Rahasia

1.1K 196 56
                                        

Third Peron's POV

"Bukankah ayah sudah menitipkan aku kepada Kakak? Apakah Kakak mau mengingkari janji yang sudah Kakak buat dengan ayah?" ucap Orm di antara isak tangisnya, seraya mencengkeram erat lengan Lingling.

"Aku sudah menjadi milik Kakak. Kita sudah bertunangan, ingat? Kakak bahkan sudah berjanji bahwa kita akan menikah setelah kasus ini selesai,"

"Kasusnya sudah selesai, Kak Ling! Kita seharusnya sedang mempersiapkan pernikahan kita, bukannya mengakhiri hubungan ini!" Orm hampir berteriak, air mata mengalir deras di kedua pipinya.

"Kak..."

Lingling tiba-tiba berhenti menangis. Dengan gerakan cepat, dia menghapus air matanya. Wajahnya yang sebelumnya terlihat putus asa berubah menjadi tenang, terlalu tenang. 

Orm, yang melihat perubahan mendadak itu, ikut berhenti menangis. Dia tau bahwa sesuatu sedang terjadi di dalam kepala Lingling. Gadis yang lebih tua itu baru saja membuat sebuah keputusan.

"Orm," panggil Lingling, nada suaranya hangat dan tenang, sama seperti biasanya.

"Iya, Kak?"

"Apakah kau mempercayaiku?"

Orm mengangguk cepat, "Tentu saja, Kak. Kakak adalah orang yang paling aku percaya di dunia ini."

Lingling terdiam sesaat sebelum melanjutkan. "Apakah kau akan memaafkanku kalau tau bahwa aku sudah menyimpan beberapa rahasia selama ini?" 

Dahi Orm berkerut. Apa lagi yang hendak disampaikan gadis yang lebih tua ini?

"Tergantung rahasia apa yang Kakak simpan. Kalau Kakak ternyata berselingkuh di belakangku, bersiap-siaplah untuk mengucapkan selamat tinggal kepada dunia," jawab Orm santai, mencoba untuk bercanda padahal dia merasa takut akan rahasia yang akan Lingling sampaikan.

Gadis yang lebih tua itu terkekeh. Dia mengulurkan tangan, menautkan jemari mereka. "Kalau begitu, ayo, pergi ke dunia orang mati bersamaku." 

Sebelum Orm sempat memberi jawaban, teman Ice itu mulai menuntunnya pergi dari Kantor Kepolisian Prefektur Osaka. Mereka berdua keluar dari pintu belakang rahasia, yang menurut Lingling hanya diketahui oleh beberapa orang saja. 

"Bagaimana dengan motor Kakak? Kita akan meninggalkannya begitu saja?" heran Orm saat mereka berjalan menjauh, meninggalkan gedung yang pernah menjadi tempat Lingling bekerja itu.

"Aku bisa menjemputnya nanti," jawab Lingling sambil terus berjalan dengan langkah cepat.

"Lalu bagaimana caranya kita pergi ke dunia orang mati seperti yang Kakak bilang tadi?" 

Lingling menoleh sekilas dan tersenyum. "Kau akan mengetahuinya sebentar lagi," ucapnya.

Mereka berjalan menelusuri gang-gang sempit yang berbau persing. Orm merasa heran, mereka tidak bertemu dengan satu orangpun selama perjalanan. "Kita tidak sedang tersesat kan Kak?" tanyanya khawatir.

"Heheh, tidak kok. Aku sudah latihan berjalan ke sana puluhan kali hingga akhirnya aku bisa menghapal semua rutenya. Meskipun kita tersesat, aku pasti sudah pernah melewati jalan ini setidaknya satu kali," jawab Lingling seraya menoleh singkat ke arah tunangannya.

"Latihan?"

"Iya, untuk bersiap-siap jika hari seperti ini datang,"

Orm ingin bertanya lebih lanjut, namun dia mengurungkan niatnya. Dia fokus memperhatikan jalan yang sedang mereka lewati, merasa bingung saat melihat ada wilayah kumuh dan kotor seperti ini di tengah kota.

Setelah berjalan sekitar setengah jam, mereka akhirnya tiba di sebuah garasi mobil yang tampak sudah lama ditinggalkan. Bangunan itu terlihat sangat kumuh dengan rumput setinggi pinggang tumbuh di sekelilingnya. 

Agent 00KTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang