"ただいま...(Aku pulang),"
Lingling berbisik lembut, menutup pintu kamar sepelan mungkin. Senyuman mengembang di wajahnya saat melihat Orm yang tertidur meringkuk, menghadap layar laptop yang masih menyala.
Gadis yang lebih tua itu menghampiri kekasihnya, menutup laptop lalu memindahkannya ke atas meja kerja. Lingling menahan napas sesaat saat Orm bergerak pelan mengubah posisi.
"Lingling Kwong..." gumam Orm dalam tidurnya.
Senyuman hangat kembali merekah di wajah Lingling, "Ya Orm, aku di sini," ucapnya lembut.
Lingling memindahkan kursi di sebelah nakas ke sisi tempat tidur, duduk di sana sambil memandang wajah Orm yang tertidur pulas. Dia mengulurkan tangan, meraih tangan kiri tunangannya lalu menggenggamnya erat.
Cahaya rembulan menyusup masuk dari jendela yang tirainya belum tertutup, menyinari keduanya dalam keheningan yang lembut. Sesekali terdengar suara jangkrik dari luar, seolah ingin mengajak Lingling berbicara, membahas betapa indahnya pemandangan yang mereka lihat saat ini. Jangkrik dengan langit dan bintang-bintangnya, Lingling dengan kekasihnya.
Helaan napas yang terlepas dari mulut Lingling menjawab ajakan para jangkrik itu. Dia sedang enggan untuk berbincang. Kepalanya sibuk menguraikan bermacam-macam hal. Hatinya sedang kelu, diterjang terlalu banyak perasaan.
Lingling sedang ingin menenggelamkan dirinya ke dalam keheningan, membenamkan kepalanya di bawah permukaan sunyi. Dia hanya ingin menikmati waktu melangkah dengan perlahan, sambil berpegangan pada Orm agar kewarasannya tidak ikut pergi bersama detik jam yang terus berputar.
Jangkrik-jangkrik dari luar jendela awalnya bersikeras, memaksa Lingling bergabung bersama mereka. Namun, seiring dengan malam yang semakin pekat, mereka akhirnya undur diri. Memberikan ruang kepada kekasih Orm itu untuk menikmati kesendirian.
Berjam-jam sudah berlalu tanpa Lingling sadari. Dia terlalu menikmati dengkuran kecil yang terlepas dari mulut Orm, tangannya yang hangat, serta wajahnya yang tampak damai dan tenang.
Namun kesunyian itu harus terganggu saat Lingling tersentak kaget, merasakan getaran teratur dari dalam sakunya. Dia menghembuskan napas kasar. Siapa yang datang mengganggunya selarut ini? Kabar apa lagi yang akan membuat dadanya terasa sesak, dibakar rasa tidak nyaman?
Lingling memutuskan untuk mengabaikan panggilan itu, memohon dalam hati agar siapapun yang ada di ujung sana menyadari bahwa dia tidak sedang ingin diganggu. Malam ini saja, satu malam ini saja, Lingling ingin menghabiskannya tanpa perlu berlindung di belakang tembok waspada.
Namun, panggilan kedua datang. Memaksa Lingling untuk meletakkan tangan Orm ke sisi tubuhnya dan bangkit berdiri, perlahan keluar dari kamar untuk menghentikan getar ponsel yang keras kepala itu.
Dahinya berkerut saat melihat nomor tidak dikenal muncul di layar ponselnya.
"もしもし (Halo)," ucapnya seraya duduk di sofa ruang tamu, berusaha menyembunyikan rasa kesal dan jengkelnya di balik suara yang tenang.
Namun, setelah mendengar suara si penelpon, tubuh Lingling spontan duduk dengan tegak. Tangan kanannya mengepal di atas paha, wajahnya yang semula santai berubah serius dalam sekejap.
"Ah! こんばんは。お疲れ様です。(Selamat malam. Terimakasih atas kerja kerasnya.)" ucapnya sambil menunduk memberi salam, meskipun tau si penelpon tidak bisa melihatnya.
Keheningan mengisi celah udara di ruang tamu. Lingling diam selama beberapa saat, mendengarkan perkataan-perkataan dari ujung panggilan yang lain dengan seksama.
"お手数をおかけしまい、申し訳ありませんでした。(Maaf sudah merepotkan.)" ucapnya kembali menunduk sopan. "困難な状況にあり、あの対応を取らなければ、大変なことになる可能性があるので...(Situasinya sulit, kalau aku tidak mengambil tindakan itu, ada kemungkinan terjadi hal yang tidak diinginkan...)"
KAMU SEDANG MEMBACA
Agent 00K
FanfictionKehilangan satu paru-paru tidak akan menghentikan ku untuk mencintai mu dalam setiap hembusan napas ku Lingling Kwong
