Cahaya matahari menembus masuk dari celah gorden jendela, menciptakan corak hangat di atas selimut tipis yang membungkus dua sosok di atas tempat tidur.
Orm menggeliat pelan, matanya yang masih berat berusaha membuka. Dia mendapati dirinya sedang berada di dalam dekapan Lingling, kekasihnya yang masih tertidur lelap.
Lingling terlihat damai, napasnya teratur, dan bibirnya sedikit terbuka seolah sedang mengigau. Orm menatap wajah itu sambil tersenyum tipis, merasa enggan untuk bergerak.
tok tok...
"Kak Ling? Orm? Sarapan sudah siap," terdengar suara Grace dari balik pintu.
Dengan gerakan secepat kilat, Orm melompat dari tempat tidur, mengenakan mantel tidurnya, lalu buru-buru membukakan pintu.
"おはよう(Selamat pagi)," sapanya dengan suara sedikit serak.
"おはよう. Apakah tidurmu nyenyak, Orm?" tanya Grace, tersenyum lembut.
"Iya, Kak. Sangat," jawab Orm sambil mengucek matanya.
"Apakah Kak Lingling sudah bangun? Dia baik-baik saja?"
Orm menoleh ke arah tempat tidur. Lingling meringkuk di bawah selimut, masih sangat pulas mengarungi dunia mimpi.
"Kak Lingling selalu kesulitan bangun di pagi hari kalau dia minum-minum. Aku akan membangunkannya sebentar lagi. Nanti kami menyusul ke ruang makan, Kak,"
"Oh, baiklah. Tidak perlu terburu-buru. Walaupun aku bilang sarapan sudah siap, menu utamanya masih belum selesai dimasak Kak Ice,"
Mata Orm seketika terasa segar saat mendengar nama kakak sepupunya itu disebut. Apa katanya? Seorang Ice memasak?
"Kak Ice memasak?" tanya Orm hampir menjerit.
Grace mundur selangkah, sedikit kaget dengan perubahan wajah Orm yang drastis. "Iya, Kak Ice menawarkan diri untuk menyiapkan sarapan kita pagi ini," ucapnya mengangguk pelan.
Tanpa mengatakan apapun, Orm langsung berlari menuju dapur. Dia mendapati Ice sedang bersiul-siul sambil mengaduk-aduk sesuatu di dalam panci.
"APA YANG KAKAK LAKUKAN DI SINI?"
Suara Orm yang melengking membuat Ice nyaris menjatuhkan spatula kayu di tangannya. Dia menoleh dengan dahi berkerut.
"Matamu bermasalah? Katarak di matamu perlu di laser? Kau tidak bisa melihat aku sedang memasak?" balas Ice, menatap adik sepupunya dengan bingung dan sedikit kesal.
"Kak Ice memasak? Tidak mungkin!" sergah Orm, tangannya menyambar sebuah spatula yang terletak di atas meja dapur. Matanya menyipit curiga.
"Siapa kau? Keluar dari dalam tubuh Kakak ku sekarang juga!" ucapnya seraya mengacungkan spatula itu ke arah Ice.
"Heh, bocah! Kau masih mabuk ya?" Ice mengibas-ngibaskan tangannya dengan malas. "Pergilah sana! Jangan menggangguku."
Grace datang terburu-buru, matanya membelalak melihat Orm dan Ice yang sekarang saling mengarahkan spatula satu sama lain seperti dua samurai dalam duel hidup dan mati.
"Ada apa ini? Kalian kenapa?" tanya Grace agak takut.
"Kak Grace, berlindunglah di belakangku!" seru Orm tegang. "Jangan dekati dia. Kak Ice sedang kerasukan hantu!"
"Huh? Kerasukan hantu? Apa maksudmu, Orm?" Grace menatap Orm seperti sedang berhadapan dengan orang gila.
"Kak Ice yang kukenal tidak pernah menginjakkan kakinya di dapur kecuali untuk mengambil makanan. Jadi, tidak mungkin orang yang sedang kita lihat ini adalah Kak Ice," ucap Orm menjelaskan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Agent 00K
FanfictionKehilangan satu paru-paru tidak akan menghentikan ku untuk mencintai mu dalam setiap hembusan napas ku Lingling Kwong
