44. State of Denial

6.4K 725 8
                                        

Stephanie

"That's a hot dad in your house."

Aku mengikuti arah yang ditunjuk Jihane. Carlos menggendong Alba, sayup-sayup aku mendengarkan dia menyanyikan lullaby. Ada rasa hangat di hatiku setiap kali melihat mereka berdua.

"What's stopping you?" tanya Jihane.

"Maksudnya?" Aku balas bertanya, sedikit pun tidak mengerti maksud pertanyaan Jihane.

Sekali lagi, Jihane menunjuk ke arah Carlos. Seakan tahu dia sedang dibicarakan, Carlos mengangkat wajah dan bersitatap denganku. Dia tersenyum kepadaku.

"Itu maksud gue."

Aku mengangkat piring kotor ke wastafel. "Kenapa lo jadi berbelit-belit begitu?"

Jihane mengikutiku ke dapur. Dia menarikku hingga berada di balik kitchen island, sedikit tersembunyi dari Carlos tapi dari tempat ini, aku bisa melihat Carlos dan Alba dengan jelas.

"Enggak semua orang mau langsung step up seperti dia ketika tahu akan punya anak, apalagi anak yang enggak direncanakan dari hasil one night stand," ucap Jihane. Aku terpaksa berbohong ketika Jihane bertanya perkenalanku dan Carlos. "Dia pasti punya alasan, tapi apa pun alasannya, yang pasti dia bertanggung jawab."

Carlos punya alasan, tapi aku tidak berkewajiban membaginya dengan Jihane.

"Alasan yang pasti, he loves you."

Aku refleks terbatuk. Jihane memang suka asal bicara, tapi kali ini dia begitu mengada-ada. Bisa-bisanya dia menyangka Carlos mencintaiku. Dengan susah payah, aku menahan tawa saat mendengar lelucon itu.

Berbanding terbalik denganku, Jihane menatapku dengan wajah serius. Dia bersedekap, ekspresi wajahnya begitu keras. Hanya di saat tertentu dia mengeluarkan ekspresi seperti ini, saat berhadapan dengan Tommy atau ketika berurusan dengan pekerjaannya.

Aku mengibaskan tangan di depannya. "We're just co-parenting, okay?"

"Tomato... tomahto," ledeknya. Jihane menatapku lekat-lekat. "Waktu lo dioperasi, gue nemenin dia. Dari situ gue yakin kalau sebenarnya dia ada rasa sama lo."

Aku sudah membuka mulut, tapi Jihane mendahului.

"Dia kenal lo gimana, makanya dia setuju dengan permintaan lo yang mau co-parenting aja. Jujur sama gue, kalau dia mau nikahin lo, apa yang akan lo lakuin?" tanyanya.

Aku mengangkat pundak. "That's impossible."

"Anggap aja ini cuma pengandaian. Seandainya dia menolak buat co-parenting dan maunya nikah, apa jawaban lo?" cecar Jihane.

Pertanyaan demi pertanyaan yang keluar dari mulut Jihane membuatku tidak nyaman. Aku mencoba beranjak, tapi Jihane menahanku, membuatku terpaksa memikirkan jawaban.

"Tanggung jawab enggak mesti dengan nikahin," elakku.

"Lo enggak menjawab pertanyaan gue."

Aku balas bersedekap, menatap Jihane dengan cara yang sama seperti dia menatapku. "Karena pertanyaan lo enggak penting."

Jihane mendengkus. Dia menunjukku dengan telunjuknya. "Justru dengan lo mengelak kayak gini, gue makin yakin dengan asumsi gue."

"Terserah," timpalku.

"Kenapa lo malah uring-uringan?" tanyanya.

"Karena lo duluan."

Jihane sontak tertawa. Aku sempat melirik Carlos. Dia mendengar tawa Jihane, membuatnya menoleh ke arah dapur. Dia kembali tersenyum saat melihatku.

Yes, DarlingTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang