Acara pernikahan Wangga dan Alca diselenggarakan di sebuah hotel mewah berbintang. Banyak tamu yang turut hadir pada acara pernikahan mereka tak terkecuali beberapa artis dan penyanyi terkenal lainnya.
Malam itu, setelah acara resepsi pernikahan digelar. Semua anggota keluarga besar keduanya berkumpul di dalam satu ruangan hotel. mereka terlihat berbincang satu sama lain bahkan sambil tertawa bersama.
Gita melirik ke arah Wangga yang saat itu telah selesai mengobrol dengan Mas Kean, kakak laki-laki Alca.
Gita lantas menarik Wangga ke sudut ruangan. "Ngapain kamu masih disini?", bisiknya pelan.
Wangga memandang heran kepada Gita. "Kenapa? Yang lain pada masih ngobrol juga"
"Lupa apa gimana?"
Wangga akhirnya sadar. Sedari tadi ia memang tak melihat keberadaan Alca di ruangan itu. Matanya sibuk mencari Alca di tengah kerumunan keluarga besarnya.
"Kak Alca udah keluar dari tadi. Dia ada di kamarnya mungkin"
Wangga bergegas keluar dari ruangan itu setelah mendengar ucapan Gita. Ia berjalan menyusuri lorong hotel kemudian masuk ke dalam kamar yang hanya berjarak empat kamar dari ruangan tadi.
Begitu pintu dibuka. Wangga melihat Alca yang terlihat duduk di tepi ranjang sambil membelakanginya. Ia sempat terdiam beberapa menit di depan pintu lalu memutuskan menghampiri Alca dan ikut duduk di sampingnya.
"Belum tidur?", tanya Wangga dengan nada sedikit kikuk.
Alca menggeleng pelan. "Belum"
Keduanya kembali terdiam. Rasa canggung tengah menyelimuti keduanya. Mereka sama-sama gugup karena ini pertama kalinya mereka hanya berduaan di dalam kamar.
Wangga mengulum bibirnya sambil mengusap-usap pahanya guna menghilangkan rasa canggung itu. Sementara Alca sibuk memainkan ponselnya.
Ia melirik sekilas ke arah Alca yang duduk di sampingnya. Kemudian tangannya reflek menarik ujung selendang yang menutupi kepala Alca dan menarik sedikit ke arah belakang agar bagian leher Alca tak terlihat.
Alca menatap ke arah Wangga dengan tatapan penuh keheranan. "Kenapa?"
"Rambut kamu kelihatan, Ca"
Alca menautkan alisnya bingung. "Bukannya udah boleh lihat yaa?"
Gara-gara ucapan Alca itu suasana kembali canggung. Wangga mengusap tengkuk lehernya, tak tau apa yang harus dilakukan.
Cukup lama terdiam. Wangga lantas berdiri kemudian mengulurkan tangannya pada Alca. "Ayok!"
Alca mendongak menatap Wangga. Lelaki itu menaikkan sebelah alisnya seperti memberi kode kepada Alca.
"Ke-kemana?", tanya Alca polos, pura-pura tak tau. Bersikap seperti itu adalah pilihan terbaik Alca untuk saat ini. Seiring dengan ajakan Wangga itu, Alca merasa jantungnya berdegup dua kali lebih cepat dari biasanya.
"Ambil wudhu. Kita belum salat isya, Ca"
Alca tersenyum lega setelah mendengar ucapan Wangga. Ia dengan senang hati menyambut uluran tangan Wangga.
Setelah selesai berwudhu, Wangga membentangkan sajadahnya di depan dan sajadah satunya lagi dia bentangkan di belakangnya. Kemudian beralih menatap Alca yang masih sibuk mengenakan mukenanya.
"Udah?", tanya Wangga lembut. Alca menatap Wangga sekilas.
"Sebentar", ucapnya lalu tak lama berdiri di atas sajadah miliknya.
Melihat Alca yang sudah bersiap di tempatnya. Wangga langsung berbalik menghadap ke depan, menatap sajadah di depannya.
Alca tiba-tiba mendongak menatap Wangga karena lelaki itu menatapnya. Alca mengira Wangga melihatnya karena mungkin posisi letak sajadahnya yang tak sesuai atau miring. Ia lantas menggeser sedikit posisi sajadahnya itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Garis Semesta [End]
FanfictionSebuah garis cerita yang semesta rangkai untuk kehidupan dua makhluk ciptaannya. Penasaran dengan cerita lengkapnya? Langsung baca aja dan selalu nantikan part selanjutnya - - - - - - - - - - - Ini cerita pertamaku. Penulisan cerita ini masih terdap...
![Garis Semesta [End]](https://img.wattpad.com/cover/368912842-64-k666170.jpg)