《All we need just heal》
_I.N_
▪︎ Merah Berdarah ▪︎
===================================
☘☘☘
Pintu Intensive Care Unit terbuka perlahan. Mahaka melangkah keluar dengan langkah yang jauh lebih berat dibanding saat ia masuk tiga puluh menit lalu. Matanya merah, wajahnya pucat, sementara kedua tangannya masih sedikit bergetar setelah menggenggam tangan adiknya yang bahkan tidak lagi mampu membalas sentuhan itu. Bahkan di hari ketiga. Dokter sudah mengatakan semuanya. Tentang keadaan Mahesa yang mulai mengalami ketidakseimbangan, tentang keadaan Mahesa yang sudah pasti tidak ada harapan dan tentangnya, yang dianggap menyakiti Mahesa. Lagi dan lagi. Namun Mahaka menolak mempercayainya. Baginya, Mahesa hanya sedang tidur. Adiknya sedang beristirahat karena sudah lelah dengan hari-hari belakangan yang anak itu lalui.
Ia baru saja mengembuskan napas panjang ketika melihat sosok yang berdiri tidak jauh dari pintu ICU. Perempuan yang selama sepuluh tahun terakhir ia panggil bunda itu berdiri dengan kedua tangan terlipat di dada. Wajahnya terlihat lelah, tetapi sorot matanya jauh lebih dingin dari pada udara rumah sakit malam itu. Tatapan mereka bertemu. Tak ada pelukan. Tak ada sapaan hangat. Yang terdengar justru satu pertanyaan singkat yang menusuk. Nuri menatap lurus ke arah Mahaka tanpa sedikit pun melembutkan ekspresinya.
"Sudah?"
Mahaka mengangkat wajahnya perlahan. Suaranya serak karena terlalu lama menahan tangis.
Mahaka menghela napas pelan, "Bun..."
Panggilan itu bahkan belum selesai ketika Nuri langsung memotongnya. Perempuan itu menggeleng pelan, seolah sudah terlalu lelah menyimpan kecewa.
"Sudah puas ada di sini?"
Mahaka mengernyit. Ia baru menyadari bahwa Nuri rupanya sudah berada di luar ICU cukup lama. Pandangannya spontan menyapu lorong rumah sakit sebelum kembali kepada perempuan itu.
"Sejak kapan Bunda di sini?"
Pertanyaan itu justru membuat rahang Nuri mengeras. Ada luka yang kembali tersayat hanya karena satu kata sederhana.
"Jangan panggil saya dengan sebutan itu kalau kamu tidak benar-benar menganggap kami keluarga."
Kalimat itu membuat Mahaka membeku beberapa detik. Ia benar-benar tidak mengerti mengapa pembicaraan mereka harus dimulai seperti ini. Mahaka mengusap wajahnya kasar, mencoba mengumpulkan tenaga yang rasanya sudah habis sejak kecelakaan itu terjadi.
"Apa, Bun? Kenapa lagi?" nada suaranya mulai terdengar lelah. "Aku loh baru dari dalam... lihat keadaan adikku."
Belum sempat Mahaka menyelesaikan kalimatnya, suara Nuri meninggi.
"Andaru juga adik kamu!"
Lorong rumah sakit yang semula sunyi mendadak dipenuhi gema suaranya.
"Dia butuh kamu!"
Mahaka memejamkan mata sejenak. Kalimat itu bukan hal baru baginya. Sejak kecelakaan terjadi, ia sudah berkali-kali merasa seperti ditarik ke dua arah yang berbeda. Di satu sisi ada Mahesa, adik kandungnya. Di sisi lain ada Andaru, adik yang ia besarkan selama sepuluh tahun terakhir. Tidak ada yang lebih penting. Tidak pernah ada. Semua sama tinggi di hadapannya. Mahaka membuka matanya perlahan. Suaranya jauh lebih pelan.
KAMU SEDANG MEMBACA
IN
General FictionMenepilah. Jika segala tentang hilang terbilang bahagia. Jika segala gundah terbayar suka. Jika hadir bukan lagi pelipur lara.
