman rumah memecah keheningannya. Tidak ada niatan menilik keluar untuk memastikan siapa gerangan si penyebab kebisingan tersebut, karena ia hafal betul bahwa itu adalah suara deru motor sahabatnya.
Tidak lain dan tidak bukan adalah Satria.
"Edo, Juan, Riko di sini?" tanya Satria saat ia membuka pintu utama rumah, ia berbicara sambil berjalan ke arah dapur yang tak jauh dari tempatnya muncul.
"Iya, masih tidur," jawab Rey datar. "Nyokap lo gimana?"
"Aman." Satria langsung duduk di seberang Rey, ia mengambil sebuah gelas dan mengambil air mineral dalam dispenser, lalu meneguknya. "Gue butuh bantuan lo."