Bab #74 ( Psycho gila )

437 15 10
                                        

"Bryan, gue minta maaf untuk semua yang gue lakukan pada lo dulu. Sekalipun gue harus berlutut dan menciumi kaki lo, tapi gue mohon lepaskan ikatan ini." Terdengar suara rintihan dari dalam, suara ini terdengar begitu jelas seperti posisi mereka berada di balik pintu.

"Ka, lo denger itu ?" Ucap Calvin saat melepas earphonnya.

"Apa, Vin ?" Tanya Alka, dia tidak bisa mendengar apapun karena telinganya tertutup earphon.

"Kita coba dengar lagi dari pintu, suaranya sekarang terdengar sangat jelas." Ajak Calvin yang di setujui Alka, meski begitu mereka harus tetap berhati hati dengan aliran listrik yang cukup berbahaya jika bersentuhan dengan kulit mereka.

Alka dan Calvin masih mencoba untuk membuka pintu menggunakan sarung tangan yang mereka temukan di laci. Namun saat mereka hendak memegang gagang pintu, sebuah suara terdengar mengintrupsi agar mereka menghentikan aktifitas itu.

"BERHENTI, JANGAN SEMBARANGAN MEMBUKA PINTU ITU JIKA KALIAN TIDAK INGIN MATI KONYOL AKIBAT KESETRUM." Teriakan Bryan terdengar jelas dari balik pintu.

"Bryan, kita bisa bicarakan ini baik baik. Gue tau lo sakit hati dengan ulah Arnold, tapi jangan begini." Bujuk Calvin

"Calvin benar, jangan mengulang kesalahan lo lagi, cukup gue yang menjadi korban." Ucap Alka masih mencoba untuk membujuk Bryan.

"Kalau kalian ingin masuk kemari hanya untuk berceramah, lebih baik kalian pulang." Ucap Bryan membuat Alka dan Calvin beradu pandang, harus dengan cara apa mereka menghentikannya ?

"Bryan, lo sahabat gue dan gue gak mau lo menjadi seorang kriminal pembunuh." Ucap Calvin, mereka berdua masih mencoba untuk mengajak negosiasi.

Hening, tak ada suara sautan kembali dari Bryan. Hanya terdengar suara lirihan lirihan yang sedikit samar.

"Apa kita minta bantuan bokap lo ?" Tanya Alka, namun di balas gelengan oleh Calvin.

"Mungkin memang lebih baik seperti ini saja, Ka. Biarkan dia menyelesaikan masalahnya yang sudah terpendam selama bertahun tahun. Lo inget setelah dia mengeluarkan amarahnya pada lo, dia seperti terlahir kembali menjadi seorang Bryan yang kita kenal lagi ? Mungkin itulah satu satunya cara untuk berdamai dengan mentalnya." Terang Calvin dan hanya di balas anggukan oleh Alka.

"Jadi bagaimana sekarang ?" Tanya Alka

"Sebaiknya kita tunggu saja di luar. jika satu jam dia tidak keluar dari sana, baru kita minta bantuan pada Papah." Terang Calvin, mereka tidak punya pilihan lain selain menunggu.

# SEMENTARA ITU DISISI BRYAN SAAT INI

"Bryan, kita bisa bicarakan semuanya baik baik." Ucap Arnold terbata bata, darah mengucur dengan derasnya di kening, mulut dan hidungnya, sedangkan Frederick yang duduk di sudut dinding hanya bisa melemas melihat kawannya di siksa habis habisan oleh Bryan.

Sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Bryan, ia hanya memiliki masalah dengan Arnold. Maka dari itu, Frederick ia biarkan untuk melihatnya sebagai pembelajaran agar tidak lagi macam macam dengannya.

"Lepaskan ? Dulu sewaktu gue minta di lepaskan dengan tatapan memohon seperti itu, apa lo menurutinya ? Lo bahkan menyiksa gue di hadapan khalayak umum. Lo mempermalukan gue seakan akan gue adalah manusia hina yang pantas untuk di injak injak." Ucap Bryan, matanya menatap nyalang dan seringaian muncul dari wajahnya.

"Gue tau gue salah, gue gak akan melakukan hal itu lagi, gue berjanji." Arnold terus memohon, ia sudah tidak kuat lagi mendapatkan cambukan di seluruh tubuhnya.

Bryan yang mendengarnya malah makin terlihat geram, semudah itu Arnold mengucapkan kalimat yang ia katakan beberapa tahun lalu. Bryan mundur sejenak, ia mencari belati yang sedari tadi ia asah agar menjadi sangat tajam.

"Penjahat tidak akan menyesali perbuatannya jika ia tidak merasakan penderitaan dari korbannya, darah yang gue keluarkan dulu begitu banyak, tapi tak ada rasa iba sedikitpun dari lo." Ucap Bryan sembari membuka sarung penutup belatinya.

"Apa yang mau lo lakuin pada gue ?" Tanya Arnold, matanya terlihat cemas saat melihat Bryan menjilati belatinya. saking tajamnya belati itu hingga melukai lidahnya dan membuat darah mengalir dari mulutnya. ( Kok jadi cerita psikopat gini ??)

"Bagus ini sangat tajam, pertama tama apa yang harus gue lakuin terlebih dahulu ? Membalas perlakuan lo pada gue ? Atau membalas perlakua lo pada nyokab gue ? Tangan dan lidah lo itu terlalu tidak berguna berada di tubuh lo, jadi mana yang harus gue hilangkam terlebih dahulu ?" Ucap Bryan sembari menempelkan belatinya di wajah Arnold.

"Sesakit itukah perasaan lo ?" Tanya Frederick saat melihat pemandangan memiriskam yang ada dihadapannya.

"Lo mau dengar sesuatu ? Gue punya cerita menarik dari seorang anak kecil yang hampir kehilangan masa depannya karena lidah tidak berguna itu." Ujar Bryan sambil menunjuk mulut Arnold.

"Tunggu sebentar, Bryan. Bukankah tujuan dari permainan yang kalian lakukan itu  untuk membalas perbuatan gue dan Arnold yang melukai Bara ?" Frederick atau bisa di panggil Erick, ia masih mencoba untuk bernegosiasi dengan Bryan. Ini sudah keluar jalur.

"Urusan Bara itu adalah urusan Alka, tapi urusan Arnold itu adalah urusan gue. Kalau lo tidak bisa duduk diam dengan tenang disana, lo juga bisa join disini." Jawaban Bryan membuat Erick terbungkam. dalam kondisi seperti ini, jangankan untuk melawan, dibebaskan dari siksaan saja ia sudah bersyukur.

Atensi Bryan beralih kembali pada Arnold yang saat ini tengah mengatur nafasnya yang terengah engah, normalnya orang akan pinsan jika di siksa selama hampir satu jam di ruangan yang sangat engap ini. Sirkulasi diruang bawah tanah tidaklah bagus untuk paru paru, apalagi ditambah siksaan siksaan dari Bryan yang mengarah ke dadanya.

"Gue tau, lo yang udah pengaruhi semua orang untuk membenci gue saat sekolah dasar dulu. Gue tau lo yang nyebari rumor pada semua orang agar mengucilkan gue, hingga guru guru pun ikut terpengaruh pada rumor murahan buatan lo." Ucap Bryan sembatri menjambak rambut Arnold dan membuatnya meringis menahan sakit.

"Itu hanya gurauan anak kecil, gue gak tau kalau semua orang akan mudah percaya dengan ucapan anak kecil."

"Nyokab gue, demi nyekolahin gue di tempat semahal itu harus rela banting tulang. Dan gue ? Sepulang sekolah harus kerja sambilan di warnet, lo bisa bayangin anak sekecil itu harus kerja keras untuk membantu ibunya ? Sedangkan lo, dengan mudahnya membuat rumor yang menjatuhkan gue. Dimana hati nurani lo saat itu ?" ( Nah, awal mula Bryan menjadi seorang Hacker itu karena dia kerja sambilan di warnet, tapi dia cuma ngepel nyapu doang, sesekali ia belajar komputer saat warnet sepi pengunjung )

"Gue minta maaf, gue gak tahu." Sesal Arnold, kini seluruh badannya di penuhi peluh keringat yang mengalir bersama dengan darah segarnya.

"Maaf ? Harusnya lo katakan itu sedari dulu, sebelum gue kehilangan nyokab gue untuk selama lamanya."

"Gue menyesal." Kini Arnold hanya bisa menyesali perbuatannya. Namun tetap saja, nasi sudah menjadi bubur.

"Gue pengen nyoba metode dari prajurit india, mereka menyiksa dan membunuh mangsanya secara perlahan. Mereka tidak langsung memenggal kepala mangsanya, melainkan mengulitinya secara perlahan lahan. Menguliti wajah mangsanya secara hidup hidup, itu akan membuat mangsanya merasakan kesakitan yang teramat pedih  secara perlahan. Dengan seperti itu, mangsanya akan syok dan terkena serangan jantung, lantas dia akan meninggal dengan wajah yang terkuliti." Terang Bryan, tawanya menggelegar dan menggema di ruangan. Siapapun yang mendengarnya pasti akan merasa ketakutan.

"Lo gila, Bryan." Ucap Erick dengan tubuh yang sudah menggigil

"Gue gak bilang akan melakukan ini, gue hanya menawarkan permainan mengasyikkan ini pada Arnold, siapa tahu dia akan tertarik."

"Jangan lakukan itu, Bryan." Pinta Arnold dengan memelas.

"Gue mau istirahat sebentar, sebaiknya kalian juga istirahat sebelum kita melakukan babak final permainan ini." Ucap Bryan, kemudian ia melangkahkan kakinya menuju pintu keluar dengan senyum yang tidak bisa di artikan.

SKY OF LOVE Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang