"Bagaimana ini, Ne?"
"Apa yang harus kulakukan kepadamu?"
Nene terus melangkah mundur, detak jantungnya berdebar kencang hingga terasa menusuk telinga. Hingga akhirnya, punggungnya menyentuh dinding. Tidak ada lagi ruang untuk mundur. Di titik ini, Nene bahkan tidak yakin apakah dia masih bisa melihat matahari terbit besok pagi.
Dia memang belum pernah membaca dokumen yang menyatakan bahwa Lingling pernah membunuh sebelumnya, tapi dengan pandangan Lingling yang terarah padanya saat ini, Nene yakin bahwa gadis yang lebih tua itu bisa melakukannya kalau dia mau.
"Kak Ling, maafkan aku," Suara Nene sangat lirih hingga terdengar seperti bisikan. Hanya inilah kalimat yang bisa dia ucapkan dengan bermodalkan keberanian yang tersisa di dalam dirinya.
Lalu, sesuatu yang tidak terduga terjadi.
Lingling tertawa.
Tawanya terdengar sangat puas, seolah perkataan Nene barusan adalah sebuah lelucon yang sangat lucu. Lingling bahkan sampai memegangi perutnya yang terasa sakit karena terlalu banyak tertawa.
Nene membeku. Dia belum pernah melihat Lingling tertawa seperti ini sebelumnya. Dan justru karena itu, ketakutannya semakin menjadi-jadi.
"Wajahmu serius sekali," Lingling akhirnya bersuara, menarik napas panjang untuk menenangkan diri.
"H-huh?"
"Kemarilah, pekerjaan kita belum selesai," ucap Lingling, melangkah kembali ke alat pemanggang. "Dagingmu sudah gosong semua, Ne."
Nene menatap punggung Lingling, pikirannya berputar liar. Apakah dia harus menuruti perintah itu? Atau ini adalah kesempatan untuk kabur?
Namun, tubuhnya sudah menentukan pilihan. Kakinya bergerak tanpa perintah, membawanya kembali ke sisi Lingling.
"Buang saja yang gosong. Jangan sampai Grace melihatnya," ucap Lingling saat Nene kembali berdiri di sebelahnya.
Nene pun melakukan apa yang diperintahkan rekan se-timnya itu. Dengan perlahan dia mulai memasukkan potongan-potongan daging yang hangus ke dalam sebuah plastik sampah yang sebelumnya sudah Lingling sediakan.
"Keluarga Takanashi memang menjadi salah satu pelopor terbentuknya kelompok yakuza itu," ucap Lingling, membuat Nene sedikit tersentak.
"Tapi, keluarga mereka memutuskan untuk keluar dari sana pada generasi sebelum kakek Orm. Alasan mereka melakukannya tidak diketahui, tapi sejak saat itu, hubungan antara Keluarga Takanashi dan Yakuza Yamazaki dinyatakan putus sepenuhnya,"
"Apakah kau tidak menemukan informasi itu?" tanya Lingling, melirik sekilas ke arah Nene.
"Ti-tidak, Kak," jawab Nene dengan suara gemetar.
Lingling menggumam pelan, lalu berkata, "Keluar dari kelompok yakuza itu bukan berarti dosa-dosa mereka dihapuskan, kan? Bagaimana menurutmu?"
Nene mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Dia tidak tau apakah dia harus menjawab pertanyaan itu atau tidak. Dan kalaupun harus, jawaban apa yang harus dia katakan? Jawaban seperti apa yang ingin Lingling dengar?
"Kenapa kau jadi pendiam? Ini tidak seperti kau yang biasanya," ucap Lingling lalu terkekeh.
Gadis yang lebih muda itu hanya menunduk. Tangannya yang gemetaran masih sibuk membuang daging yang gosong.
"Kalau kau tidak bisa mengendalikan rasa ingin tau mu..."
"... kau mungkin akan berakhir seperti daging-daging itu," ucap Lingling. Suaranya terdengar tenang, tapi orang yang mendengarnya langsung merasa sesak dan kesulitan bernapas.
KAMU SEDANG MEMBACA
Agent 00K
FanficKehilangan satu paru-paru tidak akan menghentikan ku untuk mencintai mu dalam setiap hembusan napas ku Lingling Kwong
