VOTE, FOLLOW, KOMENTAR.
🌷🌷🌷
Beberapa bulan berlalu, dan perut Andara semakin membesar, menunjukkan kehadiran kehidupan baru yang tengah berkembang di dalam dirinya. Setiap langkah yang ia ambil terasa lebih berat, dan keseimbangannya pun mulai goyah. Meskipun dia mencoba untuk tetap aktif, ada kalanya dia harus berhenti sejenak, mengambil napas panjang, dan merasakan kehidupan kecil yang bergerak dalam perutnya.
Lova, ibunya, duduk di sofa dengan tangan terlipat di dada, menatap Andara dengan tatapan penuh selidik. Raut wajahnya menunjukkan kekesalan yang bercampur dengan rasa khawatir, sesuatu yang selalu ia rasakan setiap kali melihat putrinya dalam keadaan seperti ini.
"Mama kesal banget, tahu nggak?" ucap Lova akhirnya, suaranya terdengar sedikit merajuk, seperti seorang anak kecil yang merasa diabaikan. "Kamu itu kenapa sih nggak pernah ngasih kabar kalau di dalam perut kamu sudah sebesar ini?"
Andara menahan senyum mendengar nada suara ibunya yang terdengar manja. Dia tahu betul, di balik kekesalan Lova, ada cinta dan kepedulian yang mendalam. Dia mendekat ke sofa, lalu duduk dengan hati-hati di sebelah ibunya. "Ma, sudah, jangan ngambek gini, kayak anak kecil," ucapnya sambil mengusap punggung Lova dengan lembut, mencoba menenangkan perasaan ibunya yang sedikit terluka.
Lova mendengus pelan, tapi matanya tetap menunjukkan kekhawatiran. "Mahesta mana? Kenapa dia ninggalin kamu sendirian di rumah?"
Andara tersenyum tipis, sedikit lelah dengan pertanyaan yang sama setiap kali Mahesta tidak ada di rumah. "Mahesta lagi di bertugas," jawabnya dengan suara lembut, tapi ada nada khawatir yang tak bisa ia sembunyikan.
Lova mendesah pelan, menyadari bahwa ada hal-hal yang tak bisa selalu ia lindungi dari kehidupan putrinya. Setelah beberapa detik hening, senyum kecil mulai muncul di bibirnya, dan matanya berkilat nakal. "Mama akan berhenti marah, kalau kamu mau punya anak lagi," goda Lova, matanya berbinar penuh harap.
Andara terkejut dengan ucapan itu, matanya membelalak seketika. "Ma!" protesnya, wajahnya memerah karena malu. "Yang ini aja belum lahir, Mama sudah minta yang lain lagi."
Lova tertawa kecil, akhirnya meruntuhkan kekesalan yang tadi sempat ia rasakan. "Ya kan biar ramai rumahnya, kamu juga nggak kesepian kalau Mahesta lagi pergi."
Andara hanya bisa tersenyum dan menggeleng pelan, meski dalam hatinya dia tahu, kebahagiaan ibunya adalah salah satu hal yang paling berharga dalam hidupnya. Tapi untuk sekarang, satu bayi saja sudah cukup membuat dunianya terasa penuh dengan cinta dan harapan.
***
Malam itu, kota berkilauan dengan lampu-lampu jalanan yang memantulkan bayangan di trotoar basah. Mahesta berlari cepat di antara gedung-gedung yang menjulang tinggi, bayangannya seperti kilatan hitam yang membelah kegelapan malam. Napasnya terengah-engah, tapi fokusnya tak pernah goyah.
Dia tahu betul, misi kali ini bukanlah misi biasa—penjahat yang sedang ia kejar bukanlah penjahat kecil. Ini adalah orang yang berbahaya, seseorang yang tak ragu-ragu untuk melukai siapa pun yang menghalangi jalannya.
Suara langkah kaki Mahesta bergema di jalan-jalan sepi. Detik-detik berlalu seperti jarum jam yang berdetak cepat, tapi di setiap detiknya, Mahesta semakin mendekati targetnya. Matanya tajam mengawasi sosok penjahat yang berlari di depannya, mencoba melarikan diri dari kejarannya.
Sementara itu, di apartemen yang tak jauh dari tempat kejadian, Andara yang merasa penat karena berada di dalam ruangan sepanjang hari, memutuskan untuk membuang sampah. Dia mengenakan jaket tebal untuk melindungi diri dari dinginnya malam, lalu melangkah keluar dengan hati-hati, mengingat kondisi perutnya yang semakin membesar. Meski berjalan pelan, Andara menikmati kesunyian malam yang menenangkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
FATED ENCHANTMENT
Teen Fiction-Andai masalah semudah yupi untuk ditelan. Andara Lova Gaurika, gadis remaja dikepung ribuan masalah yang mengalir dari masa lalu dan masa kini, seperti ombak yang tak pernah berhenti menghempas. Mahesta Kastara Adiwangsa, seorang pria yang dibenci...
