Orm terbangun saat mendengar suara grasak-grusuk dari ruang tamu. Gadis itu dengan perlahan membuka matanya, menemukan bahwa kamar masih berada dalam keadaan gelap gulita dengan gorden yang tertutup rapat.
Dia menoleh ke samping, mencari keberadaan tunangannya, namun tempat tidur di sebelahnya kosong. Adik sepupu Ice itu mengulurkan tangannya, meraih jam weker yang terletak di atas nakas. Dia menemukan bahwa sekarang jarum panjangnya menunjuk ke arah angka lima.
Dengan langkah pelan, dia bangkit dari tempat tidur dan keluar kamar untuk mencari tahu siapa yang membuat keributan di pagi buta seperti ini.
"Kak Ling," panggilnya saat melihat Lingling sedang menggantungkan sebuah figura foto ke dinding. "Apa yang sedang Kakak lakukan?"
Lingling menoleh dan tersenyum. "Orm, kau sudah bangun? Maaf, aku terlalu berisik ya?"
Orm menggeleng pelan, merentangkan tangannya, memberi isyarat kepada Lingling untuk masuk ke dalam pelukannya. Dan dengan senang hati Lingling mengindahkan permintaan kekasihnya itu. Mereka berpelukan untuk beberapa saat, menikmati keberadaan satu sama lain.
"Masih mengantuk, hmm? Kembalilah tidur," ucap Lingling lembut seraya mengelus punggung Orm.
"Kenapa Kakak bangun sepagi ini? Apa yang Kakak lakukan?" tanya Orm, melepaskan pelukan mereka.
Lingling terkekeh, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Orm mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruang tamu. Dia menemukan beberapa fotonya bersama Lingling sudah terpajang rapi, tergantung di dinding yang kemarin masih polos.
"Aku ingin membuat vila ini terasa seperti rumah," ucap Lingling dengan senyuman hangat. "Aku yakin kau merasa tidak nyaman karena harus pindah ke sini tiba-tiba. Aku juga sudah meminta Nene untuk membawakan violin mu. Kau bisa bermain lagi nanti."
"Kak Ling..."
"Maafkan aku, kau harus datang ke sini untuk ikut bersamaku. Aku berjanji akan membuatmu merasa senyaman mungkin selama tinggal di sini. Katakan saja kalau kau membutuhkan atau menginginkan sesuatu, aku akan berusaha untuk memenuhinya," ucap Lingling dengan senyumannya yang khas.
Hati Orm seketika dipenuhi dengan kehangatan. Lingling memang tidak pernah gagal membuatnya merasa berharga. Setiap tindakan dan perkataan dari Lingling, selalu berhasil membuat cinta di dalam hati Orm tumbuh semakin besar.
Gadis yang lebih muda itu menarik napas dalam-dalam, berusaha menghentikan air mata yang hampir keluar dari pelupuk matanya. Dia menghampiri Lingling dan langsung menghempaskan dirinya masuk ke dalam dekapan Lingling yang hangat.
"Aku sama sekali tidak merasa tidak nyaman, Kak," ucapnya lirih. "Aku justru sangat bahagia karena bisa menghabiskan waktu bersama Kakak di sini."
"Terimakasih, terimakasih karena sudah mencintaiku sebesar ini. Aku tau Kakak pasti jauh lebih kesulitan dibandingkan aku, tapi Kakak masih saja memikirkan perasaaanku,"
Lingling tersenyum, mengeratkan pelukannya. "Aku mencintaimu, Nona kecil. Aku tidak akan membiarkanmu hidup dalam rasa tidak nyaman meskipun hanya satu hari."
"Bersabarlah, hmm? Aku akan berusaha agar kita bisa kembali ke kehidupan kita seperti biasa,"
Orm mengangguk, membenamkan wajahnya di ceruk leher Lingling. Dekapan Lingling adalah satu-satunya tempat dimana Orm merasa aman dan nyaman. Tidak peduli dimana mereka berada saat ini, selama dia bisa memeluk tunangannya itu, maka Orm percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Kedua gadis itu berpelukan cukup lama hingga Lingling menjadi yang pertama untuk melepaskannya. "Kembalilah tidur hmm?" ucapnya seraya mengelus pucuk kepala Orm.
KAMU SEDANG MEMBACA
Agent 00K
FanfictionKehilangan satu paru-paru tidak akan menghentikan ku untuk mencintai mu dalam setiap hembusan napas ku Lingling Kwong
