Orm memandang bosan ke arah TV yang menyala di depannya. Tangannya menggenggam remote, sibuk menekan tombol, berpindah dari satu saluran ke saluran lain tanpa benar-benar memperhatikan apa yang ditayangkan. Setelah beberapa menit, dia akhirnya menyerah, mematikan TV, lalu merebahkan diri di sofa.
Lingling, Bam dan Nene sejak pagi masuk ke dalam ruang kerja Lingling untuk membahas strategi agar mereka bisa segera kembali ke Osaka. Setidaknya itulah yang dikatakan Lingling kepadanya tadi. Tunangannya itu juga mengatakan bahwa mereka mungkin tidak akan keluar dari sana seharian, jadi Orm tidak perlu menunggu mereka untuk makan siang dan malam.
"Aku bosan," gumam Orm kepada dirinya sendiri.
Gadis itu melirik ke arah jam dinding, menemukan bahwa sekarang sudah hampir jam tujuh malam. "Aku lapar," ucapnya sambil memegangi perutnya yang mulai keroncongan.
Orm akhirnya memutuskan untuk bangkit dan pergi ke dapur, melihat apakah ada makanan yang bisa dia makan. Dia melewatkan waktu makan siang dengan tidur, jadi selain sarapan belum ada makanan lain yang masuk ke dalam perutnya sepanjang hari.
"Kak Lingling membeli sangat banyak stok makanan kemarin. Dimana dia menyimpan camilan, ya?" tanya Orm sambil membuka lemari persediaan.
Namun Orm tidak kunjung menemukan apa yang dia cari. Dia tidak melihat tanda-tanda kehadiran camilan apapun di dapur. Gadis itu memutuskan untuk membuka kulkas, berniat mengambil sebuah pir yang tersimpan di sana.
Senyuman seketika merekah di wajah Orm saat melihat dua kotak tempat makan tersusun rapi di rak teratas kulkas. Selembar sticky note tertempel di salah satu tutup kotak makan itu.
"Hangatkan tiga menit di microwave sebelum dimakan. Lauk di kotak ini adalah ikan saus asam manis, dan yang satunya adalah udang cabai garam yang tidak pedas," Orm membaca tulisan tegak bersambung yang tertulis di selembar kertas itu.
Orm mengelus lembut nama Lingling yang tertulis di sudut kanan bawah kertas dengan ibu jarinya. Kekasihnya itu benar-benar orang yang penuh persiapan. Kalau Orm tau Lingiing sudah memasak untuknya, dia pasti tidak melewatkan makan siang tadi.
Orm memilih kotak dengan lauk ikan saus asam manis dan menghangatkannya di microwave, sesuai dengan arahan Lingling. Aroma masakan Lingling mulai mengudara di dapur, memancing reaksi heboh para cacing yang tinggal di dalam perutnya.
Satu menit tersisa saat Orm mendengar suara bel pintu gerbang berbunyi. Gadis itu buru-buru pergi ke pintu depan, dimana video door phone yang sudah Lingling instal untuk mengelola gerbang terpasang di dinding.
"Siapa yang datang bertamu jam segini?" gumam Orm.
Orm melihat wajah tamunya yang ditampilkan di dalam layar. Dahinya seketika berkerut, dia tidak mengenal gadis yang sedang berdiri di depan gerbang itu. Apakah dia adalah kenalan Lingling? Tapi Lingling tidak ada meninggalkan pesan apapun sebelumnya. Kalau ada tamu yang akan datang, Lingling pasti memberitahunya.
Lalu siapa gadis itu?
"Permisi,"
Orm terperanjat saat tamu itu tiba-tiba berbicara. Suaranya terdengar sangat jelas melalui speaker interkom.
"Aku dari supermarket yang ada di dekat sini. Aku datang untuk mengantarkan pesanan sayur dan buah atas nama Lingling Kwong," ucap tamu itu memperkenalkan diri.
"Sayur dan Buah?"
Orm mengernyit, sedikit terkejut. Lingling memesan persediaan makanan? Padahal mereka masih punya cukup banyak bahan di dapur.
"Oh, baiklah. Tunggu sebentar," ucap Orm sebelum menekan tombol untuk membuka gerbang.
Orm cepat-cepat mengenakan sandal lalu keluar untuk menjemput barang pesanan kekasihnya itu. Dia berlari kecil, takut membuat tamunya menunggu terlalu lama.
KAMU SEDANG MEMBACA
Agent 00K
Hayran KurguKehilangan satu paru-paru tidak akan menghentikan ku untuk mencintai mu dalam setiap hembusan napas ku Lingling Kwong
