"Bryan, bisa kita bicara sebentar ?" Ajak Alka, ia sedikit khawatir dengan dendam yang di miliki Bryan. Alka memang ingin membalaskan dendam untuk adiknya, tapi bukan berati dia mau menghilangkan nyawa orang lain.
"Kenapa ? Lo kasihan dengan mereka ?" Jawab Bryan, namun sorot pandangnya menatap kebawah, ia tak ingin melihat mata Alka, itu hanya akan membuatnya lemah dan berubah pikiran.
"Niat kita bukan untuk membunuh, Yan." Kali ini Calvin ikut menimbrung, ia setuju dengan ajakan Alka.
"Kenapa ? Apa penderitaan gue tidak cukup membuat kalian menjadi iba ? Sejak kecil gue dirundung, sejak kecil selalu di bully sama dia. Penderitaan yang gue alami menyakitkan, sakit hati yang tidak memilik obat untuk menyembuhkannya."Lirih Bryan, namun masih bisa di dengar oleh Alka dan juga Calvin.
"Kita tahu, bukankah kita selalu bersama lo ? Kita melewati masa itu bersama, setidaknya gue iri sama lo, Bryan. Gue punya Ayah tapi tidak pernah mendapatkan sosok peran dari Ayah. Apa yang beda dari kita ?"
"Setidaknya lo tahu siapa Ayah lo, Ayah lo nyata, Ka. Sedangkan gue ? Sejak bayi gue gak tau seperti apa wajah Ayah gue, gue gak pernah mengenal sosoknya. Gue cuma punya Mamah, tapi gue juga di tinggalkan Mamah." Kesal Bryan, namun Alka membalasnya dengan senyuman, ia membalas dengan kepala dingin.
"Kalau lo lupa, biar gue ingetin. Nyokab gue meninggal karena bunuh diri, bukankah kita memiliki kesamaan ? Nyokab gue juga depresi karena perilaku bokap gue. Lo enggak sendirian di dunia ini, gue juga punya masalah yang sama kaya lo." Terang Alka, ia mencoba menasehati Bryan dengan lembut.
"Kenapa kalian berpikir seperti itu ? Bukankah kalian punha gue ? Kasih sayang yang diberikan orang tua gue buat kalian itu merata, kita tidak pernah di beda bedakan. Kalian punya gue, kalian tidak sendirian." Saut Calvin, ia tidak kuat mendengar kalimat apapun yang keluar dari mulut dua sahabatnya ini.
"Calvin benar, kita masih memiliki kasih sayang dari orang tua angkat kita."
Bryan sejenak memikirkan ucapan dua sahabatnya ini, lalu atensinya beralih pada Arnold dan juga Frederick yang masih lemas karena ketakutan. Bayangan kematian seakan melintas di kepala mereka. Dengan senyum smirk andalannya, Bryan mengahmpirinya, menatap mata mereka satu persatu dengan intens.
"Kenapa kalian begitu ketakutan ? Apa kalian berpikir ajal kalian sudah dekat ?" Tanya Bryan kepada dua orang tersebut.
"Bryan." Ucap Alka sembari menepuk bahu sahabatnya, ia takut jika nasehatnya akan di anggap angin lalu oleh Bryan. Seharusnya ada Kenzio disini, hanya dia satu satunya orang yang dapat meluluhkan kerasnya hati Bryan.
"Lo tenang saja, gue gak bakal lakukan itu. Gue gak bakal cabut nyawa mereka sesuai permintaan lo, tapi gue punya permainan lain yang lebih menyenangkan." Saut Bryan sambil melepaskan tangan Alka yang berada di bahunya.
"Permainan apalagi, gue gak bisa tenang kalau lo yang menentukan permainannya." Ucap Calvin, firasatnya selalu mengatakan yang buruk setiap kali melihat ekspresi sus dari Bryan ini.
"Mana cambuk gue, Ka ?"
"Lo mau buat apa ?" Tanya Calvin yang penasaran.
"Kenapa lo begitu cerewet sekarang, Vin ? Lo enggak mau kalau gue bunuh dia, kan ? Lo penasaran dengan apa yang gue lakuin ke Alka dulu ?" Seringai yang begitu menakutkan terpancar jelas di wajah Bryan.
"Lo mau lakuin itu ke mereka ?" Tanya Alka, wah ini sama saja membangkitkan kembali trauma yang Alka miliki.
"Kenapa ? Bukannya lo menikmatinya dulu ? Kalau lo gak kuat, biar gue saja yang melakukannya."
"Kenapa lo berubah jadi psikopat, Bryan ?" Teriak Calvin tidak percaya, atensi Calvin tertuju pada Alka yang saat ini wajahnya memucat.
Diatas Alka masih ada Bryan, itu kata yang pas untuk menggambarkan kegilaan ini. Meskipun Alka terlihat kejam, namun ia masih memiliki hati nurani. Berbanding terbalik dengan Bryan, karena Bryan lebih mengedepankan emosinya.
"Lo kuat ? Lo keluar dulu, Ka." Ajak Calvin, ia tidak tega jika harus melihat Alka yang bergelud dengan rasa trauma saat ini.
"Gue gapapa, gue mau lihat sejauh apa Bryan melakukan ini." Tolak Alka, setidaknya jika sudah kelewatan, maka ia bisa sesegera mungkin untuk menghentikannya. Ia tidak mau jika orang lain merasakan apa yang ia rasakan, penyiksaan itu terlalu berat jika di lakukan pada tubuh manusia.
Bryan seakan tidak menggubris dengan apa yang di katakan Calvin, ia hanya fokus pada pembalasan dendam. Atensinya hanya tertuju pada Arnold, karena sejujurnya ia tidak memiliki masalah apapun dengan Frederick. Tangannya saat ini tengah memegang sebuah cambuk yang terbuat dari rotan. Di matanya terlihat kobaran api yang begitu dahsyat, rasanya tidak sabar menghancurkan tubuh manusia yang berada tepat di depannya.
"Vin, gue rasa gue pengen muntah." Ucap Alka, traumanya kini mulai menjalari dirinya. Mengingat cairan asam klorida yang pernah masuk ketubuhnya, mengingat cambuk, tongkat bisbol dan tongkat golf pernah menyentuh tubuhnya. Hal ini membuatnya pusing dan rasa ingin muntah.
"Kita keluar dulu, Ka." Seret Calvin, ia tidak perlu lagi mendapat persetujuan dari Alka. Ini akan lebih berbahaya jika Alka teris berada disini.
"Ka, apa yang lo ingat ?" Tanya Calvin setelah mereka keluar dari gedung itu.
"Gue gapapa, perut gue kerasa kram ."
"Vin, gue gak tahu apa yang ada di fikiran Bryan saat ini, otaknya di penuhi dendam kesumat. Dari sorot matanya pun terlihat, jika ia ingin menghabisi nyawa Arnold."
"Apa yang gak gue tahu, pasti lo tahu. Makanya lo mencegah Bryan buat melakukan hal itu. Sebenarnya ada apa, Ka ? Mengapa gue seperti orang bodoh yang tidak tahu apa apa."
"Lo inget waktu kita masih sekolah dasar dulu ? Saat Bara di ganggu oleh Arnold dan Bara mendatangi kita di kelas. Entah itu awal mula atau bukan, yang jelas itu pertama kali gue tahu Arnold merundung Bryan."
"Lalu ?"
"Itu semakin berlanjut sampai kita kuliah, bukannya lo sering menemani Bryan dulu, mana mungkin lo tidak tahu apapun, Vin."
"Bryan tidak pernah menceritakan masalahnya sama gue, dia selalu memendamnya sendirian. Ka, dulu setiap kali ia ijin untuk pergi ke gramedia atau pergi kerja part time, Bryan selalu kembali membawa luka, entah itu di wajah atau ditubuhnya. Setiap gue tanya, dia selalu marah dan menuduh gue ikut campur dalam masalahnya. Sejak saat itu, gue berusaha tidak peduli dan mengabaikan luka lukanya. Tapi gue sekarang menyesal, ternyata banyak sekali ya ia alami saat itu." Terang Calvin.
"Bryan selalu menyembunyikan itu semua dari kita, entah sejak kapan ia mulai tidak mempercayai kita lagi. Dia menjadi pendiam dan menjadi sosok yang misterius, Bryan saat itu manjadi orang asing bagi kita."
"Ka, apa kita harus mengehntikan kegilaannya saat ini ?" Tanya Calvin, namun hanya di balas gelengan kepala sama Alka.
"Biarkan saja, biarkan Bryan membalaskan semua perilaku Arnold. Kali ini gue gak mau ikut campur dalam masalahnya, biarkan Arnold mendapat balasan atas semua perbuatannya."
"Jadi kita hanya menunggu saja sekarang ?"
"Iya, kita hanya bisa menunggu di luar, gue bukannya tidak berani membalaskan dendam Bara, tapi biarlah Bryan yang melakukannya dengan caranya sendiri." Ucap Alka dengan senyum tipisnya dan hanya di balas anggukan kepala oleh Calvin.
KAMU SEDANG MEMBACA
SKY OF LOVE
FanfictionKisah Cinta yang di iringi banyak sekali Air mata mungkin akan cocok untuk di deskripsikan dalam lembaran kisah cinta ini.
