63. |Apa Sudah Akhirnya?|

1K 223 43
                                        

《All We Need Just Heal》

Apakah Sudah Akhirnya

■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■

Setelah dua hari Mahaka menjadi pasien rumah sakit yang sama dengan adiknya, kini lelaki itu sudah diperbolehkan untuk pulang. Tubuhnya memang sudah tidak lagi dipasangi infus sejak pagi tadi. Dokter mengizinkannya keluar dari ruang perawatan dengan satu syarat, ia tidak boleh memforsir tenaga dan harus beristirahat. Tetapi bagaimana mungkin ia bisa beristirahat ketika adiknya masih terbaring tak sadarkan diri hanya beberapa lantai di atas ruang rawatnya?

Selama dua hari, Mahaka hampir tidak pernah benar-benar tidur. Setiap kali memejamkan mata, yang muncul selalu wajah Mahesa, bayangan malam saat mereka bertengkar, bayangan bagaimana adiknya terlelap sendirian dengaan berbagai peralatan medis yang melekat di tubuh kurusnya. Dokter mengatakan tubuh Mahaka kolaps akibat kelelahan fisik dan tekanan psikologis yang terlalu berat. Ia nyaris tidak makan, tidak tidur dan terus memaksakan diri mengurus semua hal sendirian sejak Mahesa masuk rumah sakit.

Namun, rasa sakit di tubuhnya sama sekali tidak berarti dibandingkan rasa takut kehilangan satu-satunya adik kandung yang ia miliki. Malam itu, begitu diperbolehkan keluar dari ruang rawatnya, Mahaka langsung menuju ruang ICU di jam besuk.

Kini, Mahaka tidak bergeser sedikit pun dari kursi yang didudukinya sedari tadi. Sudah tiga puluh menit dan yang ia lakukan hanya memandangi wajah Mahesa yang kemudian ia sadari bahwa kelopak matanya terlihat sedikit bengkak.

"Selamat malam."

Seorang dokter masuk ke dalam ruangan, menyadarkan Mahaka dari telapak tangan Mahesa yang juga terlihat bengkak. Mahaka berdiri dan mengangguk kecil, membalas sapaan dokter, lalu mengambil langkah mundur. Memberi sedikit ruang padanya. Dokter, dengan langkah dan gerakan yang serba terukur, memeriksa semua alat dan tubuh Mahesa, satu per satu. Dokter melepas plester mata Mahesa dan menyadari kelopak mata Mahesa terlihat sedikit sembab. Ia lalu menyibak pelan selimut yang menutup bagian bawah tubuh Mahesa dan mendapati bagian betis dan telapak kaki Mahesa yang juga membengkak.

"Ambil sampel darah berkala. Perhatikan kadar magnesium, natrium dan gas darahnya. Laporkan ke saya kalau ada nilai yang tidak seharusnya," ujar dokter pada satu perawat di belakangnya.

"Baik dokter." Jawab perawat itu, sambil mencatat semua instruksi di catatan yang dibawanya. Lalu mulai menyiapkan peralatan untuk mengambil sampel darah Mahesa.

Dokter tersebut tidak menoleh, matanya fokus pada monitor yang menampilkan tekanan darah Mahesa, lalu beralih memeriksa kantong urine yang menggantung di samping ranjang.

Tidak sebanyak sebelumnya dengan warna yang sedikit lebih pekat dari seharusnya.

"Bagaimana dokter?" suara Mahaka terdengar lemah di balik masker yang menutup separuh wajahnya. "Bagaimana keadaan adik saya?"

Dokter menjawab setelah memasang kembali plester yang menutup kelopak mata Mahesa. Dokter mendesah pelan, cukup pelan untuk dapat disadari Mahaka.

"Seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya. Mahesa mengalami kematian otak. Keadaannya cukup stabil selama ini karena fungsi tubuhnya sepenuhnya diambil alih oleh alat dan obat obatan."

Mahaka bernapas di balik masker, napasnya panas, membuat wajahnya sedikit lembab.

"Tapi kita tau, cepat atau lambat satu per satu organ tubuhnya akan mulai kolaps. Kita bisa seolah olah membuatnya tetap bernapas dengan bantuan ventilator, dengan bernapas jantungnya masih bisa terus berdetak. Dengan jantungnya yang terus berdetak, semua organ tubuhnya tetap bisa dapat suplai oksigen. Tapi kita tahu kalau tubuh manusia lebih kompleks dari itu. "

INCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang