Malam telah larut ketika Mahaka akhirnya memarkirkan mobilnya di halaman rumah. Sudah hampir dua minggu ia lebih banyak menghabiskan waktu di rumah sakit daripada di rumah. Kepulangannya malam itu bukan untuk beristirahat. Ia hanya ingin mengambil beberapa potong pakaian, perlengkapan mandi, serta charger ponselnya sebelum kembali berjaga di ruang ICU.
Rumah itu masih sama seperti biasanya. Tenang. Rapi. Nyaris tidak pernah berubah. Seolah apa pun yang sedang terjadi di luar sana tidak pernah benar-benar mampu mengusik kehidupan di dalamnya. Mahaka membuka pintu perlahan. Keheningan langsung menyambutnya. Dulu ia menganggap keheningan itu sebagai sesuatu yang wajar. Rumah mereka memang tidak pernah ramai. Andaru lebih sering menghabiskan waktu di kamarnya, Nuri sibuk dengan pekerjaannya sebagai dokter, sedangkan Mahaka sendiri lebih banyak berada di kampus atau kantor.
Dan Mahesa, hampir tidak pernah meninggalkan jejak. Ia makan setelah semua orang selesai. Ia keluar kamar hanya jika benar-benar perlu. Ia berbicara seperlunya. Bahkan keberadaannya sering kali terasa seperti bayangan yang hanya lewat di sudut rumah, lalu menghilang begitu saja. Ironisnya, tidak seorang pun benar-benar menyadari hal itu. Sampai akhirnya rumah itu benar-benar kehilangan dirinya. Kini, setiap kali Mahaka pulang, justru bayangan Mahesa muncul di tempat-tempat yang dulu tidak pernah ia perhatikan.
Di meja makan yang kursinya selalu dipilih paling ujung. Di rak sepatu yang masih menyisakan sepasang sneakers putih milik adiknya. Di gantungan dekat pintu yang masih tergantung jaket hitam lusuh yang belum sempat dibawa pergi. Semua benda itu masih berada di tempatnya. Seolah pemiliknya hanya sedang keluar sebentar. Padahal Mahaka tahu, Mahesa mungkin tidak akan pernah kembali mengenakannya.
Pikiran itu membuat dadanya kembali terasa sesak. Ia segera menggeleng pelan, memaksa dirinya menghentikan bayangan-bayangan yang terus bermunculan. Malam ini ia tidak punya waktu untuk larut dalam penyesalan. Ia hanya ingin mengambil beberapa barang, lalu kembali ke rumah sakit sebelum Mahesa "sendirian" terlalu lama.
Mahaka melangkah menuju kamarnya. Ransel hitam diletakkannya di atas tempat tidur, kemudian ia mulai memasukkan pakaian ganti dan perlengkapan yang dibutuhkan untuk beberapa hari ke depan. Saat tangannya hendak menutup resleting tas, terdengar ketukan pelan di balik pintu.
"Bang..."
Suara itu begitu pelan, namun cukup untuk membuatnya mengenali siapa pemiliknya.
"Iya, Bun."
Pintu terbuka perlahan.
Nuri masuk sambil membawa dua cangkir teh hangat. Uap tipis masih mengepul dari permukaannya, memenuhi kamar dengan aroma melati yang lembut. Perempuan itu mengenakan pakaian rumah sederhana. Rambutnya yang biasanya tersisir rapi kini dibiarkan tergerai seadanya. Wajahnya tampak jauh lebih letih daripada pagi tadi. Bukan hanya karena seharian bekerja sebagai dokter. Melainkan karena hampir seluruh waktunya dihabiskan di depan ruang ICU, menyaksikan monitor yang terus berbunyi stabil, sementara salah satu anak yang telah dibesarkannya terbaring tanpa kesadaran.
Ia menghampiri Mahaka, lalu menyodorkan salah satu cangkir. "Minum dulu," ucapnya pelan. "Mumpung masih hangat."
Mahaka menerimanya tanpa banyak bicara. "Makasih, Bun."
Ia membawa cangkir itu ke bibirnya, tetapi tidak benar-benar meminumnya. Jemarinya hanya memanfaatkan hangat keramik untuk mengusir dingin yang sejak beberapa hari terakhir terasa menetap di tubuhnya.
Nuri memandangi putra sulungnya dalam diam. Baru beberapa hari lalu Mahaka keluar dari ruang rawat inap karena kelelahan. Lambungnya sempat bermasalah akibat telat makan berhari-hari. Dokter yang menanganinya bahkan menyarankan agar ia beristirahat setidaknya satu minggu. Namun kurang dari dua puluh empat jam setelah diperbolehkan pulang, Mahaka sudah kembali duduk di depan ruang ICU. Seolah tubuhnya tidak lagi menjadi sesuatu yang penting.
KAMU SEDANG MEMBACA
IN
قصص عامةMenepilah. Jika segala tentang hilang terbilang bahagia. Jika segala gundah terbayar suka. Jika hadir bukan lagi pelipur lara.
