Daging

917 160 46
                                        

Suasana canggung menyelimuti vila sepanjang hari. Nene, yang tidak tahu-menahu soal insiden tadi malam, hanya bisa bertanya-tanya melihat tingkah laku Lingling, Orm, dan Bam yang tampak mencurigakan.

Lingling terlihat sangat sibuk, lebih tepatnya berusaha menyibukkan diri. Setelah selesai sarapan, dia mulai menguras air kolam ikan di halaman depan, menyikatnya sampai mengilap seperti baru dibangun. Setelah itu, tanpa istirahat, dia langsung beralih ke kolam air panas di halaman belakang, seakan sedang melarikan diri dari sesuatu.

Sementara itu, Orm menghabiskan waktu berkutat dengan violinnya. Dari pagi hingga sekarang, vila terus diisi alunan nada yang sama. Nene bahkan mulai bisa menghapal nada dari piece yang Orm mainkan, meskipun dia tidak tahu judulnya.

Di sisi lain, Bam duduk diam sambil bersandar di tempat tidur, dengan mata terpaku ke layar laptopnya, jarinya bergerak dengan lincah di atas keyboard.

"Sebenarnya apa yang terjadi tadi malam?" tanya Nene penasaran, menghampiri Bam lalu duduk di sebelahnya.

Gadis itu tidak memberikan jawaban apapun. Dia hanya menggumam pelan, merasa terganggu dengan kehadiran sosok berisik di dekatnya.

Nene yang merasa tidak puas karena pertanyaannya diabaikan, memutuskan untuk mengintip apa yang sedang dilakukan rekan se-timnya itu. Dahinya seketika berkerut saat melihat Bam ternyata sedang bermain game perang.

"Aku pikir kau sibuk dengan urusan yang penting," ucap Nene sedikit kesal, tapi dia menjadi tertarik dengan permainan yang sedang ditampilkan di layar.

"Ini urusan penting. Aku harus cepat-cepat membangun benteng karena sebentar lagi para penjarah akan datang menyerang," jawab Bam tanpa menoleh.

"Jadi, sejak pagi kau sibuk membangun kerjaan mu ini?" tanya Nene lagi.

"Hmm...begitulah,"

"Apa nama game ini? Sepertinya seru sekali sampai kau bisa duduk selama berjam-jam seperti ini,"

"Stronghold Crusader,"

Nene akhirnya ikut menonton Bam bermain. Satu jam berlalu. Dua jam berlalu. Langit mulai berubah gelap. Mata Nene mulai terasa kering dan lelah, tapi rasa penasarannya semakin besar. Dia bahkan mulai membenci kerajaan musuh Bam, padahal dia hanya menjadi penonton.

ting... tong...

Bagaikan mendengar suara lonceng dari surga, Nene langsung bangkit dan berlari untuk melihat siapa tamu yang baru saja menekan bel. Dia sempat mengintip ke kamar Orm dan melihat bahwa kekasih Lingling itu masih sibuk dengan latihannya. Sepertinya Orm bahkan tidak mendengar ada bunyi bel. 

Nene juga tidak melihat Lingling, yang berarti bahwa gadis yang lebih tua itu masih sibuk menyikat kolam di halaman belakang. 

"Oh, Grace," ucap Nene saat melihat wajah Grace di layar interkom. 

Tanpa berpikir panjang, Nene langsung menekan tombol untuk membuka gerbang. Kemudian dia berlari keluar untuk menyambut tamu mereka itu. 

"こんばんは(Selamat malam)," ucap Grace saat melihat Nene berlari ke arahnya.

"こんばんは," balas Nene bersemangat sambil membuka gerbang agar Grace bisa masuk.

"Apakah kalian sudah makan malam?" tanya Grace.

"Belum. Tuan rumah sangat sibuk hari ini," ucap Nene, mempersilahkan Grace masuk.

"Untunglah. Aku membawa daging dan beberapa sayuran. Kita bisa pesta BBQ bersama," ucap Grace seraya mengangkat beberapa kantong belanja di tangannya.

Mata Nene langsung berbinar. Akhirnya, setelah satu hari yang sangat membosankan, ada hal menarik yang akan terjadi hari ini.

"Kau memang yang terbaik," seru Nene seraya mengacungkan dua jempol ke arah Grace.

Agent 00KTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang