Ayana :Na, Alka ketemu.
Senjana :Dimana Alka sekarang, Yana ?
Ayana :Dia ada dirumah sakit sekarang, aku mendapat kabar dari Ayah.
Senjana :Di rumah sakit, Apa yang terjadi ?
Ayana :Kemarilah, Na. Kamu akan tahu kondisinya sekarang.
Senjana :Apa maksudmu ?
Ayana :Dia sedang ada di ruang operasi, sedang di tangani Ayah saat ini dan sebaiknya kamu lekas kemari.
Senjana :Aku kesana sekarang.
Setelah mendapat pesan dari Ayana, Senjana bergegas menuju ke rumah sakit.
"Mana Alka ?" Dengan langkah terburu dan juga pikiran kacau, Senjana berlari menuju ruang operasi yang ia yakini lelaki yang ia cintai sedang mempertaruhkan nyawanya disana.
"Tenang, Na. Alka sedang di tangan Ayah di dalam sana." Ayana mencoba untuk menenangkan sahabatnya.
"Dokter Andrean ? Kenapa bukan Arthur yang menangani operasi ini, Ayana ?" Tanya Senjana.
"Arthur tidak sanggup, bahkan ia sendiri dalam kondisi yang syok saat ini. Ia tengah di rawat di UGD karena tiba tiba pinsan saat melihat kondisi Alka."
"Apa separah itu, Yana ?"
"Biar Ayah yang memberikan detailnya nanti." Ayana benar benar tidak sanggup untuk menjelaskan bagaimana kondisi Alka saat ditemukan. Ia tak mampu berucap apapun, mulutnya terasa ngilu setiap kali ia ingin berucap. Terlebih lagi melihat kondisi Senjana saat ini, ia yakin sahabatnya pun tak akan mampu untuk mendengarkannya.
Lima jam berlalu, lampu merah berganti warna menjadi hijau yang menandakan operasi sudah selesai. Seorang Dokter paruh baya keluar dari ruang operasi dan melihat dua orang wanita tengah berpelukan di samping pintu ruang operasi, lantas dokter itu menghampiri kedua wanita itu tadi.
"Ayana " Panggil sang ayah pada putrinya.
"Bagaimana operasinya, Ayah ?
"Operasinya berjalan lancar, tapi.." Dokter Andrean mengambil jeda, ia bahkan ragu untuk melanjutkan ucapannya kala melihat gadis yang berada di sebelah putrinya yang sudah ia anggap sebagai putri kandungnya sendiri.
"Tapi kenapa, Ayah ?"
"Senjana maafkan Ayahmu ini, Nak. Ayahmu ini hanyalah manusia biasa, kamu harus bisa menerima takdir dari Tuhan." Dokter Andrean tidak mampu menatap putri angkatnya itu, ia menunduk lesu..
"Apa yang terjadi dengan Alka, Ayah ?"
"Bahunya mengalami cidera, ada masalah pada saraf kakinya yang membuatnya mengalami kelumpuhan. Untuk detailnya akan saya jelaskan di ruangan saya nanti. "
"Ayah jangan becanda, tolong katakan bahwa ini bohong " Bak tersambar petir di siang bolong, ini benar benar membuat Senjana syok . Tubuhnya lunglai, nafasnya tercekat dan akhirnya pun ia roboh.
"Suster, tolong bawa pasien ini ke ruang UGD "
Satu jam kemudian, Senjana membuka matanya. ia melihat sekeliling, ia sadar jika dirinya saat ini berada di ruang UGD.
"Mana Alka, Yana ?" Tanyanya ketika melihatnya sedang duduk di kursi sebelah ranjangnya.
"Alka sudah di pindahkan di ruang VIP, apa kamu ingin melihatnya ?"
"Sebenarnya apa yang terjadi ?"
"Alka di temukan oleh seorang petani di sebuah lahan kosong di sukabumi. Disana ia sempat di larikan di rumah sakit, namun karena fasilitasnya kurang memadai, lantas ia di rujuk ke rumah sakit ini. Arthur lah yang menyadari jika itu Alka, sewaktu Alka datang kondisinya sangat memprihatinkan dan itu yang membuat Arthur syok dan jatuh pinsan."
"Sukabumi ? Mengapa ia bisa berada di tempat itu ?"
"Entahlah, mari kita tanyakan pada Alka ketika kondisinya sudah membaik, tapi.. " Ayana menjeda kalimatnya, ia bingung untuk melanjutkannya.
"Aku bisa menerima kondisi Alka, aku harus kuat. Jika aku rapuh, bagaimana dengan Alka ?" Dengan senyum tegarnya, Alka bangun dari ranjangnya dan berjalan menuju ruangan Alka di rawat saat ini.
