Meja Dapur

1.6K 182 59
                                        

Third Person's POV

Orm memandangi Lingling yang tidur lelap di sebelahnya. Suara dengkuran kecil yang keluar dari mulut kekasihnya itu terdengar sangat menggemaskan. Gadis yang lebih muda itu menyusuri leher dan bahu Lingling yang tersingkap dari balik selimut, merasa bangga melihat tanda-tanda cinta yang sudah dia tinggalkan di sana. 

Orm merapikan beberapa helai rambut Lingling, ingin menikmati wajah tidur tunangannya itu dengan lebih jelas. Namun, sentuhannya ternyata mengganggu petualangan Lingling di alam mimpi. Gadis yang lebih tua itu menggeliat kecil, membenamkan wajahnya ke dada Orm untuk menjemput kembali rasa nyamannya. 

"Kenapa belum tidur?" terdengar suara parau Lingling bertanya.

"Aku belum mengantuk," jawab Orm seraya melingkarkan tangannya di pinggang Lingling dan menariknya lebih dekat.

"Jam berapa sekarang?" tanya Lingling, masih setengah sadar. 

"Jam sebelas malam," 

"Hmm..." Lingling mengusapkan wajahnya di kulit Orm yang lembut, seperti seekor anak kucing yang sedang mencari perhatian induknya. "Aku lapar," ucapnya lalu mengecup lembut dada gadis yang lebih muda.

"Mau makan dulu? Aku akan memasak mie instan," ucap Orm menawarkan.

"Aku mau makan nasi goreng," jawab Lingling sambil menggeleng pelan.

"Oke, aku akan membuatkannya untuk Kakak," ucap Orm seraya melepaskan tangan Lingling yang sedang memeluknya.

Namun gadis yang lebih tua itu menolak, mengeratkan pelukannya. Dahi Orm mengkerinyit, "Kenapa? Aku harus pergi ke dapur untuk memasak. Aku akan segera kembali, hmm?" ucapnya lembut seraya mengelus lengan kekasihnya itu.

"Aku mau ikut ke dapur,"

Orm tersenyum kecil, katanya, "Kenapa? Apakah Kakak tidak mempercayai skill memasakku?" 

"Sedikit," jawab Lingling sambil terkekeh.

"Yasudah, kalau begitu ayo kita pergi bersama,"

Lingling menengadah, melihat Orm sambil memanyunkan bibirnya.

"Kenapa?" heran Orm.

"Perih,"

Alis Orm terangkat kaget. "Apa yang perih?" tanyanya khawatir.

"Itu..."

"Itu?" Orm mengulang, menahan senyum nakalnya.

"Iya," angguk Lingling. "Sepertinya kau terlalu bersemangat tadi. Aku rasa sedikit lecet."

Orm harus menggigit bagian dalam pipinya untuk menahan senyum yang hampir merekah. Wajah Lingling yang mengadu dengan polos begitu menggemaskan hingga rasanya Orm ingin berteriak. 

Apa yang harus Orm lakukan? Haruskah dia menggigit pipi Lingling yang sedang menggembung itu? Atau mengecup setiap sudut wajahnya?

"Bisakah kau mengambilkan baju baru untukku?" tanya Lingling, membuyarkan khayalan di dalam kepala Orm.

"Baju? Untuk apa?" tanya gadis yang lebih muda itu.

"Tentu saja untuk kupakai. Bukankah kita mau pergi memasak ke dapur?"

Orm tersenyum nakal, membuat Lingling langsung merasa waspada. Kenapa tiba-tiba tunangannya tersenyum seperti itu? Dan kenapa bulu kuduknya mendadak berdiri?

"Kenapa Kakak perlu memakai baju? Bukankah hanya ada kita berdua di vila ini?"

"Huh?"

"I mean, I've seen everything..." Orm tersenyum nakal, pandangannya menelusuri tubuh Lingling yang masih terbungkus selimut. "So... there's no need to wear any clothes, right?"

Agent 00KTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang