Vote dulu sebelum baca.
Follow, komen kalau bisa.
💗💗💗
__________
Andara terbangun dari tidurnya dengan mata yang masih setengah terbuka. Namun, pagi yang seharusnya tenang itu segera berubah menjadi kekacauan kecil ketika dia menyadari bahwa ayahnya, Reizar, dan Mahesta sudah berada di kamarnya. Ia tersentak, awalnya masih dalam posisi tidur, namun dengan cepat beralih duduk. Matanya membelalak melihat kedua pria itu.
"Pagi, putri kecil papa," ucap Reizar dengan senyum ceria yang tidak bisa disembunyikan.
Andara mengerutkan kening, masih bingung dan kaget. "Papa ngapain di kamar ku?" tanyanya dengan nada penuh pertanyaan. Pandangannya kemudian beralih ke Mahesta, yang berdiri di dekat pintu dengan ekspresi canggung. "Ini juga ngapain di sini?"
Reizar tertawa kecil, menutupi rasa canggung di ruangan itu. "Emang nggak boleh kalau papa ngeliat keadaan kamu ketika bangun tidur?" jawabnya dengan nada bercanda, mencoba mencairkan suasana. Namun, tatapannya tertuju pada bantal Andara yang memiliki noda basah kecil, bukti dari tidur nyenyaknya semalam.
"Andara hebat ya, bisa buat peta dari air," ucap Reizar sambil menahan tawa, mengisyaratkan bantal Andara yang terkena air liurnya.
Mahesta, yang berdiri di samping, mencoba sekuat tenaga untuk menahan tawa. Ia menutup mulutnya dengan tangan, namun matanya yang penuh tawa tidak bisa disembunyikan. Andara, yang merasa malu dan terganggu, segera bangkit dari tempat tidurnya. Wajahnya memerah, campuran antara rasa malu dan kesal.
Dengan cepat, Andara melangkah menuju pintu dan mulai mengusir kedua orang itu. "Keluar, keluar! Kalian bikin pagi aku rusak!" teriaknya dengan nada kesal, namun tidak bisa menyembunyikan senyum kecil yang muncul di sudut bibirnya. Reizar dan Mahesta akhirnya keluar, masih dengan tawa kecil yang teredam, meninggalkan Andara yang kesal tapi juga tersenyum tipis.
Setelah keluar dari kamar Andara, Mahesta dan Reizar duduk di ruang tamu. Suasana berubah menjadi lebih serius. Mereka berdua tenggelam dalam pemikiran yang dalam. Mereka sebenarnya datang ke kamar Andara untuk membicarakan sesuatu yang penting, namun situasi yang terjadi tadi pagi membuat mereka merasa itu bukan waktu yang tepat.
Reizar menghela napas panjang, memandangi Mahesta dengan tatapan penuh pertimbangan. Mahesta, yang biasanya penuh percaya diri, kini terlihat sedikit gugup.
"Jangan terburu-buru," ucap Mahesta dengan suara lembut namun tegas. "Tanpa surat nikah pun, saya selalu melindungi Andara." Kata-kata itu keluar dengan ketulusan yang dalam, mencerminkan cinta Mahesta yang tulus dan tak terbatas.
Bagi Mahesta, Andara bukan sekadar gadis biasa. Belum pernah ada wanita yang bisa menyentuh hatinya seperti Andara. Sejak pertama kali mereka bertemu, Mahesta tahu bahwa Andara adalah seseorang yang istimewa, seseorang yang dia ingin jaga dan lindungi dengan segala kemampuan yang dia miliki. Dia ingin Reizar tahu bahwa meski tanpa ikatan resmi, cintanya pada Andara adalah nyata dan mendalam.
Reizar menatap Mahesta dengan tatapan penuh pengertian dan sedikit rasa khawatir. Ia tahu bahwa cinta Mahesta pada Andara tulus, namun sebagai seorang ayah, ia juga ingin memastikan bahwa putrinya akan selalu berada dalam perlindungan dan kasih sayang. "Saya tahu, Mahesta," katanya akhirnya, suaranya lembut dan penuh kebapakan. "Tapi, sebagai Papa, saya hanya ingin yang terbaik untuk Andara."
***
Lena berjalan dengan langkah ringan menuju market, niatnya hanya untuk membeli beberapa kebutuhan. Saat melintasi lorong, pandangannya tak sengaja tertuju pada Leo, yang sedang membuka lemari pendingin dengan ekspresi serius. Dia terkejut melihat sosok yang familiar di tengah keramaian ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
FATED ENCHANTMENT
Genç Kurgu-Andai masalah semudah yupi untuk ditelan. Andara Lova Gaurika, gadis remaja dikepung ribuan masalah yang mengalir dari masa lalu dan masa kini, seperti ombak yang tak pernah berhenti menghempas. Mahesta Kastara Adiwangsa, seorang pria yang dibenci...
