Chapter 34

26 4 0
                                        

Pagi hari menyambutku dengan hembusan angin lembut yang menyapu wajahku, membangunkanku dari lamunanan ku dan memperlihatkan keindahan pantai yang terbentang luas di depan mata. Dengan rencana untuk pulang besok, pagi ini kami bertekad memanfaatkan waktu yang tersisa dengan bermain di pantai.

"Dian, hati-hati di situ, jangan sampai jatuh!" teriak Johancha dari kejauhan, suaranya penuh perhatian.

"Iya, Cha!" jawabku dengan suara yang agak meninggi agar dia bisa mendengar.

“Ayo sarapan dulu, baru kita main,” ajak Jovancha, matanya penuh semangat. Aku segera berjalan mendekati mereka untuk bergabung dalam sarapan.

“Lu mau makan apa, Dian?” tanya Jovancha sambil membuka menu.

“Apapun, Cha,” jawabku.

Jovancha pun memesan makanan untuk kami berdua. Setelah makanan tiba, aku bertanya, “Yang lain pada kemana?”

“Lihat, mereka semua sedang bermain pasir di tepi pantai,” kata Jovancha sambil menunjuk ke arah pantai. Aku mengikuti arah tunjukannya dan melihat Anggara dan yang lainnya tengah asyik membuat bentuk-bentuk kreatif dari pasir.

“Kalo mau ikutan, makan dulu,” ucap Jovancha sambil menghabiskan roti yang dipesannya.

“Ehe, tungguin aku, Cha,” sahutku penuh semangat.

“Makanya cepat makan, nya,” ucap Jovancha menyuruhku dengan lembut. Aku segera melahap kue yang dihidangkan, tidak sabar untuk bergabung dan merasakan keceriaan pagi di pantai bersama teman-teman.

Kami berdua menyelesaikan sarapan dengan cepat dan bergabung dengan teman-teman yang lain.

"Apakah kalian sudah sarapan?" tanya Alvero pada kami dengan ramah, kami mengangguk singkat sebagai jawaban.

"Kalo gitu, Ayo kita main voli," ajak Adithia dengan semangat, usul yang disambut dengan senyum setuju dari kami semua.

"Baiklah, mari kita bagi kelompoknya. Dian, kamu yakin bisa main?" tanya Lionel sambil menatapku penuh keyakinan.

"Tentu saja bisa," jawabku mantap.

"Hendra, bagaimana kita membagi kelompoknya?" tanya Alvero, matanya menerawang ke sekeliling.

"Baiklah, kelompok Anggara akan beranggotakan Diandra, Evelly, iastin, Nicholas, dan Adithia. Sisanya bersama ku," kata Hendra dengan suara tenang yang mengatur strategi.

Pagi itu, kami memulai dengan semangat, bermain voli di tepi pantai yang masih tenang. Seiring waktu berjalan, pantai mulai dipadati pengunjung yang tak sabar bergabung dalam permainan kami.

Ketika matahari naik tinggi di langit, kami sepakat untuk beristirahat sejenak, menikmati hidangan makan siang yang lezat setelah bermain dengan semangat. Setelah itu, kami kembali ke air, menaiki speedboat yang dikendalikan oleh teman-teman laki-laki kami, menjelajahi sepanjang pantai dengan kegembiraan dan tawa yang mengiringi setiap gelombang.

Saat senja mulai merayap, kami memutuskan untuk pulang ke vila Alvero untuk beristirahat sebentar sebelum kembali ke pantai untuk makan malam.

"Hari ini benar-benar menguras energi, tapi makan malam ini membuat semuanya terbayar dengan sempurna," ucap Adithia dengan senyum lega.

"Iya, Dit. Ayo, segera kita makan malam sebelum semuanya dingin," kata Hendra, semangatnya masih membara.

"Baiklah, mari kita nikmati makan malam ini dengan penuh keceriaan. Tidak ada yang lebih baik daripada momen ini," ujar Anggara dengan nada yang penuh kegembiraan.

Kami pun langsung saja, menikmati hidangan dengan hening, tanpa ada keributan. Setelah selesai makan, kami memutuskan untuk kembali ke vila untuk bersiap-siap pulang untuk esok hari nya. Sesampainya di vila, aku pun sibuk merapikan pakaian ku sebelum berniat keluar. Namun, saat hendak melangkah, tangan hangat tiba-tiba menarik tanganku.

"Kamu mau kemana pergi?" tanya Anggara, yang muncul begitu saja.

"Aku ingin ke pantai," jawabku.

"Mau ngapain di sana?" tanya dia lagi.

"Aku ingin mencari angin segar, aku sulit tidur malam ini," ucapku padanya.

"Yaudah, ayo biar aku temani," ucapnya sambil menggenggam tanganku erat. Kami berjalan menuju pantai yang mulai sepi, hanya beberapa orang di sekitarnya.

Namun tiba-tiba saja, genggaman tangan anggara mengerat dengan kuat, membuatku merasa sedikit kesakitan.

"Ah, sakit, Gar," keluhku, berusaha melepaskan tanganku dari genggamannya.

"Eh, maaf, Dian. Kamu baik-baik saja?" tanya Anggara dengan nada panik.

"Sudah, Gar, tidak apa-apa," jawabku, mencoba menenangkannya.

"Kamu yakin tidak apa-apa?" tanyanya lagi, tatapan khawatir terpancar dari matanya.

"Aku yakin, Gar," jawabku dengan senyum kecil untuk menenangkannya.

"Maaf ya, Dian. Aku tidak akan melakukannya lagi," ucapnya dengan suara penuh penyesalan.

"Gak apa-apa, Gar. Lagipula, apa yang sedang kamu pikirkan?" tanyaku, mencoba mengalihkan perhatian.

"Aku tidak sedang memikirkan apa-apa, Dian. Ayo, ceritakan saja yang tadi," ucap Anggara, fokus kembali ke jalan sambil tetap menggenggam tanganku dengan lembut.

Di tengah perjalanan kami, Anggara tiba-tiba berhenti, dan aku pun mengikuti langkahnya, dan berhenti di sampingnya.

Dia menatapku dalam-dalam tanpa berkata apa-apa, hanya untuk beberapa saat. Kemudian, dengan helasan napas, dia akhirnya bertanya padaku.

"Apa keputusanmu?" katanya.

"Keputusan tentang apa?" tanyaku balik.

"Tentang Devan," jawabnya dengan serius.

"Oh itu, aku belum membuat keputusan apa pun, Gar," ucapku dengan suara datar.

"Kenapa kamu tidak mencoba membuka hatimu pada Devan?" tanyanya lagi, matanya mencari jawaban di wajahku.

"Aku perlu waktu untuk memikirkannya lagi, Gar," ucapku sambil mencoba menjaga ketenangan.

"Baiklah, mari kita lanjutkan jalan nya," katanya kemudian.

"Iya," jawabku singkat.

"Jangan cemberut begitu, Dian," ucap Anggara sambil lembut mengelus kepalaku.

"Iya, Anggara, aku tidak cemberut," ucapku dengan senyum samar.

Kami berdua pum mengikuti jalanan yang tenang di bawah sinar bulan yang cerah. Perasaan di dalam hatiku campur aduk saat Anggara menyinggung tentang Devan. Aku masih belum siap untuk membuka hatiku, terlalu banyak hal yang harus aku pikirkan. Namun, di sisi lain, kehadiran Anggara memberi kehangatan dan kenyamanan yang tak tergantikan. Kurasakan genggaman tangannya yang erat, memeluk erat keyakinan bahwa di sini, bersamanya, adalah tempat yang tepat bagiku.

Namun berbeda di dalam hatiku, gelisah mulai merayap saat Devan disebut. Saat Anggara menanyakan tentangnya, aku menjawab dengan hati-hati dalam batin, "Aku tidak bisa membuka hatiku untuk Devan. Hati ini telah dipenuhi olehmu, Anggara, dan itu tidak akan berubah." Kami melanjutkan perjalanan dengan langkah yang tenang, sementara tangan Anggara tetap hangat menggenggam tanganku di bawah sinar bulan yang menerangi langit malam.

 ANGGARA ALEXSANDER ( End ) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang