Bab #37 ( Siapa sebenarnya ?)

39 8 0
                                        

Setelah mendengar kabar tentang kondisi Alka, Bara segera mengemasi barang barangnya, ia sudah tidak peduli dengan janji yang ia buat dengan Alka sebelumnya. Bagaiman mungkin Alka akan menepati janjinya,  sedangkan kondisinya saat ini tengah kritis.

Bara menghubungi Nando terlebih dahulu, untuk menjemputnya pulang, karena tidak mungkin dia akan menghubungi Ayahnya. Toh untuk apa juga menghubungi orang tuanya, mereka juga tidak akan peduli bagaimana kondisi anak mereka. Yang ada di pikirannya hanyalah uang uang dan juga kekuasaan. Jadi lebih baik mereka tidak tahu, akan lebih kasihan pada Alka jika orang tuanya tau namun tetap tidak peduli.

Pukul 12.15 Wib, pesawat dengan rute penerbangan Kuala Lumpur - Jakarta akhirnya landing di bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta Timur.

Seorang pemuda lengkap dengan kaca mata hitamnya tengah menyeret koper berukuran sedang, ia berjalan dengan lemahnya di koridor bandara, Matanya celingukan kesana kemari mencari sosok temannya. Dirasa tak menemukan orang yang ia cari, lantas ia memutuskan untuk menunggunya di kursi tunggu yang ada di bandara.

Sesekali ia menghela nafasnya secara kasar, otaknya penuh dengan pikiran pikiran yang buruk. Oh jangan lupakan kacamata hitamnya, karena di balik kaca mata hitam itulah ia menyembunyikan mata sembabnya.  Yah memang di sepanjang perjalanan tadi ia menghabiskan waktunya untuk menangis.

"Bara." Terdengar sebuah panggilan suara yang cukup keras memanggil namanya, Itu membuatnya cukup terkejut dan membuyarkan lamunannya. Kepalanya celingungan mencari sumber suara tadi.

"Nando, darimana saja ?" Tanya nya ketika ia sudah menemukan sumber suara yang ternyata adalah milik sahabatnya yang sedari tadi berdiri di pintu exit. Dengan segera Bara berjalan ke arahnya.

"Sorry, tadi jalannnya macet banget. Ayo pulang, sini kopernya biar gue yang bawa."

"Ke rumah sakit ya, Ndo. " Pinta Bara dengan nada lemahnya, tenaganya sudah habis tersedot di perjalanan tadi. Walaupun cukup singkat perjalananny, entah mengapa itu begitu melelahkan.

"Lo pasti capek, kita ke appartemen dulu ya buat istirahat sebentar. Setelah itu kita ke rumah sakit." Bujuk Nando, ia sungguh tidak tega melihat sahabatnya seperti ini.

"Alka pasti nungguin gue Ndo."

"Oke, kita ke rumah sakit sekarang " Final Nando, mana bisa menolak kalau Bara sudah bersikers seperti ini.

Di sepanjang perjalanan, Bara hanya menatap luar jendela. Sorot pandang matanya kosong.

"Nangis aja gapapa, lo engga perlu nyembuyiin kelemahan lo di depan gue. Gue tau, saat ini lo sedang berusaha buat nyembunyiin kesedihan lo dari balik kaca mata hitam itu."

"Alka baik baik saja kan, Ndo ?" Hanya itu kalimat yang keluar dari Bara.

"Semoga baik baik saja, lo tenang dulu."

45 menit kemudian, mobil Nando berhenti di depan pintu masuk rumah sakit.

"Lo masuk dulu, Bar. Biar gue parkir mobilnya."

Tanpa pikir panjang Bara keluar dari mobil, ia berlari menyusuri koridor rumah sakit setelah di beritahu ruangan Alka di rawat saat ini. Kakinya berhenti di sebuah ruangan VIP, ia berdiri cukup lama di depan pintu itu. Kakinya terasa lemas saat ini, ia membayangkan bagaimana kondisi kakaknya di dalam sana.

"Kamu ngapain berdiri di depan pintu ? Ayo masuk "

"Na, darimana ?"

"Habis beli makan, ayo masuk kedalam."

Pintu di buka menampilkan sosok pemusa yang tengah terbaring lemah di atas kasur dengan berbagai alat yang terpasang di badannya. Tubuhnya ambruk karena kakinya tak kuat menopang tubuhnya, bayangan hal hal buruk itu benar benar terjadi, kakaknya sedang berjuang dalam hidup dan mati.

"Na, boleh tinggalkan kami berdua ?" Pinta Bara, namun sorot matanya tetap mengarah pada Alka.

"Iya, aku akan menunggu di luar." Setela itu Senjana keluar dan meninggalkan dua kakak beradik itu dalam satu ruang

"Kak, apa yang terjadi ?" Ucap Bara pada sosok Alka yang masih enggan untuk membuka matanya.

"KAK, JAWAB BARA." Tangis air mata Bara pecah saat itu juga, tangannya dengan erat menggenggam tangan milik Alka.  Dengan deraian air mata ia memeluk tubuh lemah kakaknya. Sangat lama ia di posisi itu, enggan rasanya untuk melepas pelukan itu.

"Kak ayo bangun, adek ada disini."

"Bangun, Kak. Adekmu sudah pulang. Bara janji, Bara akan menurut semua kemauan lo.  Bangun Alka bangun." Tangisnya semakin menjadi, dengan sekuat tenaga ia mengguncangkan bahu kakaknya, berharap kakaknya agar segera membuka mata.

"Andaikan gue gak pergi saat itu, andaikan gue gak pergi ke appartemen lo malam itu, ini semua tidak akan terjadi, kan ? Gue hanya beban buat lo, gue yang selalu nyusahin lo. Gue mohon bangun, Alka. Lo sayang sama gue, kan ? Lo engga mau liat gue nangis, jadi gue mohon buka mata lo.

Seperti hal nya Senjana kemarin, tubuh Alka merespon, buliran bening menetes dari sudut matanya. Meski begitu, Alka tetap enggan untuk membuka matanya.

"Hey, jangan menangis." Bara yang menyadari itu berusaha untuk mengusap air mata Alka

"Gue tau, lo enggak suka liat adek lo cengeng. Iya gue gak bakal nangis lagi."

Sementara itu,  dari balik pintu ada empat orang yang sedang mematung memandangi pintu ruangan milik Alka dengan berbagai macam ekspresi yang berbeda beda. Mereka adalah Senjana, Ayana, Arthur dan juga Nando.

"Gue engga tega ngeliat Bara seperti itu,  gue ngerasain sehancur apa dia saat ini." Ucap Nando sembari mengusap air matanya.

"Sama halnya dengan lo, gue gak tahu harus bagaimana lagi, gue gak bisa lihat Alka seperti ini." Arthur pun juga merasakan hal yang sama.

"Diantara kita semua, Bara yang paling hancur. Kita semua tahu bagaimana hubungan mereka berdua." Ucap Ayana menimpali. sementara Senjana hanya diam, entah apa yang di pikirannya saat ini. Ekspresinya sungguh tidak dapat di prediksi.

"Gue pergi dulu, gue mau ke toiltet." Pamit Senjana pada ketiga temannya.

Bukan toilet tujuannya, melainkan ia berlari menuju taman yang berada di luar rumah sakit. Sebelum ia sampai di pintu keluar, ia berpapasan dengan pasien emergency yang sedang di bawa oleh perawat. Pasien itu nampak tidak asing baginya, sejenak ia berpikir, dan...

"Grey ?" Ucapnya spontan, ia berlari mengikuti perawat yang membawa pasien itu tadi.

"Anda mengenalnya, nona ?" Ucap salah seorang perawat.

"Iya, itu teman saya. Apa yang terjadi ?"

"Pasien itu di temukan di sebuah lahan kosong di sukabumi, tadi ada beberapa orang yang membawanya kemari." Ucap perawat itu.

"Sukabumi ? Mengapa tempat penemuannya sama dengan Alka, ada apa ini sebenarnya ?"

"Terima kasih, nanti saya akan datang kembali untuk menemui pasien."

Dengan langkah yang terburu, Senjana kembali keruangan Alka dan menyampaikan kepada ketiga teman temannya tentang Grey yang ia temui di koridor rumah sakit tadi.

"Grey ? Grey Anastasya istrinya Bara ?" Pekik Nando, matanya melotot sejenak ke arah pintu, apa dia akan mengatakannya pada Bara jika Grey sudah di temukan ? Tapi kondisi Bara saat ini masih labil

"Jangan beritahu Bara dulu, biarkan dia tenang." Ucap Senjana ketika ia menyadari arah fikir dari Nando.

"Oke, kita sembunyikan dulu dari Bara." Ucap mereka semua dengan serempak.

****

"Ada hal aneh yang menurutku sangat ganjal, bagaimana Alka dan Grey di temukan di tempat yang sama ? Sama sama di Sukabumi.  Ini bukan hal yang kebetulan dan tidak wajar."

"Bagaimanapun juga aku harus menyelidikinya, siapa orang yang berada di balik ini ? Monster ini harus di temukan." Ucap Senjana sembari memandangi pintu kamar milik Alka.

SKY OF LOVE Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang