Dalam setiap kekuatan, ada kelemahan.
Dalam setiap ketakutan, ada keberanian.
Dalam setiap kebaikan, ada keburukan.
Dan dalam setiap cahaya, ada bayangan.
******
Tekad Kia untuk mengungkap kematian ayahnya yang terasa janggal semakin kuat. Saat i...
Dalam setiap kekuatan, ada kelemahan. Dalam setiap ketakutan, ada keberanian. Dalam setiap kebaikan, ada keburukan. Dan dalam setiap cahaya, ada bayangan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Matahari yang sebelumnya sangat cerah dan terik, kini cahayanya perlahan melembut seiring pergerakannya bergeser menuju ke arah barat. Lalu lintas siang menjelang sore hari cukup sibuk karena bertepatan dengan kepulangan anak sekolah maupun para pekerja yang telah menyelesaikan shift paginya.
Dewa melajukan kendaraannya dengan santai, sambil menikmati udara sekitar yang cukup segar karena ia belum melewati jalanan pusat ibu kota.
Namun saat ia hampir mendekati lalu lintas kota terutama wilayah yang terdapat lampu merah, Dewa membelokkan laju kendaraannya ke arah lain dan memilih melewati jalanan kecil bahkan sampai memasuki gang-gang kecil area padat penduduk.
"Loh? Arah rumah aku kan ke sana, Kak? Ini kita mau ke mana dulu?" tanya Kia, agak berteriak agar Dewa dapat mendengar jelas ucapannya.
"Ini sama aja arah rumah kamu, cuma aku lebih suka pakai jalan lain dari pada lewatin lampu merah," sahut Dewa, yang intonasi suaranya mengimbangi Kia.
"Emangnya kenapa? Bukannya lebih cepat lewat jalan raya ya? Lewat sini malah susah masuk gang-gang kecil."
"Iya juga sih... tapi ini teh serius kan mau ke arah rumah aku? Soalnya aku di suruh langsung pulang sama Ibu hari ini."
"Aman, aku gak akan culik kamu kok, paling kita sampai rumah kamu agak telat dua puluh menit aja."
"Oke," singkat Kia.
Sebetulnya Kia merasa ada yang aneh pada sikap Dewa. Apa mungkin pria itu memiliki kebiasaan buruk dalam menguji kesabaran saat mengalami kemacetan di jalan raya? Atau mungkin dia tidak merasa nyaman karena harus menunggu lama lampu lalu lintas berubah menjadi kembali hijau pada saat sinar matahari sangat terik? Apa mungkin dia takut kulitnya terbakar? Tapi rasanya tidak, Kia melihat Dewa bukan tipikal pria yang sangat menjaga perawatan kulit dan wajahnya, terlihat dari warna dan tekstur kulit wajahnya yang seperti kebanyakan pria pada umumnya.
Banyak sekali teka-teki pada diri Dewa yang cukup sulit untuk Kia tebak. Dari mulai alasan pria yang terlihat baik ini ternyata adalah seorang hacker berbahaya, misteri asal-usul orang tuanya yang cukup aneh, misteri ancaman apa yang Dewa berikan terhadap Salsa yang langsung nampak diam tanpa bergerak memberi ancaman pada dirinya yang ia kira perusak hubungannya bersama Dewa, dan kini alasan pria itu tidak suka keramaian jalan raya karena kemacetannya?
Rencana Dewa untuk menghindari kemacetan ternyata tidak sesuai ekspektasi. Saat motor yang ia kendarai keluar dari gang kecil dan menuju ke jalanan raya yang cukup besar, ternyata mereka tetap menemukan sebuah kemacetan, bahkan ini lebih buruk di banding kemacetan yang disebabkan oleh lampu merah.