Sejenak ia memandangi pintu kamar itu, menghela nafas pelan, menghapus sisa air matanya dan menarik senyum dari sudut bibirnya. Ia tak ingin jika kekasihnya membuka matanya nanti dan melihat kondisinya sedang terpuruk. Ia harus menampilkan sosok tegar untuk memberi kekuatan pada Alka. Senjana masuk ke dalam kamar Alka, ia sungguh terkejut ketika melihat banyak sekali alat yang terpasang di tubuh Alka.
"Hey, aku disini." Ucapnya pada sang kekasih yang masih saja memejamkan matanya. Tak ada respon, hanya ada detakan jantung dari dalam monitor.
"Kamu tau, aku merindukanmu. Aku takut kamu pergi jauh, jadi ayo buka matanya. Alka sayang, Nana rindu pelukan hangat dari Alka." Tess, air mata yang ia tahan sejak di pintu masuk tadi tak dapat ia tahah lagi, wanita mana yang kuat melihat kekasih yabg sangat ia cintai tengah terbaring lemah di ranjang.
Tanpa Senjana sadari, tubuh Alka merespon. Buliran cairan bening keluar dari sudut mata Alka, jari tengahnya bergerak perlahan.
"Alka, aku akan tetap disini sampai kamu membuka matamu. Aku yang akan menjadi orang pertama yang akan kamu lihat ketika kamu terbangun dari tidurmu."
"Sayang kamu pasti lelah, Jadi tidurmu agak lama. Gapapa, Alka tidur yang nyenyak biar Nana temani disini." Setelah itu Senjana membaringkan kepalanya di ranjang milik Alka, dan ikut tertidur disana.
Diluar terlihat dua orang sedang berdiri mematung menatap nanar pintu kamar tersebut.
"Apa Alka akan sembuh, Yana ?" Terdengar suara parau yang sedang mencoba menahan getiran tangisnya.
"Arthur, ayo kuat demi Alka." Iya benar, mereka berdua adalah Arthur dan juga Ayana. Arthur mencoba sekuat tenaga untuk menahan tangisnya, terlihat dari bahunya yang bergetar hebat dan luka di bibirnya saking kuatnya ia menggigit menahan amarah.
"Siapa ? Siapa yang setega itu mencelakainya ? Apa kesalahannya sampai dia menyiksa Alka seperti itu ?" Arthur sungguh tak habis pikir, monster seperti apa yang tega melakukan perbuatan serendah itu.
"Bisakah kamu tenang ? Jika kamu tidak bisa mengontrol dirimu lebih baik kita kembali ke ruanganmu saja."
"Aku bersumpah akan menemukan siapapun orangnya dan akan ku buat dia membayar semua perlakuannya pada Alka." Setelah itu Arthur berjalan kembali ke ruangannya. fikirannya sungguh kacau saat ini, dendam dan amarah mengusai dirinya.
Ayana yang melihat itu tak mampu lagi untuk berucap, Sesekali ia hanya menghela nafas. Baru kali ini ia melihat kabut kemarahan yang luar biasa dari Arthur. Lelaki penyabar itu mendadak menjadi lelaki yang hilang kendali.
Senjana terbangun ketika ia mendapat beberapa pesan masuk dari Kenzio dan Bara. Kenzio mengatakan jika dirinya tak dapat pulang karena tidak mendapat ijin cuti dari bossnya. Senjana bisa memaklumi apalagi dia baru saja bekerja, mana mungkin akan mendapat ijin pulang. Biarlah dia fokus pada pekerjaannya, yang terpenting sekarang Alka sudah di ketemukan.
Sedangkan Bara, ia bertanya bagaimana perkembangan kasus Kakaknya. Dengan berta hati, Senjana harus mengatakan hal yang sebenarnya. Tidak mungkin ia akan menutupi segalanya dari Bara, biar bagaimanapun Bara berhak untuk mengetahui kondisi kakaknya saat ini.
"Aku bisa, aku akan kuat demi Alka. Aku akan tegar dan menerima bagaimanapun kondisi Alka." Ucap Senjana sembari menghapus air matanya.
"Bukalah matamu, Alka. Lihatlah pelangi yang ada di sampingmu ini, pelangimu meredup tertutup kabut hitam, Sayang."
"Apa kamu terlalu lelah ? Hingga kamu tak ingin membuka matamu ?"
KAMU SEDANG MEMBACA
SKY OF LOVE
FanfictionKisah Cinta yang di iringi banyak sekali Air mata mungkin akan cocok untuk di deskripsikan dalam lembaran kisah cinta ini.
