Kasus Penculikan(1)

1.3K 180 26
                                        

Ice dan Faye saling bertukar pandang, mengirimkan sinyal bahaya kepada satu sama lain saat melihat wajah Lingling yang masam. Meskipun sahabat mereka itu sangat ahli menyembunyikan perasaannya, namun untuk sepersekian detik, dia tidak sengaja menunjukkan emosinya beberapa saat yang lalu.

Marissa juga menyenggol lengan Yoko yang sibuk mengunyah di sebelahnya. Gadis hamster itu sepertinya menjadi satu-satunya orang yang tidak menyadari perubahan suasana di meja makan saat ini. 

"Berhentilah makan, lihat sekeliling mu," bisik Marissa kepada kekasih Faye itu.

Meskipun merasa enggan, Yoko tetap mengindahkan permintaan dari temannya itu. Dia mengedarkan pandangan ke sekeliling, beberapa saat bertemu pandang dengan kekasihnya yang duduk tepat di hadapannya, hingga akhirnya pandangannya jatuh ke sebuah pemandangan menarik.

Tate, putera dari kenalan Ayah Orm sekaligus senior Orm di kampusnya, malam ini diundang hadir bersama mereka untuk makan malam di rumah keluarga Ice dan Orm. Pria berdarah campuran Inggris itu duduk di sebelah Orm dan terlihat menaruh sangat banyak perhatian kepada gadis yang lebih muda itu. Sementara di sisi kiri Orm, Lingling tampak sedang menggigit bibir bawahnya sambil memandang ke arah piringnya di atas meja.

"Orm, sini biar aku tambahkan sepotong daging ke piringmu," ucap Tate ramah.

"Eh tidak usah, Kak. Aku sudah kenyang," jawab Orm seraya menyingkirkan piringnya agar tidak bisa digapai oleh pemuda itu.

"Benarkah? Tapi kau masih makan sedikit sekali, ini makanlah lebih banyak," ucap Tate bersikeras menaruh sepotong daging ke piring Orm.

"Terimakasih, Kak," ucap gadis itu canggung.

Orm melirik sekilas ke arah Lingling, dia bisa merasakan bahwa gadis yang lebih tua itu mulai merasa tidak nyaman saat ini. Orm lalu melihat ke arah Ice, mengirimkan sinyal meminta bantuan.

"Siapa yang mengundangmu ke sini?" tanya Ice blak-blakan, membuat ayahnya tersedak hingga terbatuk-batuk.

Marissa yang duduk di sebelah Si Calon Dokter itu segera menatapnya, meminta Ice untuk menjaga sikap di depan tamu. Namun Ice menolak mentah-mentah permintaan itu dengan memandang tajam ke arah Tate.

"Paman bertemu dengan Tate saat menjemput Orm ke sekolah tadi siang. Lalu Paman teringat bahwa malam ini kita akan mencoba alat pemanggang daging yang baru, jadi Paman mengundangnya," jawab Ayah Orm.

"Oh begitu. Aku yakin dia merasa tidak nyaman saat ini karena berada di antara orang-orang yang tidak dia kenal," ucap Ice, masih menatap sinis ke arah Tate.

"Tidak juga, aku senang karena bisa mendapat kenalan baru," ucap Tate sambil tersenyum.

"Kenalan baru? Siapa maksudmu?" 

Faye yang sedang minum hampir menyemburkan air putih yang ada di dalam mulutnya saat mendengar pertanyaan Ice itu. Ibu Ice yang duduk di sebelahnya dengan sigap memberikan beberapa lembar tisu, sambil menepuk-nepuk punggung Faye.

"Aku dengar Nona Ice saat ini sedang menjalani koas di Rumah Sakit Universitas Osaka. Kebetulan, aku punya kenalan di sana. Jadi, kalau Nona Ice merasa kesulitan atau membutuhkan bantuan, silahkan beritahu aku,"

"Memangnya apa yang bisa kau lakukan jika sudah kuberitahu? Menghubungi kenalan mu agar membantu ku?"

"Aku-"

"Terimakasih, tapi aku tidak membutuhkannya. Aku percaya pada kemampuanku sendiri, tidak perlu mengandalkan kekuatan orang dalam yang bahkan tampangnya saja tidak aku kenal," ucap Ice memotong ucapan Tate.

Faye terpaksa menggigit lidahnya sendiri agar tidak tertawa. Terkadang, dia sangat menganggumi ketajaman lidah Ice saat sedang berbicara dengan orang lain yang tidak dekat dengannya. Percayalah, Ice sebenarnya orang yang sangat dingin sama seperti namanya.

Agent 00KTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang