Cahaya bulan menembus masuk dari jendela, menjadi satu-satunya penerangan bagi seorang gadis yang sedang duduk diam di depan meja komputernya. Kaki kanan gadis itu bergerak naik-turun dengan cepat, sedangkan jemari tangannya mengetuk-ngetuk meja dengan tidak sabar.
Lingling melonjak bangkit saat mendengar suara statis dari ponsel yang sedaritadi dia tempelkan di telinga kirinya. Gadis itu melangkah cepat ke arah jendela, membukanya agar udara malam yang sejuk bisa masuk ke dalam ruangan yang terasa pengap.
"Halo, Faye?"
"Ling,"
Lingling menghela napas lega saat mendengar suara sahabatnya yang sudah sejak dua bulan yang lalu tidak dia dengar. "Kau baik-baik saja?" tanyanya, tanpa sadar menggigit bibir bawahnya.
"Tentu saja. Kau menyelamatkan ku, kan?"
Faye terkekeh pelan, tawa khas yang sudah sangat sering Lingling dengar. Tapi di sela-sela suara itu, ada sesuatu yang janggal. Samar, nyaris tidak terdengar, Faye meringis menahan rasa sakit. Lingling langsung menyadari bahwa sahabatnya itu sedang berusaha menyembunyikan keadaannya yang sebenarnya.
"Aku berutang nyawa lagi kepadamu, teman," ucap Faye, nada suaranya terdengar sangat tulus.
"Jangan pikirkan tentang itu. Sudah seharusnya aku membantumu,"
Kedua gadis itu terdiam untuk beberapa saat. Lingling memandang ke luar jendela, matanya terpaku pada bulan purnama yang sedang bersinar dengan sangat terang. Benang ingatan membawanya kembali ke waktu itu, empat belas tahun yang lalu. Saat itu, bulan juga tampak seindah malam ini.
"Jadi... kau sudah bertemu dengannya?" ucap Faye. Ada setitik keraguan di nada suaranya.
Lingling mengangguk, menghembuskan udara yang mengisi paru-parunya dengan perlahan. "Sudah."
"Bagaimana? Dia pasti sudah besar sekarang,"
Antusiasme dalam suara Faye membuat Lingling terkekeh. Dia yakin, sahabatnya itu pasti sedang tersenyum sangat lebar saat ini.
"Iya, dia sudah tumbuh menjadi gadis yang manis. Walaupun tatapannya masih tajam seperti dulu,"
"Wuah! Aku sangat merindukannya. Aku ingin memeluknya. Dulu aku sering menggendongnya waktu masih bayi, kau ingat?"
Lingling tertawa kecil. "Iya, aku ingat."
"Apakah sekarang dia sudah lebih tinggi dariku?"
"Sepertinya kau masih sedikit lebih tinggi," jawab Lingling, membayangkan Faye yang pasti akan membandingkan tinggi badannya dengan gadis itu jika mereka bertemu.
Tawa Faye pecah di ujung telepon, membuat Lingling tidak bisa menahan dirinya untuk ikut tertawa juga. Padahal sebenarnya, tidak ada yang lucu dari pembahasan mereka itu. Mungin karena sudah lama tidak berbincang dengan santai seperti ini, atau karena suasana tenang yang diberikan malam, Lingling merasa sangat nyaman.
"Apakah kau sudah memberitahunya tentang rencana kita?"
"Secara garis besar, sudah. Aku belum punya waktu untuk membahas detailnya,"
"Begitu ya..."
"Untuk sementara biar begini dulu. Aku juga masih mau menikmati suasana di sini,"
"Yah, ini waktu yang tepat untuk mu beristirahat, Ling. Kau sudah bekerja keras selama bertahun-tahun,"
Lingling tersenyum tipis. "Faye," panggilnya.
"Iya?"
"Meskipun Grace sudah mengutus beberapa anggotanya untuk melindungimu, kau tetap harus berjaga-jaga. Kita tidak tau apa yang orang-orang brengsek itu rencanakan,"
KAMU SEDANG MEMBACA
Agent 00K
FanfictionKehilangan satu paru-paru tidak akan menghentikan ku untuk mencintai mu dalam setiap hembusan napas ku Lingling Kwong
