Jujur

934 158 31
                                        

"Kak Lingling berdoa?"

Orm mengangkat alis, heran. "Hmm? Iya, Kak. Kenapa? Ada yang aneh dengan itu?"

"A-ah, tidak," Grace buru-buru menggeleng. "Aku hanya tidak melihat atribut keagamaan di vila ini, jadi kupikir tuan rumahnya bukan orang yang religius."

"Sudah, mari hentikan pembicaraan ini. Ayo berdoa," ucap Lingling. 

Meskipun merasa sedikit enggan, Lingling akhirnya menerima takdirnya dan memimpin doa sebelum sarapan. Sebenarnya tidak sulit bagi tunangan Orm itu untuk melakukannya, nyatanya dia bahkan bisa merangkai kata demi kata dengan baik. Namun, karena sejak kecil tidak terbiasa melakukannya, terkadang Lingling masih sering merasa canggung saat berdialog dengan Tuhan. 

"いただきます!(Selamat makan!),"

Lingling mengamati semua gadis yang melahap suapan pertama, merasa sedikit gugup menunggu reaksi mereka. "Bagaimana rasanya?" tanyanya, ragu-ragu.

"Ini enak sekali!" seru Nene, sepotong daging hampir melompat keluar dari mulutnya. "Aku tidak tau kalau ada hidangan seenak ini di dunia."

"Kau berlebihan," ucap Lingling, berusaha untuk terlihat biasa saja namun telinganya yang memerah mengkhianatinya.

Bam mengangguk antusias. "Kak, ini benar-benar enak. Ini adalah hidangan labu terenak yang pernah kumakan seumur hidupku," ucapnya.

"Jangan berbicara saat makan," ucap Lingling, mengusap tengkuknya yang tidak terasa gatal.

Orm tersenyum melihat tingkah laku tunangannya yang malu-malu. Lingling sangat jarang memperlihatkan sisinya yang menggemaskan ini. Andai saat ini hanya ada mereka berdua di sana, maka Orm pasti sudah mencium kekasihnya itu. 

"Grace, bagaimana? Apakah makanannya cocok di lidahmu?" tanya Lingling, beralih kepada gadis yang duduk di sebelah Orm. 

Gadis itu terdunduk, rambutnya yang sepanjang bahu menutupi wajahnya. Orm bisa melihat Grace menarik napas dalam sebelum mengangkat kepalanya, lalu tersenyum ke arah Lingling.

"Ini enak sekali, Kak," jawabnya.

Lingling mengambil sepotong daging dari mangkuk dan meletakkannya di piring Grace. "Makanlah yang banyak."

"ありがとう、お姉さん(Terimakasih, Kak),"

Orm, Bam dan Nene seketika menghentikan proses mengunyah mereka. Apa yang dikatakan Grace barusan? Dia memanggil Lingling dengan sebutan apa? Kakak? 

Namun saat melihat reaksi Lingling yang biasa saja, mereka memutuskan untuk tidak bertanya. Mungkin Grace adalah seseorang yang sangat ramah dan mudah merasa dekat dengan orang lain, jadi dia terbiasa memanggil seseorang yang lebih tua dengan panggilan itu. 

"Sebagai orang yang sudah lebih dulu tinggal di sini, apakah kau punya rekomendasi tempat yang bagus untuk dikunjungi?" tanya Nene, membuka kembali pembicaraan yang sempat terhenti selama beberapa waktu.

"Rekomendasi tempat?" 

"Iya. Vila Kak Lingling ini memang sangat nyaman untuk ditinggali. Tapi sepertinya aku sudah akan merasa bosan besok. Jadi, aku ingin keluar dan berpetualang. Jarang sekali aku mendapat kesempatan untuk bersentuhan dengan alam," 

Grace mengangguk pelan. "Di dekat sini ada 竹林の小径(Jalur Hutan Bambu). Jalurnya membentang di sepanjang Sungai Katsura, melewati mata air panas Tokko-no-Yu hingga Jembatan Katsura dan Jembatan Kaede. Ada kuil Shuzenji juga, taman alam di sekelilingnya sangat indah," ucapnya, mencoba untuk mengingat-ingat beberapa tempat menarik yang ada di sekitar mereka.

 Ada kuil Shuzenji juga, taman alam di sekelilingnya sangat indah," ucapnya, mencoba untuk mengingat-ingat beberapa tempat menarik yang ada di sekitar mereka

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Agent 00KTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang