"Sebenarnya, bunda tidak pernah mau mengandungmu dan tidak ada niat sedikit pun untuk mengandungmu, tapi malam itu adalah ketidaksengajaan, kesalahan yang bunda lakukan bersama ayahmu, setelah 2tahun kita menikah, saat malam di mana setelah sehari mama dan papa nya Lesti menikah,. Saat-.."
"Bunda,. Aku tidak bisa.." gadis itu terus menerus memijat pelipis matanya, hatinya begitu kacau mendengar utaran sang bunda yang mengatakan bahwa kelahirannya bukanlah keinginan melainkan hanyalah sebuah kesalahan yang bunda dan ayahnya lakukan.
"Hey hey, dengarkan bunda dulu, nak.." Soimah meraih pipi sang anak, memastikan dia menatapnya.
"Dengarkan bunda, ya?.." gadis itu mengangguk pelan.
"Saat pertama kali bunda menikah dengan ayahmu, itu juga bukan keinginan yang bunda inginkan, bunda di jodohkan oleh orangtua bunda, dan terpaksa bunda menikah dengan ayahmu dan kemudian menjadi bagian dalam keluarga ini. Maafkan bunda karena membuat kamu lahir dari keluarga ini.."
.....
"Kamu sedang apa? Membaca buku lagi?.." tanya seorang pemuda pada gadis itu.
"Ya, seperti biasa. Kamu tidak istirahat?.."
"Tidak.."
"Kenapa?.."
"Karena kamu ada di sini.."
"Apa urusannya denganku?.."
"Aku tidak bisa membiarkan kamu duduk sendirian disini. Ayo kita istirahat di kantin.." ajaknya sembari mengulurkan tangan pada si gadis.
"Faul... Kamu tau kan, kalo aku tidak bisa memakai uang saku yang di berikan ayah bunda ku.."
"Hmm, mau sampai kapan? Sampai kamu mati kelaparan? Memang apa salahnya sih memakai uang yang di berikan orang tua kita? Mereka memberi kita uang, berarti mereka ingin kita jajan dan menghabiskannya, lalu apa yang salah dari itu? Atau karena kamu takut membebani mereka? Ya ampun Selfi, kita itu masih kecil. Jadi wajarlah kalo mereka memberi kita uang saku. Kita masih kecil, jadi kita masih berhak menerima uang saku dari mereka, karena mereka orang yang sudah dewasa. Orang yang bisa bekerja dan mencari pekerjaan.."
"Huh! Gak usah di bahas lagi Faul,. Uhm, kamu lapar?.."
"Iya, makannya ayo ke kantin.."
"Oke, but kamu yang traktir aku, ya?.."
"Boleh aja, let's go.."
.....
"Kehidupan yang memaksaku untuk tersenyum dan tertawa, mengapa harus aku? Mengapa harus aku yang menjadi alasan utamanya. Mengapa semua orang begitu naif?.."
"Kamu tidak bersalah.."
"Lanjutkan apa yang menurutmu bisa membuatmu menjadi dirimu sendiri, tapi jangan kamu lanjutkan apa yang dapat merugikan kamu. Tinggalkan apa yang membuat luka.."
.....
"Terkadang yang aku harapkan, ini hanyalah mimpi yang akan segera hilang begitu aku terbangun, ternyata aku salah, ini adalah kenyataan yang nyata, yang harus aku terima dengan senyum kepalsuan.."
"Apakah semua orang pernah merasakannya? Terkadang aku pun memikirkan itu.."
"Kamu bahkan tidak hidup sendiri didunia ini, cobalah melihat ke dalam lagi, banyak orang yang bernasib sama seperti kamu.."
"Apa kamu juga sepertiku?.."
"Ya, terkadang aku sepertimu,. Hidup dengan rasa tak enak dengan memikirkan perasaan seseorang itu sangat menyakitkan, terkadang dulu aku berpikir untuk mengakhiri hidupku,. Tapi sesaat kemudian aku kembali memikirkan ucapan mereka setelah itu aku tertawa untuk melepas semuanya.."

KAMU SEDANG MEMBACA
One Step To Big Family (TAMAT)
Fanficjangan lupa follow me dan vote sesudah membaca, biar ator semangat ngetik dan nge-up, oke thanks for you guys