Aku pikir menikah dengan Bara, kehidupan akan sempurna bak seperti ratu di negeri dongeng yang di manja dengan harta dan penuh cinta. Ternyata salah, hidupku hancur tersiksa seperti di neraka. Sosok Bara yang lemah lembut dan penyayang yang dulu ku kenal kini telah hilang, dan berubah menjadi sosok iblis kejam yang menakutkan.
Dia memborbardir masalahnya padaku, setiap hari selalu pulang larut malam dengan keadaan yang sangat kacau dan bau alkhol yang menyengat. Itu menjadi hirupanku setiap harinya. Bara tak pernah menyentuhku dengan sentuhan lembut sejak pertama kali kami sah menjadi suami istri. Bahkan malam pertama kami, aku melewatinya dengan kesendirian. Dia terus saja menyalahkanku tentang pernikahan kami, dia seperti orang murka yang siap mengamuk kapan saja.
Bahkan dalam keadaan mabuk, wanita yang ia ingat hanyalah Senjana. Aku tidak menyalahkan Senjana, karena akulah yang bersalah disini. Tapi apa aku egois jika menginginkan kebahagiaanku ? Aku hanya menginginkan Bara, dia satu satunya sumber kebahagiaanku. Dia selalu mengatakan ' Jangan pernah menyentuhku, kamu hanyalah badai petir yang datang di tengah kehangatan sinar matahari ' Apa sungguh, di matamu aku hanyalah simbol kehancuran ?
Sungguh, tidak bisakah kamu mencintaiku seperti dulu lagi, Bara Abrasyam ?
" Sungguh, apakah hanya Senjana pelangi di matamu dan aku hanya simbol kehancuranmu, Bara ?" Monolog Grey pada dirinya sendiri, isakan demi isakan, tetesan demi tetesan tertumpah dari sudut mata Grey Anastasya. Suami yang sangat ia cintai selalu mempunyai pikiran yang buruk terhadapnya. Apa seburuk itu dirinya di mata sang suami ?
"Grey, dimana lo ?" Teriak Bara ketika baru saja memasuki appartemennya.
Grey yang mendengar teriakan itu dengan cepat menghapus air matanya, ia tidak mau Bara melihatnya sedang menangis karena itu hanya akan membuat suaminya semakin murka terhadapnya.
"Aku di dapur, Bara " Teriak balik Grey dari arah dapur. Mendengar hal itu, Bara kemudian buru buru berjalan ke arah dapur untuk menghampiri 'istrinya'
"Kemari ?" Seret Bara saat ia melihat sang istri tengah tersenyum manis dan sedang membuatkan teh untuknya.
"Sakit, Bara " Ringis Grey saat pergelangan tangannya di tarik paksa oleh Bara. Dan melemparkan dirinya dengan sangat keras di sofa.
"Mulai sekarang, setiap kali ingin berbicara dan berkomunikasi lewat chat saja, gue males denger suara lo " Ucap Bara penuh penegasan.
"Meskipun kita sedang di rumah ?" Tanya Grey seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar dari mulut suaminya.
"Iya, gue gak mau gendang telinga gue ternodai sama suara lo. Gue cuma mau denger suara lembutnya Senjana " Ucap Bara dengan kalimat sarkasnya.
"Bara, mau sampai kapan kamu memperlakukanku seperti ini ? Aku seorang wanita dan aku juga memiliki hati. Hati wanita mana yang tidak hancur diperlakukan seperti ini oleh suami yang sangat aku cintai" Jawab Grey dengan air mata yang sudah keluar dengan derasnya. Ia tak mungkin lagi membendung air matany, hatinya terluka oleh ucapan sarkas yang keluar dari mulut Bara.
"....." Bara hanya diam, namun dari sorot matanya terlihat aura kebencian yang sangat dalam.
" Tolong hargai aku sebagai istrimu dan tolong cintai aku seperti dulu, Bara " Mohon Grey sembari memeluk kaki sang suami.
"Hargai, cintai ? Lo itu sadar gak kalau lo seperti barang kadaluarsa yang sudah tidak layak konsumsi. Cinta itu sudah gue kubur ke dalam inti bumi, jadi bagaimana caranya buat gue ngambil cinta yang sudah terkubur sedalam itu ? Lagian jangan salahin gue yang bersikap seperti ini, lo sendiri yang meminta gue buat jadi suami lo dan dengan cara berbohong dan memaksa bokap lo. Lo yang menjebak gue, Grey "
" Lantas kenapa kamu mau menerima pernikahan ini ? Kamu sendiri yang memberiku harapan dengan jauh jauh mendatangiku ke jogja, Kamu yang membuatku berpikir bahwa kamu masih mencintaiku, kamu yang membuatku berpikir untuk memperjuangkanmu lagi. Kenapa hanya diam ? Kamu tidak bisa mengelaknya, bukan ? Katakan, Kenapa kamu tidak menolaknya dulu, Bara ?"
"Sssst Diam, lo pikir gue cinta sama lo ? Gue cuma pengen ngasih pelajaran sama lo. Gue gunain kesempatan itu buat lo jatuh cinta kembali sama gue, lalu gue tinggalin seperti apa yang lo lakuin ke gue dulu. Gue pengen ngehancurin lo sehancur hancurnya "
"Hentikan, Bara. Kamu kenapa terus terusan menyakiti perasaanku ? Aku hanya berharap agar Bara kembali seperti dulu dan mencintaiku. Aku sudah minta maaf tentang apa yang aku lakukan dulu, apa itu masih kurang ?"
"Itu resiko karena lo memilih untuk menikah sama gue, lo akan ngerasain hidup seperti neraka bersama gue. Jadi lo nikmatin pilihan lo itu " Ucap Bara sembari menyeringai dengan sangat seram yang membuat Grey ketakutan.
"Lebih baik kamu ceraikan aku, Bara. Aku engga mau hidup seperti mayat bersamamu "
"Tidak segampang itu, setelah lo ngehancurin hidup gue, sekarang lo minta di lepas ? Jangan terlalu berharap, Grey."
Setelah itu Bara keluar dari Appartemen dan meninggalkan Grey yang tengah menangis ketakutan. Ingin sekali ia pergi dari sini, namun pintu selalu di kunci rapat oleh Bara. Selain itu ponselnya disita dan ia tak bisa menghubungi siapapun. Telephon yang berada di appartemennya pun sengaja diputus oleh Bara salurannya. Seniat itu kamu, Bara ?
"Jika aku tau merebut Senjana dari Bara hanya akan membuatku menderita seperti ini, aku tidak akan pernah melakukannya "
"Aku tidak mau hidup terkurung di neraka seperti ini, siapapun tolong keluarkan aku dari sini " Ucap Grey yang terus menangis ketakutan.
****
Dua hari tanpa kabar dari Senjana membuat Bara gila, ia sepeti seseorang yang tengah depresi karena kehilangan cintanya. Saat ini ia tidak tau harus pergi kemana, pulang ke Appartemennya hanya membuatnya semakin gila karena kehadiran Grey. Nando ? Yah benar, satu satunya orang yang bisa ia datangi dan ia percayai bisa membantunya hanyalah Nando, sahabat terbaiknya.
Bara mengarahka mobilnya ke appartemen milik Nando, jarak tempuhnya lumayan dekat jadi tidak membutuhkan waktu lama. Setelah sampai, ia buru buru masuk dan mencari kamar milik Nando. Bara memencet bel berulang kali, berharap si pemilik Appartemen ada di dalam dan membukakan pintu untuknya. Tak menunggu lama, pintupun terbuka menampilkan seorang pemuda yang masih setengah sadar sembari mengusap usap matanya agar dapat melihat jelas siapa tamu yang datang di larut malam seperti ini.
"Bara ?" Ucap Nando yang sedikit terkejut melihat sosok sahabatnya yang tengah berdidi di depannya dengan tampilan yang acak acakan.
"Nando, gue boleh masuk ?"
"Ayo masuk, tumben lo malam malam kemari "
"Gue tengah frustasi saat ini, Ndo." Balas Bara sembari meraup wajahnya.
"Kenapa ? Lo bisa cerita ke gue pelan pelan "
"Gue kehilangan Senjana, sudah dua hari ini ponselnya tidak bisa di hubungi. Dia menghilang tanpa kabar."
"Menghilang ?"
"Ndo, bantuin gue. Bantuin gue cariin Senjana, gue bisa depresi, gue bisa gila kalau kehilangan dia. Cariin Senjana, cariin pelangi gue, Ndo."
"Tenang, gue bakal bantuin lo. Lo sahabat gue, gak mungkin kalau gue gak bantuin lo. Tapi lo masih punya utang cerita sama gue, kenapa lo tiba tiba nikah sama wanita ular itu ? Bukannya tujuan lo mendekati dia hanya untuk balas dendam ?"
"Panjang ceritanya, gue di jebak sama dia "
"Gila sampai segitunya, kenapa lo enggak ceraikan dia ?"
"Gue mau balesin dendam gue sama dia, gue mau dia ikut hancur seperti apa yang gue rasakan dulu "
"Terserah lo, tapi jangan terlalu kejam. Dia juga seorang wanita."
"Lupakan tentang wanita itu, sekarang yang terpenting cari tau tentang keberadaan Senjana saat ini "
"Gue akan cari tau, sebaiknya malam ini lo istirahat dulu disini. Ini sudah larut malam, bahaya kalau lo pulang "
"Lagian gue juga gak mau pulang, gue sumpek liat wanita ular itu ada di appartemen "
"Yasudah, terserah lo. Gue tidur duluan "
KAMU SEDANG MEMBACA
SKY OF LOVE
FanfictionKisah Cinta yang di iringi banyak sekali Air mata mungkin akan cocok untuk di deskripsikan dalam lembaran kisah cinta ini.
