Bab #49 ( Penyesalan Bryan )

31 8 0
                                        

Pukul 24.00 WIB

Suasana rumah sakit nampak sangat sepi, hanya terlihat beberapa petugas rumah sakit yang berlalu lalang.

Seorang pemuda tengah berjalan di keheningan malam, di tangannya ia tengah memeluk sebuah bingkai foto. Sorot pandangannya pun kosong, entah apa yang sedang ia fikirkan.

Ia hanya terus berjalan kedepan, di sepanjang koridor bibirnya terus bergetar menggumamkan kata ' Maaf ' entah itu untuk siapa.

Tanpa ia sadari, langkahnya berhenti tepat di depan ruangan VIP . Ia berhenti disana cukup lama, menatap lekat gagang pintu yang berada didepannya, seolah ingin menggenggamnya. Namun, kakinya terasa begitu berat untuk melangkah masuk ke ruangan itu, batinnya begitu ketakutan untuk menghadapi seseorang yang sedang terbaring disana.

Dengan dorongan yang kuat serta keberaniannya, ia membuka gagang pintu itu, kakinya ia paksakan untuk melangkah memasuki kamar. Terlihat seseorang tengah berbaring lemah di atas ranjang, perlahan ia mendekati orang itu. Dan..

"Alka, Maafkan gue " gumamnya pada seseorang yang tengah terbaring di ranjang.

Dengan lekat ia memandangi sosok sahabatnya yang tengah tertidur pulas. Ia memandangi seluruh tubuh Alka yang masih tertutup selimut, atensinya kini tertutu pada bagian kaki Alka. Perlahan tangannya mendekati kaki itu dan mengelusnya secara lembut.

" Ini pasti sakit sekali, bagaimana lo bisa menahannya waktu itu, Ka ?" Gumamnya, dan tangannya masih mengelus bagian itu.

" Calvin benar, gue adalah sosok monster yang tidak berperasaan. Lo pasti sangat kesakitan waktu itu, Ka "

Arthur yang baru saja dari toilet hendak kembali ke kamar Alka. Namun, langkahnya terhenti tepat di depan pintu masuk. Dari jendela pintu, ia melihat sosok familiar yang tengah berdiri di dekat ranjang sahabatnya tengah mengelus kaki Alka.

" Ada apa, Thur ?" Tanya Calvin yang juga baru saja tiba di rumah sakit setelah menyelesaikan pekerjaan di kantornya.

" Itu Bryan, kan ?" Balas Arthur sambil menunjuk seseorang yang terlihat di balik jendela pintu.

" Bryan ?" Kernyit Calvin, dia lantas maju kedepan mengintip dari jendela itu.

"..." Arthur tidak menjawab, dia hanya menggeser posisinya untuk Calvin.

" Brengsek, sudah gue bilang jangan nemuin Alka. Masih saja kemari, gue akan kasih pelajaran ke dia " Ucap Calvin dengan penuh tekanan emosinya. Namun, sebelum dia berhasil masuk, langkahnya terhenti ketika Arthur dengan erat mencekal tangan Calvin untuk mencegahnya masuk kedalam.

" Jangan, kita lihat dulu apa yang akan di lakukan Bryan "

" Gue takut dia bakalan nekat, Thur "

" Kita akan memantaunya dari sini."

Di sisi lain, Bryan saat ini tengah mendudukan diri di kursi samping ranjang Alka. Ia tidak tau jika dirinya tengah dipantau dua orang dari balik pintu.

" Alka, gue tau lo gak akan pernah bisa maafin kesalahan gue yang satu ini. Gue bisa menerima rasa kebencian lo itu. Tapi gue gak tau apa gue masih bisa bertahan di kondisi ini dengan menerima kebencian dari semua orang." Satu tetesan air mata lolos dari sudut mata Bryan, ia menangis di samping Alka. Tangannya dengan erat menggenggam tangan sahabatnya.

" Lo tau, Ucapan Calvin masih terngiang ngiang di otak gue dan lo tau saat ini hanya obat penenang yang bisa buat gue bertahan, Ka. Lucu ya, dengan status gue yang seorang dokter. Gue malah ngerusak tubuh gue dengan obat obatan seperti itu. Kalau lo tau, pasti lo akan marah besar, melihat temen lo mengkonsumsi obat penenang. Tapi gue gak punya pilihan lain, Alka " ucap Bryan tanpa jeda sedikitpun.

SKY OF LOVE Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang