50. DIRUMAH SAKIT

177 17 0
                                        

FOLLOW VOTE KOMEN
HAPPY READING
💋💋💋


Suara sirine ambulance menggema di udara, menembus kesunyian yang seolah-olah terhenti di sekitar mereka. Para suster segera bergegas, melintasi lorong rumah sakit dengan langkah cepat, mengarahkan tandu yang membawa dua tubuh yang nyaris tak bernyawa—Andara dan Reizar.

Setibanya di rumah sakit, pintu gawat darurat terbuka lebar, menyambut kedatangan mereka dengan cahayanya yang dingin dan steril. Reizar segera diambil alih oleh tim medis, dengan cepat dibawa ke dalam ruangan operasi. Dada Reizar, yang kini tertusuk peluru, menjadi fokus utama para dokter yang berjuang untuk menyelamatkan hidupnya. Sementara itu, Andara, yang tubuhnya terkena luka tusukan, dibawa ke ruang lain, di mana para dokter dengan cermat menjahit luka di perutnya yang berdarah.

Di ruang tunggu yang sepi dan dipenuhi dengan kecemasan, Mahesta duduk terdiam bersama Leo. "Kenapa Andara bisa sampai di sana?" tanya Mahesta, suaranya datar namun memancarkan kekalutan yang tak mampu disembunyikan.

Leo menundukkan kepalanya, diam tak mampu menjawab. Penyesalan mendalam mengalir dalam hatinya—penyesalan karena telah memberitahu Andara tentang penangkapan Dirga. Pikiran itu berputar-putar di benaknya, menyisakan rasa bersalah yang menusuk.

Mahesta, yang biasanya penuh dengan amarah dan energi, kini tampak hampa. Bukan karena habis bertarung, tapi karena pemandangan Andara yang terbaring lemah di ruangan itu menguras habis kekuatannya. Kekosongan dan rasa tak berdaya merayap di setiap sudut jiwanya.

Di dalam ruang gawat darurat, hidup dan mati seolah menari-nari di ujung benang yang rapuh. Reizar dan Andara terbaring di ambang batas yang tak kasat mata, berjuang dalam keheningan yang menyesakkan.

Frustrasi menggulung Mahesta dalam pelukan dinginnya. Dia meremas rambutnya sendiri, mencoba mengalihkan rasa sakit yang memenuhi hatinya. "Maaf, karena saya tidak bisa menjaga kamu untuk kedua kalinya," gumamnya lirih, menatap nanar ke arah ruangan tempat Andara dirawat.

Tiba-tiba, suara ponsel Mahesta memecah keheningan. Dia mengangkat telepon itu, mendekatkannya ke telinga dengan tangan yang gemetar.

"Dirga meninggal dunia ketika baru sampai di kantor polisi," suara anak buahnya terdengar di ujung sana, tenang namun menghantam Mahesta seperti petir di siang bolong.

Mahesta terdiam, tanpa kata-kata. Ia segera menutup teleponnya, perasaan benci yang selama ini ia simpan terhadap Dirga semakin membesar, menyesakkan dadanya. Nama 'Dirga' kini hanya menjadi luka yang tak termaafkan.

Dengan tatapan kosong, Mahesta berpaling pada Leo. "Kamu pulang aja, biar saya yang menjaga mereka di sini," suaranya terdengar lebih seperti perintah yang tak terbantahkan.

Namun Leo menggeleng, tekadnya tak tergoyahkan. "Nggak, semua ini salah gue, gue harus bertanggung jawab," ucapnya, suaranya penuh dengan rasa bersalah yang mendalam.

Mahesta menatapnya tajam, seolah tak percaya pada apa yang didengarnya. "Bertanggung jawab atas apa? Kamu sudah membuat Andara seperti itu, seharusnya kamu tidak membawa dia ke tempat itu," kata Mahesta, nadanya penuh dengan amarah yang nyaris meledak.

Di balik kemarahan itu, ada rasa sakit yang mendalam, rasa sakit karena melihat orang yang dicintainya harus melalui penderitaan yang begitu besar.

Dari sudut ruang tunggu yang sepi, sebuah televisi mini di dinding rumah sakit tiba-tiba menyala, memecah kesunyian dengan cahaya dan suara yang tak terduga. Mahesta dan Leo, seakan tersentak oleh insting, spontan mengalihkan pandangan mereka ke layar itu. Di balik layar kaca yang kecil namun tajam itu, wajah-wajah yang mereka kenal dengan baik terpampang—Andara dan Reizar.

FATED ENCHANTMENTCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang